Di sebuah warung kopi kecil di Klandasan Ulu, Balikpapan Kota, percakapan pagi itu terdengar seperti Indonesia dalam versi mini. Logat Bugis bercampur Jawa, diselingi bahasa Banjar, kadang terselip dialek Toraja.
Di kota ini, pertanyaan “asli mana?” seringkali tak punya jawaban tunggal.
Anwar (46), warga yang sudah tinggal lebih dari dua dekade di Balikpapan, mengaku dirinya bukan orang asli kota ini. Ia lahir di Sulawesi, lalu merantau mengikuti orang tuanya.
“Di sini hampir semua pendatang. Saya dari Bugis, tetangga Jawa, depan rumah orang Banjar,” katanya.
Balikpapan memang dikenal sebagai kota yang tumbuh dari arus migrasi. Pemerintah Kota Balikpapan mencatat, besarnya jumlah pendatang membuat kota ini sangat heterogen, bahkan terdapat lebih dari 100 kelompok etnis atau paguyuban yang hidup berdampingan.
Mosaik Suku di Kota Minyak
Tak seperti kota lain yang punya identitas etnis dominan, Balikpapan justru berdiri di atas keberagaman.
Data perencanaan daerah menunjukkan, komposisi penduduknya didominasi pendatang dari berbagai daerah. Sekitar 30 persen berasal dari Jawa, disusul Banjar dan Bugis masing-masing sekitar 20 persen, lalu Toraja, Madura, hingga Buton.
Lasno (42), pekerja logistik di kawasan pelabuhan, adalah bagian dari arus itu. Ia datang dari Jawa Timur sepuluh tahun lalu, tertarik oleh peluang kerja di kota minyak.
“Awalnya cuma mau kerja beberapa tahun, tapi akhirnya menetap. Di sini semua orang seperti sama-sama merantau,” ujarnya.
Menyatu dalam Kesamaan Nasib Perantau
Menurutnya, tidak ada sekat yang terlalu kuat antarsuku. Yang lebih terasa justru kesamaan nasib sebagai perantau.
“Kalau kumpul, nggak peduli asalnya. Yang penting kerja dan hidup,” kata Anas.
Di sisi lain kota, Anun (29), karyawan toko di Sepinggan, melihat Balikpapan sebagai tempat yang netral.
Ia lahir di kota ini, tapi orang tuanya berasal dari dua daerah berbeda, ayah dari Jawa, ibu dari Kalimantan Selatan.
“Saya bingung kalau ditanya orang asli mana. Lahir di sini, tapi darah campur,” ujarnya sambil tersenyum.
Fenomena itu bukan hal baru. Seiring pertumbuhan kota yang pesat, Balikpapan menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah. Jumlah penduduknya pun terus meningkat, mencapai lebih dari 700 ribu jiwa dalam beberapa tahun terakhir menurut data Badan Pusat Statistik.
Pertumbuhan ini tidak hanya menambah jumlah warga, tapi juga memperkaya identitas kota.
Menjaga Harmoni di Tengah Keberagaman
Keberagaman di Balikpapan bukan tanpa tantangan. Namun hingga kini, kota ini dikenal relatif kondusif.
Paguyuban-paguyuban etnis justru menjadi jembatan sosial yang menjaga keseimbangan. Dari komunitas Bugis, Jawa, hingga Toraja, semua punya ruang untuk tetap mempertahankan budaya masing-masing, tanpa menghilangkan identitas kota.
Ripai merasakan itu dalam kehidupan sehari-hari.
“Di sini nggak pernah merasa beda. Semua orang pendatang, jadi saling ngerti,” katanya.
Magnet Baru Sambut Ibu Kota Nusantara
Balikpapan mungkin tidak punya satu identitas etnis yang dominan. Tapi justru di situlah kekuatannya.
Ia bukan kota Bugis, bukan kota Jawa, bukan pula kota Banjar semata. Ia adalah pertemuan dari semuanya.
Di tengah perannya sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), wajah Balikpapan mungkin akan terus berubah. Pendatang baru akan datang, cerita baru akan tumbuh.
Namun satu hal tampaknya tetap sama: Balikpapan adalah kota yang dibangun oleh orang-orang yang datang, dan kemudian memilih untuk tinggal.











