Spanyol dan Palestina Menang, Argentina dan Korupsi Kalah

Spanyol dan Palestina Menang, Argentina dan Korupsi Kalah

Netanyahu memilih Argentina. Gaza memilih Spanyol. Final Piala Dunia berubah menjadi pertarungan aliansi politik—dan kali ini, bendera yang dikibarkan untuk Palestina keluar sebagai pemenang.

Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia tinggi-tinggi pada Minggu malam. Di balik hasil itu, ada sedikit kelegaan yang mungkin tak pernah diminta siapa pun: turnamen ini tidak berakhir dengan Javier Milei mengangkat trofi yang dua hari sebelumnya telah lebih dulu diklaim Benjamin Netanyahu.

Pada Sabtu, kurang dari 24 jam sebelum laga dimulai, Netanyahu bertemu Duta Besar Argentina untuk Israel, Rabbi Shimon Axel Wahnish. Wahnish membawa pesan suara dari Presiden Argentina Javier Milei yang menyebut Netanyahu sebagai sahabatnya dan berterima kasih karena mendukung Argentina “karena saya.” Netanyahu pun membalas pesan itu.

“Javier, Anda adalah seorang sahabat. Sahabat sejati,” kata Netanyahu. “Kami mendukung Anda, kami mendukung Argentina dalam banyak hal, termasuk besok. Semoga sukses.”

Ia kemudian meneriakkan “Vamos Argentina” sambil mengangkat jersey Timnas Argentina di depan kamera.

Pertukaran pesan itu bukanlah gestur spontan menjelang laga besar, melainkan wajah publik dari hubungan yang telah dibangun selama dua tahun terakhir. Milei mengunjungi Israel pada Juni 2025, beberapa hari sebelum serangan Israel ke Iran, dan sejak saat itu terus membela perang yang dijalankan Israel. Pada April lalu, ia menandatangani perjanjian kerja sama kecerdasan buatan dengan Israel. Hadiah uang sebesar 1 juta dolar AS yang diterimanya melalui Genesis Prize di Yerusalem juga diarahkan untuk mendukung “Isaac Accords”, sebuah inisiatif mempererat hubungan Israel dengan negara-negara Amerika Latin.

Netanyahu bahkan menyebut Milei sebagai “sahabat besar Israel” dan memujinya karena telah merevolusi hubungan kedua negara. Menjelang final, Netanyahu memastikan semua orang mengetahui alasan dirinya mendukung Argentina.

Ini bukan pertama kalinya Argentina memperoleh keuntungan yang menurut penulis tidak mereka raih dengan sendirinya selama turnamen ini. Tim yang mereka singkirkan menuju final juga membawa kisah tersendiri tentang bagaimana sepak bola seharusnya berpihak kepada kemanusiaan.

Setelah Mesir mencatat kemenangan pertama sepanjang sejarah mereka di fase gugur Piala Dunia melalui adu penalti melawan Australia, pelatih Hossam Hassan mengangkat bendera Palestina dan mempersembahkan kemenangan itu kepada “rakyat Mesir, rakyat Palestina, dan bangsa Arab.” Ia juga mengatakan hatinya bersama rakyat Palestina serta memohon agar Tuhan mengasihani para syuhada Gaza.

Beberapa hari kemudian, menjelang menghadapi Argentina, Hassan berbicara lebih tegas. Menurutnya, siapa pun yang tidak memiliki empati terhadap rakyat Palestina “bukanlah manusia.”

Turnamen yang dibangun dengan simbol-simbol nasionalisme, sponsor, dan berbagai aturan agar tetap steril dari isu politik, mendadak terbuka ketika seorang pelatih menolak membiarkan kemenangan menjadi alasan untuk berdiam diri.

Namun Mesir tetap kalah dari Argentina dengan skor 3-2 setelah sempat unggul 2-0. Kekalahan itu diwarnai gol Mesir yang dianulir serta klaim penalti terhadap Mohamed Salah yang tidak ditinjau ulang. Federasi Sepak Bola Mesir kemudian mengajukan protes resmi atas kepemimpinan wasit. Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menolak tudingan adanya keberpihakan.

Tak lama kemudian muncul perkembangan lain yang, menurut penulis, membuat keluhan Mesir tidak lagi sekadar terdengar seperti alasan tim yang kalah.

Sejumlah media Argentina dan internasional melaporkan bahwa agen FBI dan jaksa federal Amerika Serikat mulai memeriksa operasi keuangan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) di Amerika Serikat. Mereka menyelidiki sekitar 300 juta dolar AS yang mengalir melalui bank-bank Amerika lewat agen komersial yang berbasis di Florida, termasuk kemungkinan adanya unsur penipuan atau pencucian uang.

Kasus tersebut berjalan bersamaan dengan perkara lain di Argentina, ketika seorang hakim melarang Presiden AFA Claudio Tapia bepergian ke luar negeri atas dugaan tunggakan iuran jaminan sosial senilai sekitar 19 miliar peso. Sebelumnya, pada Desember, kantor AFA dan lebih dari selusin klub juga sempat digeledah dalam penyelidikan berbeda terkait dugaan pencucian uang.

Belum ada tuntutan hukum yang diajukan dalam penyelidikan FBI tersebut. Protes Mesir juga tidak pernah dikabulkan. Namun menurut penulis, polanya terus berulang: tim yang kalah dan menuntut akuntabilitas dianggap sekadar mencari alasan, sementara federasi yang menang justru berada di bawah penyelidikan keuangan.

Pola itu, menurut penulis, berlanjut hingga semifinal.

Pada menit ketiga kemenangan Argentina 2-1 atas Inggris, Enzo Fernández menyikut bagian belakang kepala Elliot Anderson. Wasit Ismail Elfath tidak memberikan pelanggaran apa pun. Pemain Inggris memprotes keputusan tersebut.

Keith Hackett, mantan kepala wasit Inggris, menilai Elfath terlalu lunak terhadap Fernández dan gagal mengendalikan pertandingan.

Sebelum semifinal, statistik disiplin Argentina juga telah memunculkan sorotan. Dalam lima pertandingan, Argentina melakukan 59 pelanggaran tetapi hanya menerima tiga kartu kuning, atau sekitar satu kartu setiap 20 pelanggaran. Sebaliknya, Inggris menerima satu kartu kuning setiap tujuh hingga delapan pelanggaran. Argentina juga memperoleh tiga hadiah penalti, meski Lionel Messi gagal mengeksekusi dua di antaranya.

Menurut penulis, semua itu memang tidak membuktikan adanya pengaturan pertandingan. Namun, itulah gambaran kelonggaran yang terjadi ketika tidak ada seorang pun yang mau mengakuinya: peluit yang terasa lebih panjang dari pertandingan ke pertandingan bagi tim yang membawa nama terbesar dalam sepak bola menuju satu final lagi.

Semua ini, menurut penulis, bukanlah rahasia ataupun teori konspirasi. Hubungan tersebut berlangsung secara terbuka dan sengaja ditampilkan kepada publik pada pekan ketika final Piala Dunia disaksikan oleh miliaran pasang mata.

Bagi penulis, final Piala Dunia menjadi salah satu panggung terakhir tempat sebuah pemerintahan dapat meminjam emosi seluruh bangsa untuk mendukung agenda politik luar negerinya. Dalam konteks ini, yakni memperkuat kedekatan dengan negara yang tindakannya di Gaza sedang menjadi objek proses hukum terkait dugaan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), yang sebelumnya menyatakan bahwa hak-hak rakyat Palestina berdasarkan Konvensi Genosida cukup masuk akal (plausible) untuk diberikan perlindungan sementara.

Pada Mei 2024, Spanyol menjadi salah satu negara besar Eropa pertama yang secara resmi mengakui Negara Palestina. Pada Maret tahun ini, Spanyol secara permanen menarik duta besarnya dari Israel sebagai bentuk protes atas perang di Gaza.

Perdana Menteri Pedro Sánchez menyampaikan sikap tersebut secara terbuka dalam berbagai kesempatan.

Dukungan itu juga datang dari kalangan publik. Lamine Yamal mengibarkan bendera Palestina dari atas bus saat parade juara Barcelona pada Mei lalu. Menteri Pertahanan Israel menuduhnya menyebarkan kebencian.

Sánchez membela Yamal secara terbuka.

Aktor Javier Bardem juga menerima bendera Palestina dari seorang penonton saat pertandingan Spanyol melawan Prancis, lalu mengangkatnya di depan kamera sambil mengatakan, “Eksistensi adalah perlawanan. Spanyol berdiri bersama Palestina.”

Menurut penulis, semua itu bukanlah kebetulan. Itulah identitas yang kini melekat pada Spanyol sebagai negara maupun sebagai tim.

Karena itulah, bahkan sebelum final dimulai, warga Gaza telah menentukan dukungan mereka. Bukan karena siapa yang memiliki lini tengah terbaik, melainkan karena Spanyol telah menunjukkan keberpihakannya kepada mereka.

Dukungan seperti itu, menurut penulis, tidak dapat dibeli hanya dengan panggilan telepon antarpemimpin negara. Sebuah tim memperolehnya melalui pilihan yang mereka tunjukkan secara terbuka ketika pilihan tersebut memiliki konsekuensi.

Jika disederhanakan, menurut penulis, pertandingan sesungguhnya bukan sekadar Argentina melawan Spanyol, melainkan Milei, Messi, dan Netanyahu melawan Sánchez, Yamal, dan Palestina.

Di satu sisi berdiri Milei dan Netanyahu yang secara terbuka mengaitkan diri mereka dengan Messi dan Argentina melalui hubungan diplomatik dan dukungan politik. Di sisi lain berdiri Sánchez, Yamal, dan perjuangan Palestina yang ditunjukkan melalui bendera yang dikibarkan secara terbuka meski menghadapi berbagai tekanan.

Kemenangan Spanyol memang tidak membebaskan seorang pun di Gaza. Kemenangan itu juga tidak mengubah kebijakan pemerintah di Buenos Aires.

Namun, menurut penulis, ada makna simbolis ketika tim yang sepanjang pekan secara terbuka didukung Netanyahu akhirnya kalah dari negara yang selama turnamen ini justru dipilih dan didukung oleh rakyat Palestina.

Simbol memang bukan pengganti tindakan nyata.

Namun, yang satu ini, menurut penulis, setidaknya diraih dengan layak.

Visited 3 times, 1 visit(s) today