Taruna Ikrar dan HMI: Ketika Dua Suara Mengubah Jalan Pengabdian

Taruna Ikrar dan HMI: Ketika Dua Suara Mengubah Jalan Pengabdian

WhatsApp Image 2026-06-26 at 19.29.39 (1)-removebg-preview.jpg

Jumat, 26 Juni 2026 – 19:49 WIB

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. Taruna Ikrar berpidato di forum akademik Malaysia di Kuala Lumpur, Sabtu (23/5/2026). (Foto: BPOM RI)

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. Taruna Ikrar berpidato di forum akademik Malaysia di Kuala Lumpur, Sabtu (23/5/2026). (Foto: BPOM RI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sejarah hampir selalu mengabadikan para pemenang. Nama mereka tercatat dalam keputusan organisasi, dikenang sebagai pemegang amanah, dan menjadi bagian dari arsip perjalanan sebuah zaman. Namun sejarah juga menyimpan pelajaran yang lebih dalam: tidak semua pengabdian besar lahir dari kemenangan dalam sebuah pemilihan.

Pelajaran itu dapat ditemukan dalam Kongres XXII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jambi pada penghujung 1999.

Indonesia saat itu sedang berdiri di persimpangan sejarah. Reformasi 1998 baru saja mengakhiri kekuasaan Orde Baru yang berlangsung lebih dari tiga dekade. Demokrasi sedang mencari bentuknya, sementara organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan berusaha mendefinisikan kembali peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan berbangsa.

Bagi HMI, Kongres Jambi memiliki arti yang jauh melampaui pergantian kepemimpinan. Forum tersebut menjadi momentum islah setelah organisasi mengalami dinamika panjang sejak Kongres Padang 1986 akibat kebijakan asas tunggal Pancasila yang memunculkan dualisme di tubuh HMI. Setelah lebih dari satu dekade, Kongres Jambi menjadi ruang untuk menyatukan kembali semangat perjuangan sekaligus menegaskan identitas organisasi di tengah Indonesia yang baru memasuki era Reformasi.

Karena itu, kongres tersebut bukan hanya membahas siapa yang akan memimpin PB HMI. Forum itu juga melahirkan rekomendasi penting mengenai demokrasi, supremasi hukum, hak asasi manusia, ekonomi kerakyatan, otonomi daerah, hingga peran mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam mengawal jalannya pemerintahan. HMI tidak sedang berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi tentang masa depan Indonesia.

Di tengah dinamika itulah tampil empat kader terbaik sebagai kandidat Ketua Umum PB HMI, yakni Fakhruddin Muhdi dari Cabang Aceh, Taruna Ikrar dari Cabang Makassar, Ahmad Doli Kurnia dari Cabang Bandung, dan Viva Yoga Mauladi dari Cabang Denpasar. Mereka hadir membawa gagasan, pengalaman, dan optimisme generasi muda yang tumbuh di tengah perubahan besar bangsa.

Pemungutan suara berlangsung sangat ketat. Fakhruddin Muhdi akhirnya memperoleh amanah sebagai Ketua Umum PB HMI periode 1999–2001 setelah unggul atas Taruna Ikrar dengan selisih hanya dua suara. Keduanya sama-sama memperoleh dukungan ratusan suara. Ahmad Doli Kurnia dan Viva Yoga Mauladi juga menjadi bagian penting dari salah satu kontestasi kepemimpinan paling kompetitif dalam sejarah HMI pasca-Reformasi.

Selisih dua suara itu menentukan arah kepemimpinan organisasi. Namun perjalanan waktu kemudian menunjukkan bahwa hasil sebuah kongres bukanlah batas akhir dari pengabdian seorang kader.

Dari Kontestasi Menuju Pengabdian

Bagi Taruna Ikrar, Kongres Jambi bukan garis akhir, melainkan salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.

Dalam catatan memorinya, ia pernah mengisahkan bagaimana menjelang keberangkatan ke Jambi, seorang senior HMI asal Makassar, Prof. Husni Tanra, memberikan bantuan berupa mata uang Yen Jepang untuk membantu kebutuhan operasionalnya. Nilainya mungkin tidak besar jika diukur secara materi, tetapi maknanya jauh lebih dalam. Di sana terlihat bahwa organisasi bukan hanya ruang kompetisi, melainkan ruang persaudaraan yang membentuk karakter dan saling menguatkan antargenerasi.

Setelah Kongres Jambi usai, Taruna memilih menapaki jalan akademik dan penelitian. Ia melanjutkan studi doktoral di Nagoya University, Jepang, hingga meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.). Perjalanan ilmiahnya kemudian berlanjut melalui program postdoctoral research di University of Bologna, Italia, Harvard University, dan University of California, Amerika Serikat. Pilihan itu membawanya memasuki dunia neurosains, pendidikan tinggi, dan riset internasional.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia kembali ke Indonesia. Taruna tidak hanya membangun karier sebagai akademisi dan ilmuwan, tetapi juga dipercaya mengemban berbagai amanah di bidang kesehatan dan pelayanan publik, hingga akhirnya memimpin Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Perjalanan itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan memiliki banyak wajah. Ada yang diwujudkan melalui jabatan organisasi, ada yang tumbuh melalui laboratorium, ruang kuliah, pusat penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai-nilai yang ditempa dalam organisasi mahasiswa—intelektualitas, integritas, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun jejaring, dan semangat melayani—tetap hidup meskipun medan pengabdiannya berubah.

Dua puluh lima tahun setelah Kongres Jambi, para kandidat menempuh jalan yang berbeda. Fakhruddin Muhdi menjalankan amanah sebagai Ketua Umum PB HMI. Ahmad Doli Kurnia dan Viva Yoga Mauladi mengabdikan diri melalui politik dan pemerintahan. Taruna Ikrar memilih jalan ilmu pengetahuan dan pelayanan publik. Perbedaannya bukan pada semangat mengabdi, melainkan pada ruang tempat pengabdian itu diwujudkan.

Di tengah kehidupan yang sering mengukur keberhasilan dari kemenangan sesaat, Kongres HMI Jambi 1999 menyampaikan pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini. Organisasi memang membutuhkan kompetisi untuk melahirkan pemimpin. Namun kompetisi tidak pernah boleh menjadi tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap pengalaman, termasuk ketika hasil tidak berpihak kepada kita, mampu diubah menjadi energi untuk terus berkarya.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat siapa yang memperoleh amanah dalam sebuah kongres. Sejarah juga memberi tempat kepada mereka yang terus bekerja dalam diam, membangun ilmu, memperluas manfaat, dan tetap setia mengabdi kepada bangsa.

Barangkali di situlah makna terdalam kepemimpinan. Ia tidak selesai ketika suara dihitung dan keputusan dibacakan. Kepemimpinan justru dimulai ketika seseorang memilih tetap melangkah, terus berkarya, dan menghadirkan manfaat bagi sesama, apa pun jalan yang kemudian dipilihnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 1 visit(s) today