Bangladesh resmi menerima undangan menggantikan India di FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Indonesia. Bagi mayoritas penggemar sepak bola Tanah Air, tim berjuluk Bengal Tigers itu masih terasa asing.
Padahal, kedua negara sudah tujuh kali bertemu — dan pertemuan terakhirnya menyisakan catatan yang kurang menyenangkan bagi Skuad Garuda.
Berikut profil lengkap lawan baru Indonesia di Grup A.
Profil Dasar Timnas Bangladesh
Bangladesh dikenal dengan julukan Bengal Tigers atau Tigers of Bengal, serta Red and Green yang merujuk warna benderanya.
Tim ini berada di bawah naungan Bangladesh Football Federation dan bernaung di Konfederasi Sepak Bola Asia, dengan sub-konfederasi Federasi Sepak Bola Asia Selatan.
Berdasarkan peringkat FIFA per 1 April 2026, Bangladesh menempati posisi 181. Peringkat tertinggi yang pernah mereka capai adalah 110 pada April 1996, sementara terendah 197 pada periode Februari hingga Mei 2018.
Rekam jejak turnamen mereka terbatas. Bangladesh belum pernah lolos ke Piala Dunia dan hanya sekali tampil di Piala Asia, yakni pada 1980, dengan langkah terhenti di fase grup.
Kemenangan terbesar mereka adalah 8-0 atas Maladewa di Dhaka pada 23 Desember 1985. Kekalahan terbesar terjadi dua kali dengan skor identik 0-9, dari Korea Selatan pada 1979 dan Iran pada 1982.
Pemain Kunci: Hamza Choudhury
Inilah nama yang membuat Bangladesh tidak bisa dipandang sebelah mata.
Hamza Choudhury adalah gelandang kelahiran Inggris yang memilih membela Bangladesh. Ia menjalani debut pada Maret 2025 melawan India, dan langsung tampil menonjol dalam laga yang berakhir imbang tanpa gol di kandang lawan.
Choudhury pernah membela Leicester City di Premier League dan kini berkarier di Sheffield United yang berkompetisi di Championship, kasta kedua Liga Inggris.
Kedatangannya membawa dampak besar. Ia meraih tiga penghargaan sekaligus di ajang Kool-BSPA Sports Award 2025, termasuk gelar Olahragawan Terbaik Tahun Ini dan Pilihan Populer.
Selain Choudhury, Bangladesh juga memanfaatkan jalur pemain diaspora lain. Shamit Shome, pemain kelahiran Kanada, turut memperkuat skuad.
Pendekatan ini menarik karena serupa dengan yang ditempuh Indonesia melalui program naturalisasi pemain keturunan.
Kapten dan Pelatih
Jamal Bhuyan menjadi kapten Bangladesh sekaligus pemegang rekor penampilan terbanyak dengan 93 caps. Ia sendiri merupakan pemain kelahiran Denmark.
Adapun pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim adalah Ashraf Uddin Ahmed Chunnu dengan 17 gol.
Di kursi pelatih, Bangladesh baru saja menunjuk Thomas Dooley. Mantan pemain Timnas Amerika Serikat itu menggantikan Javier Cabrera dan menetapkan target menaikkan peringkat FIFA Bangladesh hingga menembus 160 besar.
Artinya, tim yang akan dihadapi Indonesia di Jakarta sedang berada dalam masa transisi dengan pelatih baru.
Rekor Pertemuan dengan Indonesia
Inilah bagian yang paling dicari — dan yang perlu diluruskan.
Indonesia dan Bangladesh sudah tujuh kali bertemu. Dari jumlah itu, Skuad Garuda meraih empat kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan.
Berikut rincian lengkapnya:
| No | Tanggal | Ajang | Hasil |
|---|---|---|---|
| 1 | 29 Juli 1975 | Turnamen Merdeka | Indonesia 4-0 Bangladesh |
| 2 | 10 Agustus 1984 | Laga persahabatan | Indonesia 2-1 Bangladesh |
| 3 | 18 Maret 1985 | Kualifikasi Piala Dunia 1986 | Indonesia 2-0 Bangladesh |
| 4 | 2 April 1985 | Kualifikasi Piala Dunia 1986 | Bangladesh 2-1 Indonesia |
| 5 | April 1985 | Trofi Quaid E Azam | Bangladesh 1-1 Indonesia |
| 6 | 13 November 2008 | Piala Grand Royal Challenge | Bangladesh 0-2 Indonesia |
| 7 | 1 Juni 2022 | FIFA Matchday | Indonesia 0-0 Bangladesh |
Pertemuan perdana pada 1975 di Turnamen Merdeka, Kuala Lumpur, menjadi kemenangan terbesar Indonesia dengan skor 4-0.
Satu-satunya kekalahan Garuda terjadi pada 2 April 1985 di kualifikasi Piala Dunia. Meski kalah, Indonesia asuhan Sinyo Aliandoe tetap lolos ke putaran kedua sebagai juara Grup 3B yang juga berisi India dan Thailand.
Peringatan dari Pertemuan Terakhir
Pertemuan paling relevan justru yang terbaru — dan hasilnya patut menjadi peringatan.
Pada 1 Juni 2022, Indonesia menjamu Bangladesh dalam laga FIFA Matchday di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Skuad Garuda asuhan Shin Tae-yong menurunkan pemain-pemain terbaiknya, termasuk Marc Klok, Stefano Lilipaly, Elkan Baggott, dan Pratama Arhan.
Indonesia mendominasi penguasaan bola sepanjang laga dan menciptakan banyak peluang. Namun pertahanan disiplin Bangladesh serta penampilan gemilang penjaga gawang mereka membuat pertandingan berakhir tanpa gol.
Hasil 0-0 itu memaksa Shin Tae-yong dan para pemain meminta maaf kepada suporter.
Artinya, dalam pertemuan terakhir dengan komposisi terbaik, Indonesia gagal menembus pertahanan Bangladesh.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Di atas kertas, Indonesia jelas diunggulkan. Peringkat FIFA Skuad Garuda berada jauh di atas Bangladesh, dan rekor pertemuan berpihak kepada tim Merah Putih.
Namun ada beberapa catatan yang membuat laga ini tidak bisa dianggap ringan.
Pertama, Bangladesh kini diperkuat pemain berpengalaman di sepak bola Inggris. Kehadiran Choudhury memberi mereka kualitas di lini tengah yang sebelumnya tidak dimiliki.
Kedua, gaya bermain Bangladesh cenderung bertahan dengan disiplin — pendekatan yang terbukti efektif menahan Indonesia pada 2022 dan menahan India pada 2025.
Ketiga, Indonesia baru saja tersingkir di fase grup Piala AFF 2026 setelah hanya bermain imbang melawan Singapura. Pola serupa — dominan tetapi gagal mencetak gol — menjadi persoalan yang belum tuntas.
FIFA ASEAN Cup 2026 dijadwalkan berlangsung di Indonesia pada 24 September hingga 4 Oktober. Grup A berisi tuan rumah Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Bangladesh.











