Utang Nasional AS Tembus US$40 Triliun, Bayar Bunganya Saja Lebih Mahal dari Anggaran Militer!

Utang Nasional AS Tembus US Triliun, Bayar Bunganya Saja Lebih Mahal dari Anggaran Militer!

Perekonomian Amerika Serikat (AS) kini resmi bertumpu di atas fondasi yang makin goyah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, total utang nasional Negeri Paman Sam menembus angka fantastis US$40 triliun atau sekitar Rp711.920 triliun.

Laporan terbaru dari Departemen Keuangan AS merinci, per Selasa (18/8/2026), utang yang dipegang publik mencapai US$32,266 triliun, sementara kepemilikan antarpemerintah mencatatkan angka US$7,782 triliun. Jika ditotal, angka penarikan utang pemerintah yang belum dilunasi membengkak hingga US$40,047 triliun.

Capaian kelam ini datang jauh lebih cepat dari yang diproyeksikan para pakar ekonomi, mencerminkan besarnya jurang defisit anggaran akibat pengeluaran pemerintah federal yang ugal-ugalan dan jauh melampaui pendapatan negara.

Beban Bunga Utang Langkahi Anggaran Pertahanan

Akar dari gunungan utang ini sejatinya terakumulasi dari gelontoran dana triliunan dolar AS saat penanganan pandemi COVID-19, yang kemudian diperparah oleh kebijakan pemotongan pajak serta lonjakan anggaran militer.

Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah melonjak naik, membuat bunga utang yang harus dibayar negara kian mencekik dan menggulung total utang makin membesar.

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan, dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026 (sejak 1 Oktober 2025), defisit fiskal AS sudah menyentuh US$1,367 triliun. Dalam periode yang sama, pembayaran bunga bersih utang AS menembus US$827 miliar.

Angka belanja bunga ini secara mengejutkan melompati pos anggaran pertahanan dan militer AS yang bernilai US$713 miliar. Bunga utang kini menjadi beban pengeluaran terbesar kedua pemerintah AS, persis di bawah pos jaminan sosial yang menembus US$1,244 triliun.

Melihat laju pertumbuhannya, grafik utang AS memang bergerak mengerikan: menembus US$30 triliun pada Januari 2022, melompati US$39 triliun pada Maret 2026, dan kini menginjak US$40 triliun hanya dalam hitungan bulan.

Alarm Nyata bagi Perekonomian Warga

Banjir kritik pun berdatangan dari para pengamat dan lembaga kebijakan fiskal independen. Presiden Komite untuk Anggaran Federal yang Bertanggung Jawab (Committee for a Responsible Federal Budget), Maya MacGuineas, menyebut rekor ini sebagai alarm bahaya yang nyata.

“Utang sebesar US$40 triliun tidak hanya ada di pembukuan pemerintah; utang itu dirasakan di seluruh perekonomian dan pada akhirnya sampai ke kantong masyarakat,” tegas MacGuineas pada Rabu (19/8/2026). Menurutnya, makin banyak pemerintah meminjam, makin parah laju inflasi yang menekan daya beli warga.

Nada serupa ditekankan Presiden Bipartisan Policy Center, Margaret Spellings. Ia mengibaratkan kondisi keuangan AS saat ini seperti mobil yang melaju kencang ke jurang tanpa ada niat memutar setir.

“Lintasan fiskal kita saat ini jelas tidak berkelanjutan. Bahkan dalam skenario paling optimistis sekalipun, kita sedang melaju menuju tepi jurang,” ungkap Spellings.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Concord Coalition, Carolyn Bourdeaux, menyentil keras ketidakmampuan elite politik Washington dalam meredam krisis ini. “Empat puluh triliun dolar AS seharusnya menjadi alarm peringatan. Namun, baik Kongres maupun presiden tidak memiliki rencana yang kredibel untuk menghentikan pertumbuhannya,” serunya.

Gedung Putih Tunjuk Hidung Pemerintahan Lama

Merespons sorotan tajam publik atas jebolnya benteng fiskal tersebut, Gedung Putih buru-buru pasang badan. Juru bicara Gedung Putih Kush Desai mengklaim bahwa lonjakan utang ini merupakan warisan kekacauan manajemen dari era pemerintahan sebelumnya.

Desai menegaskan, Presiden Donald Trump telah berkomitmen penuh untuk membenahi kesalahan pengelolaan anggaran di era Joe Biden.

“Itulah mengapa pemerintahan Trump berfokus pada pemangkasan pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan dalam pengeluaran federal, sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk membuat rasio utang terhadap PDB Amerika kembali ke arah yang benar,” ujar Desai membela diri.

Visited 1 times, 1 visit(s) today