Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, mencermati kasus tewasnya seorang ibu beserta dua balitanya di Banjaran, Kabupaten Bandung. Sang ibu diduga gantung diri usai meracuni dua anaknya.
Menurutnya, peristiwa tragis tersebut dapat dianalisis dari dua perspektif sosiologis, yakni fakta sosial dan tindakan sosial.
“Fakta sosial itu adalah sesuatu di luar individu, di luar kelompok atau interaksi antarindividu yang memaksa individu melakukan sesuatu. Nah, ini konsep yang dibawa oleh Émile Durkheim, seorang sosiolog Jerman yang meneliti soal kerja, labor, dan juga perilaku bunuh diri,” kata Rissalwan saat dihubungi Inilah.com, Jakarta, dikutip Senin (8/9/2025).
Ia menjelaskan, perilaku bunuh diri dalam pandangan Durkheim bukan semata-mata dorongan pribadi, melainkan bisa jadi akibat tekanan dari luar yang begitu besar.
“Suicidal behavior itu sebetulnya bukan karena kemauan pribadi semata, melainkan karena tekanan dari luar yang disebut fakta sosial. Jadi perilaku bunuh diri ini dalam penjelasan sosiologis adalah perilaku yang dipaksakan kepada seseorang,” kata Rissalwan.
“Dalam kasus ibu di Bandung, tekanan sosial-ekonomi yang sangat besar bisa membuat dia merasa tidak punya pilihan dan akhirnya terpaksa mengakhiri hidupnya,” ujarnya menambahkan.
Lebih lanjut, Rissalwan menyoroti perspektif kedua, yakni tindakan sosial, yang lebih menekankan analisis dari sisi individu.
Ia menilai, tindakan sang ibu bukan hanya mengakhiri hidupnya sendiri, melainkan juga anak-anaknya, yang mencerminkan naluri seorang ibu untuk tetap melindungi.
“Kalau dalam penjelasan fakta sosial, orang hanya akan mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi dalam kasus ini, ia juga mengakhiri hidup anak-anaknya. Nah, di sini muncul tindakan sosial yang mewakili perilaku seorang ibu,” katanya.
Rissalwan menambahkan, setiap ibu pasti tidak akan mau membiarkan anak-anaknya ditinggalkan dalam kesulitan tanpa dirinya. Sehingga, dia berpikir bahwa kesulitan yang dia alami juga akan menimpa anak-anaknya.
Lebih lanjut, Rissalwan mengatakan, meskipun keputusan tersebut tragis dan menyedihkan, dalam perspektif sosiologis dapat dipahami sebagai bentuk ‘logika’ seorang ibu yang sangat tertekan.
“Ini tindakan sosial yang di satu sisi bisa dibilang mulia karena ingin melindungi, tapi di sisi lain sangat miris. Saya yakin ibu manapun yang masih berpikir waras akan berusaha melindungi anaknya dulu. Namun dalam kasus ini, bentuk perlindungan yang dipilih justru sangat ekstrem,” ujarnya.
Ia menambahkan, pilihan tragis itu bisa lahir karena sang ibu merasa tidak punya lagi tempat bergantung.
“Dia mungkin berpikir kalau bunuh diri sendiri, anaknya justru akan menghadapi kesulitan yang sama. Maka dengan cara ini, mereka dianggap bisa terlepas dari semua penderitaan hidupnya,” tutur Rissalwan.
Diberitakan sebelumnya, ibu berinisial EN (34) ditemukan tewas tergantung usai diduga meracuni dua anaknya yang masih berusia 9 tahun dan 11 bulan. Sebuah surat wasiat ditemukan di dinding kontrakan tempat tinggal korban.
Surat wasiat itu berupa secarik kertas yang berisi tulisan pilu EN. Isi surat itu menggambarkan jeritan EN dalam menghadapi masalah hidup. Kertas itu menempel di dinding kontrakan EN yang berada di Kecamatan Banjarang, Kabupaten Bandung.
EN ditemukan meninggal di dalam kontrakannya bersama dua anaknya. Polisi mengatakan tidak ada luka yang ditemukan pada ketiga korban.
“Untuk posisi pintu dan jendela dalam keadaan terkunci dari dalam dan tidak ditemukan luka terbuka terhadap para korban,” ujar Kasat Reskrim Polresta Bandung Kompol Luthfi Olot Gigantara, Sabtu (6/9/2025).
Luthfi menjelaskan polisi turut menemukan sebuah ponsel dan secarik kertas yang berisi curahan hati perempuan EN kepada suaminya YS. Kertas tersebut disimpan di dinding ruang tengah. “Barang bukti tersebut kini diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut,” ucapnya.
Surat wasiat tersebut ditulis EN dalam bahasa Sunda. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, isi pesan di surat itu memuat rasa letih dan frustrasi EN dalam menghadapi masalah dan impitan ekonomi yang diderita keluarganya.
Salah satu bagian di isi surat itu juga memuat pesan EN yang meminta maaf kepada dua anaknya. Dalam surat tersebut, EN menuliskan telah ikhlas walaupun harus masuk neraka dibandingkan melihat kedua anaknya hidup susah.














