KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, yang berlangsung 27-31 Agustus 2026.
Terpilihnya Gus Kikin membawa cerita panjang tentang jaringan pesantren dan keluarga ulama di Jombang. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8 itu memiliki ikatan kuat dengan tiga pesantren besar di Jombang, yakni Tebuireng, Seblak, dan Paculgowang.
Latar belakang tersebut menjadi salah satu modal Gus Kikin dalam memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia tumbuh dari keluarga pesantren, memiliki pengalaman panjang di organisasi, sekaligus pernah berkecimpung dalam dunia usaha.
Perpaduan antara tradisi keilmuan pesantren, pengalaman manajerial, jaringan organisasi, dan wawasan kebangsaan menjadi karakter yang melekat pada sosok Gus Kikin.
Cicit KH Hasyim Asy’ari
Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah Maksum.
Dari sang ayah, Gus Kikin mewarisi tradisi keilmuan Islam yang kuat. KH Mahfudz Anwar (1912-1999) dikenal sebagai ulama yang menguasai fikih, tafsir, gramatika Arab, dan ilmu falak.
KH Mahfudz merupakan keturunan KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Pesantren tersebut memiliki hubungan historis dengan lingkungan Tebuireng dan Seblak.
Sementara dari garis ibunya, Gus Kikin terhubung dengan keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.
Nyai Abidah Maksum merupakan putri KH Maksum bin Ali dan Nyai Khoiriyah Hasyim. KH Maksum bin Ali dikenal sebagai ulama ahli falak sekaligus penulis kitab Amtsilah at-Tashrifiyyah. Adapun Nyai Khoiriyah merupakan putri KH Hasyim Asy’ari.
Dengan garis keturunan tersebut, Gus Kikin merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari.
Jejak genealogis itu membuat Gus Kikin tidak hanya menjadi bagian dari keluarga besar Tebuireng, tetapi juga memiliki keterhubungan dengan Seblak dan Paculgowang.
Di lingkungan pesantren Jombang, hubungan antarkeluarga kiai melalui pernikahan menjadi salah satu cara menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Pernikahan KH Mahfudz Anwar dengan Nyai Abidah Maksum mempertemukan dua jalur besar keluarga pesantren tersebut.
Dari keluarga itu lahir sejumlah tokoh pesantren, di antaranya KH Abdul Halim Mahfudz atau Gus Lim, pengasuh Pondok Pesantren Seblak; Gus Kikin; serta almarhum KH Abdul Wachid Mahfudz atau Gus Wahid.
Dari Pendidikan Pesantren hingga Dunia Pelayaran
Gus Kikin tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren. Pendidikan agama diperolehnya langsung dari sang ayah, sedangkan pendidikan umum ditempuh di Jombang.
Ia pernah bersekolah di MI Parimono, SMPN 1 Jombang, hingga SMPP yang kini dikenal sebagai SMAN 2 Jombang.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Gus Kikin melanjutkan pendidikan di akademi pelayaran. Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke dunia profesional dan usaha.
Sebelum aktif dalam kepemimpinan pesantren dan NU, Gus Kikin berkecimpung di dunia bisnis, termasuk sektor minyak dan gas bumi.
Ia tercatat terlibat melalui PT Energi Mineral Langgeng (EML), perusahaan nasional yang mendapat amanah mengelola South East Madura Block.
Pengalaman di dunia usaha tersebut menjadi bagian dari bekal Gus Kikin dalam memahami pengelolaan organisasi dan pengembangan kemandirian ekonomi.
Dari PWNU Jatim ke Kursi Ketum PBNU
Karier organisasi Gus Kikin di NU kemudian terus berkembang.
Ia pernah dipercaya menjadi Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur menggantikan KH Marzuqi Mustamar. Setelah itu, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.
Pengalaman memimpin PWNU Jawa Timur menjadi modal penting. Jawa Timur merupakan salah satu basis utama NU dengan jaringan pesantren, lembaga pendidikan, dan warga Nahdliyin yang sangat besar.
Namanya kemudian semakin kuat menjelang Muktamar ke-35 NU. PWNU Jawa Timur bersama PCNU se-Jawa Timur memberikan mandat kepada Gus Kikin untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat, menilai Gus Kikin memiliki kapasitas kepemimpinan yang lengkap.
“Seorang pemimpin di Nahdlatul Ulama itu sebagai sebuah organisasi besar, maka tidak hanya dibutuhkan kapasitas keilmuan di bidang agama, tetapi juga harus punya kemampuan secara utuh di bidang manajerial, kemampuan jaringan, kemampuan membangun kekuatan NU secara ekonomi, pendidikan, maupun pergerakannya,” kata KH Junaidi.
Menurut dia, Gus Kikin memiliki kemampuan tersebut. Selain berlatar belakang pesantren dan organisasi, Gus Kikin juga memiliki pengalaman sebagai pengusaha serta jaringan yang luas. Ia bahkan pernah berkecimpung dalam pengelolaan media televisi.
Disebut Tak Mengejar Jabatan
Dukungan dari PWNU dan PCNU se-Jawa Timur terhadap Gus Kikin disebut bukan berasal dari ambisi pribadi.
Wakil Rais PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama.
“Ini bukan keinginan pribadi beliau. Kita tanya beliau siap atau tidak, katanya siap. Murni pendapat PCNU. Alhamdulillah seluruh PCNU bersama PWNU satu garis mengusung kiai,” ujarnya.
Menurutnya, selain memiliki hubungan darah dengan keluarga KH Hasyim Asy’ari, Gus Kikin juga mempunyai pengalaman organisasi yang matang hingga tingkat PBNU.
Ia menggambarkan Gus Kikin sebagai sosok yang teduh, tidak gaduh, dan mengutamakan ukhuwah.
Gus Kikin sendiri sejak awal menyebut pencalonannya sebagai sebuah amanah, bukan ambisi pribadi. Ia menyatakan siap menjalankan tugas apabila mendapatkan kepercayaan dari para muktamirin.
Kini, setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin membawa mandat besar untuk melanjutkan perjalanan organisasi di tengah tantangan zaman.
Gagasan kepemimpinannya bertumpu pada penguatan fondasi organisasi, penjagaan sanad keilmuan, serta penguatan NU dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kehidupan kebangsaan.
Dari Tebuireng, Seblak, dan Paculgowang, Gus Kikin kini membawa warisan panjang pesantren Jombang ke panggung kepemimpinan PBNU. Perpaduan tradisi pesantren, pengalaman organisasi, dunia usaha, dan wawasan kebangsaan menjadi bekal yang akan menentukan arah NU di bawah kepemimpinannya.







