Pengamat teknologi informasi Heru Sutadi mengungkap fenomena phone farm yang diduga memperkeruh situasi demonstrasi besar-besaran akhir Agustus lalu.
Sistem ini, kata dia, mampu melahirkan ribuan akun palsu yang mengamplifikasi provokasi di media sosial hingga memengaruhi psikologi massa di dunia nyata.
“Phone farm itu puluhan hingga ratusan HP yang dikelola otomatis. Satu operator bisa mengendalikan ratusan perangkat untuk bikin akun palsu, posting provokasi, atau komentar spam,” ujar Heru kepada Inilah.com, Rabu(3/9/2025).
Bot Makin Canggih, Regulasi Lemah
Heru menyebut pola akun bot sebenarnya mudah dikenali—followers sedikit, following ribuan, postingan kosong atau berulang—namun semakin sulit ditindak karena teknologi makin canggih.
“Sekarang bot pakai AI untuk meniru perilaku manusia. Variasi waktu posting dan interaksi natural bikin susah dideteksi. Regulasi di Indonesia masih lemah, sementara bot baru terus lahir lewat phone farm,” jelasnya.
Ia menilai perlu kolaborasi erat pemerintah dan platform digital global untuk membangun deteksi AI dan regulasi ketat.
Menurut Heru, ribuan akun bot menciptakan ilusi dukungan massa. “Bot bikin like, share, komentar, sehingga narasi tampak populer.
Efeknya orang ikut opini mayoritas. Ini memicu polarisasi dan perang propaganda. Publik makin bingung membedakan fakta dengan hoaks,” katanya.
Ia mengingatkan praktik ini sudah lama mengancam demokrasi. “Laporan Oxford 2019 juga menyoroti penggunaan bot di Indonesia. Kalau dibiarkan, demokrasi bisa tergerus,” tegasnya.
Dalang Bisa Dilacak
Heru menegaskan dalang phone farm bisa diungkap lewat forensik digital. “Bisa dilacak lewat IP, pola transaksi, metadata, sampai jejak server. Kalau serius, pasti ketahuan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat waspada terhadap akun buzzer.
“Ciri bot biasanya followers receh, username aneh, profil kosong, aktif 24 jam, dan hanya bahas satu isu. Verifikasi fakta, laporkan, dan tingkatkan literasi digital,” sarannya.
Masalah Utama di DPR
Meski menyoroti amplifikasi bot, Heru menegaskan akar persoalan demo bukan bot.
“Aksi muncul karena kekecewaan rakyat terhadap DPR, lalu ada tragedi warga dilindas rantis. Itu yang kemudian teramplifikasi di media sosial. Semoga jadi pembelajaran,” pungkasnya














