Setelah Gagal ke Piala Dunia, PSSI Diminta Stop Proyek Naturalisasi Tanpa Pembinaan

Setelah Gagal ke Piala Dunia, PSSI Diminta Stop Proyek Naturalisasi Tanpa Pembinaan

Haris Medium.jpeg

Jumat, 17 Oktober 2025 – 20:05 WIB

Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2024). (Foto: Inilah.com/Nondo Adi)

Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2024). (Foto: Inilah.com/Nondo Adi)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kegagalan Timnas Indonesia menembus panggung Piala Dunia 2026 seharusnya tidak hanya disesali, tetapi dijadikan momentum besar untuk melakukan evaluasi total terhadap arah pembangunan sepak bola nasional.

Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sekaligus pakar manajemen prestasi olahraga, Djoko Pekik Irianto, yang menilai saat ini PSSI harus benar-benar meninjau ulang fondasi pengembangan sepak bola Indonesia secara menyeluruh.

“Kegagalan Timnas menuju Piala Dunia 2026 ini merupakan satu momentum yang harus dievaluasi secara total terkait pembangunan sepak bola kita untuk menuju pentas dunia,” kata Djoko saat dihubungi inilah.com, Jumat (17/10/2025).

Momentum Implementasi Regulasi yang Terlupakan

Djoko mengingatkan, cita-cita membawa Indonesia tampil di Piala Dunia maupun Olimpiade sebenarnya sudah tercantum dalam dua regulasi penting: Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional dan Permenko PMK Nomor 1 Tahun 2020 tentang Peta Jalan Pembangunan Persepakbolaan Nasional.

“Permenko PMK itu semacam juknis dari Inpres Nomor 3 Tahun 2019. Sayangnya, produk hukum ini tidak dijalankan secara sungguh-sungguh. Bahkan terkesan dilupakan,” ujarnya.

Menurut Djoko, momentum saat ini seharusnya digunakan untuk menghidupkan kembali regulasi yang terbengkalai tersebut. Dengan dukungan pemerintah yang mulai konsisten, termasuk dalam hal pendanaan, langkah evaluasi menyeluruh akan menjadi pijakan penting menuju sistem sepak bola yang berkelanjutan.

“Momentum ini harus dikaji dan dievaluasi sungguh-sungguh agar kita bisa melangkah step by step dengan modal kuat. Pemerintah juga sudah memberikan dukungan, tinggal bagaimana pelaksananya lebih terarah,” tuturnya.

Naturalisasi Boleh, tapi Harus Ada Timbal Balik

Salah satu hal yang disorot Djoko adalah program naturalisasi pemain. Ia menilai kebijakan ini masih wajar untuk jangka pendek, terutama untuk mendongkrak performa timnas. Namun dalam jangka panjang, naturalisasi harus diimbangi dengan pembinaan pemain muda lokal.

“Untuk program jangka pendek, saya kira oke, tidak masalah. Tapi untuk jangka panjang, harus diimbangi dengan pembinaan mendasar sejak usia muda,” tegasnya.

Djoko menekankan, jika proyek naturalisasi terus dijalankan, maka PSSI wajib memastikan adanya timbal balik nyata bagi talenta lokal. Setiap naturalisasi, kata dia, harus dibayar dengan lahirnya satu pemain lokal yang memiliki kualitas setara.

“Kalau kita meng-hire satu pemain naturalisasi, maka kita juga harus mampu menghasilkan satu atlet lokal yang setara. Kalau kita naturalisasi 10 pemain, harapannya nanti muncul 10 pemain lokal berlevel dunia,” pungkasnya.

Bagi Djoko, itulah bentuk keadilan sepak bola: memanfaatkan pemain diaspora tanpa melupakan tanggung jawab utama — melahirkan generasi emas dari tanah sendiri.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today