Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (21/7/2026). (Foto: ANTARA/Bayu Pratama S/wsj/pri).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi sangat menyayangkan keputusan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengambil alih utang proyek Kereta Whoosh yang diwariskan rezim Jokowi.
“Memperlihatkan Purbaya mencla-mencle. Dulu seperti koboi Amerika, tolak biayai utang Kereta Whoosh. Kini tak punya taring lagi,” ungkap Uchok di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Dia menyebut proyek Kereta Whoosh yang di era Jokowi dinamai Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB), adalah proyek ‘kutukan’. Karena hanya meninggalkan masalah berat, yakni utang jumbo.
“Apalagi sekarang, Purbaya mengirit uang negara. Anggaran TKD (Transfer ke Daerah) banyak dipangkas, akibatnya daerah terancam gagal bayar gaji ASN-nya,” imbuhnya.
Biayai Kuliah Gratis
Berdasarkan laporan keuangan 2022 yang telah diaudit kantor akuntan publik global yakni RSM (Robson, Salustro dan McGladrey), proyek Kereta Whoosh menelan biaya US$7,26 miliar. Dengan kurs Rp16.500/US$, setara dengan Rp119,79 triliun.
Nah, investasi sebesar itu sudah termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,21 miliar yang setara Rp19,96 triliun dari nilai investasi awal yang ditetapkan US$6,05 miliar atau Rp99,82 triliun.
Mayoritas dana untuk pengerjaan proyek Kereta Whoosh ini, berasal dari utang China Development Bank (CDB) dengan bunga 3,3 persen dan bertenor hingga 45 tahun. Atau hampir Rp2 triliun hanya untuk pembayaran bunga saja.
Dalam proyek ini, Indonesia menarik utang dari CDB untuk membiayai 75 persen proyek Kereta Whoosh. Atau setara dengan Rp89,84 triliun. Anggaplah Rp90 triliunan utang Indonesia terhadap CDB.
Sedangkan sisanya yang 25 persen, didanai konsorsium BUMN Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menaungi PT KCIC (Kereta Cepat Indonesia China).
Dana utang sebesar Rp90 triliun itu, lebih bermanfaat untuk program kuliah gratis yang menyasar 750.000 mahasiswa, hingga lulus sarjana. Dengan asumsi, biaya kuliah sebesar Rp30 juta per tahun, selama 4 tahun.
Adapun komposisi saham konsorsium BUMN selaku pemegang 60 persen saham di KCIC, terdiri dari 4 BUMN. Yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI/Persero) sebesar 58,53 persen, PT Wijaya Karya (Persero/WIKA) Tbk sebesar 33,36 persen, PT Jasa Marga (Persero/JSMR) Tbk sebesar 7,08 persen, dan PT Perkebunan Nusantara I sebesar 1,03 persen. Sedangkan 40 persen saham KCIC dipegang China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.
Begini Suara Istana
Pihak Istana yang diwakili Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi buka suara terkait utang Kereta Whoosh yang diambil alih Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
“Hari ini rapat koordinasi rutin saja BPI Danantara bersama dengan Dewan Pengawas. (Utang KCIC dibahas?) salah satunya,” kata Prasetyo di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).
Dia mengatakan, utang proyek Kereta Whoosh diputuskan untuk ditanggung Kemenkeu. Apakah pembayaran utang tersebut berasal dari APBN? Prasetyo hanya menyebut skemanya sedang dibahas Purbaya.
“Yang akan menanggung adalah dari Kementerian Keuangan. Soal skemanya, Pak Purbaya yang mengatur,” tuturnya.
Bagaimana respons Presiden Prabowo Subianto? Pria asal Ngawi, Jawa Timur (Jatim) itu, menyebut, Prabowo memerintahkan agar utang Kereta Whoosh segera diselesaikan. “(Respons Prabowo) Ya segera diselesaikan,” sebut dia.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










