Review F1: The Movie. (Foto: Warner Bros)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Film-film bertema balapan memang selalu memiliki daya tarik tersendiri. Raungan mesin, kecepatan tinggi, risiko maut, serta drama rivalitas menjadikan genre ini magnet bagi penonton bioskop Indonesia, apalagi ketika disaksikan dalam format IMAX yang memanjakan mata dan telinga. Itulah janji yang diberikan oleh film terbaru garapan sutradara Top Gun: Maverick, Joseph Kosinski, lewat film F1: The Movie yang dibintangi Brad Pitt.
Cerita dalam F1: The Movie memang bukan hal baru. Sonny Hayes (Brad Pitt), mantan pebalap Formula 1 yang kariernya hancur akibat kecelakaan di tahun 1990-an, hidup menyendiri dan terlupakan. Ia bertahan hidup sebagai pebalap freelance, berkeliling dengan mobil van lusuh, hingga suatu hari sahabat lamanya, Ruben Cervantes (Javier Bardem), memintanya kembali ke dunia Formula 1 untuk menyelamatkan tim APX yang sedang terpuruk.
Tentu, drama tak berhenti di situ. Sonny harus berhadapan dengan pebalap muda berbakat, Joshua Pearce (Damson Idris), yang awalnya sinis namun perlahan menunjukkan dinamika menarik dalam hubungan rival sekaligus rekan setim. Tambahkan pula unsur romansa dengan Kate (Kerry Condon), seorang ahli teknis yang skeptis tapi penuh pesona, maka lengkap sudah resep klasik Hollywood untuk sebuah tontonan blockbuster.
Walau alurnya tertebak, Joseph Kosinski dan tim produksinya—termasuk produser Jerry Bruckheimer—berhasil mengelevasi naskah Ehren Kruger menjadi tontonan yang tetap menarik disaksikan hingga akhir, terutama berkat paduan visual yang sempurna.
Performa Brad Pitt ala Tom Cruise
Brad Pitt dalam peran Sonny Hayes memang tampil mengesankan. Dengan karisma alami dan aura “badass” ala Tom Cruise, Pitt mampu memikat perhatian penonton dengan mudah. Namun, ada kesan familiar yang sulit dihilangkan. Kita seakan melihat karakter yang sama seperti Maverick dalam Top Gun: Maverick, hanya kali ini hadir di sirkuit Formula 1.
Meski begitu, Pitt tetap meyakinkan. Ia lihai menghidupkan karakter pebalap tua yang keras kepala namun penuh semangat. Interaksinya dengan Damson Idris, sebagai pebalap muda yang arogan sekaligus rawan frustrasi, berhasil menciptakan dinamika hubungan senior-junior yang efektif. Dialog singkat seperti, “Kapan terakhir kali kau menang balapan?” yang dijawab dengan sinis oleh Pitt, “Sama seperti kau,” menjadi contoh interaksi kuat di antara keduanya.
Kerry Condon pun tampil menarik dengan karakternya yang jauh dari stereotip. Ia berhasil menghadirkan sisi emosional yang cukup dalam tanpa berlebihan.
Visual dan Soundtrack yang Membakar Adrenalin
Di sinilah nilai tambah terbesar film ini, terutama saat ditonton dalam format layar bioskop IMAX dengan audio Dolby Atmos. Sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi) sukses menangkap detail kecepatan yang luar biasa dari mobil balap Formula 1. Setiap adegan balap terasa intens, lengkap dengan getaran dan suara mesin yang menggema di seluruh bioskop.
Penonton seakan ikut duduk di balik kemudi, merasakan langsung kecepatan hampir 320 km/jam, mendengar detak jantung para pebalap, dan mencium aroma aspal terbakar.
Apalagi film “F1” juga menampilkan beberapa pebalap Formula 1 sebagai cameo, menambah kesan autentik pada film tersebut. Beberapa pebalap yang muncul antara lain Max Verstappen, Lewis Hamilton, Charles Leclerc, Carlos Sainz, dan Lando Norris. Lewis Hamilton juga berperan sebagai produser eksekutif dalam film ini serta tampil dalam adegan klimaks yang menegangkan di akhir cerita.
Tidak kalah istimewa adalah musik yang dikurasi untuk film ini. Hans Zimmer menghadirkan skor yang menggugah, sementara deretan lagu ikonik dari Led Zeppelin hingga Chris Stapleton sukses mendongkrak atmosfer. Lagu “Whole Lotta Love” dari Zeppelin yang membuka film benar-benar membangun suasana penuh adrenalin, sementara “Bright Lights” dari Gary Clark Jr. menjadi anthem sempurna untuk kisah comeback Sonny Hayes.
Balapan Spektakuler
Kelemahan utama dari film ini justru terletak pada naskah yang sangat mengikuti formula konvensional. Meski drama persaingan tim, ketegangan di balik layar, serta strategi cerdik para pebalap terasa autentik dan menarik, ceritanya sendiri tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru dibandingkan film-film bertema balap sebelumnya, seperti Ford v Ferrari (2019) atau Gran Turismo (2023).
Kejutan-kejutan kecil memang hadir sepanjang film, tetapi secara keseluruhan jalan cerita terasa terlalu aman, bahkan terkesan formulaik. Konflik yang dibangun seringkali berujung pada resolusi yang mudah ditebak. Alhasil, meski sukses secara teknis, film ini tidak benar-benar memberikan kesan mendalam secara emosional.
Layak Ditonton tapi Cepat Terlupakan
F1: The Movie memang menawarkan hiburan visual yang luar biasa. Karisma Brad Pitt, chemistry para pemain, serta visualisasi balapan yang autentik spektakuler menjadikan film ini sebagai tontonan ideal.
Namun, narasi yang tidak berani mengambil risiko membuat film ini sulit untuk menjadi klasik instan seperti Top Gun: Maverick. Tetap menyenangkan, tetap memukau, tetapi tidak menghadirkan sesuatu yang benar-benar berbeda dalam sejarah genre film balap.
Akhirnya, jika Anda mencari hiburan penuh kecepatan dan visual kelas atas, F1: The Movie layak untuk disimak di bioskop. Tetapi jika Anda berharap mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar tontonan megah penuh aksi, Anda mungkin akan sedikit kecewa. Film ini adalah sebuah mobil balap yang mengagumkan di lintasan yang terlalu familiar—indah dilihat, tapi kurang istimewa saat garis finis dilintasi.














