Albania mencatat sejarah baru. Mereka kini punya ‘menteri’ dari kecerdasan buatan (AI), bukan seorang manusia. Namanya Diella, sosok virtual yang baru saja diperkenalkan Perdana Menteri (PM) Edi Rama. Diella punya satu tugas mulia: mengawasi pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Nama Diella sendiri berarti ‘matahari’ dalam bahasa Albania. Ia tampil dalam wujud avatar perempuan muda yang mengenakan pakaian tradisional. Bagi warga Albania, Diella sudah tak asing lagi. Ia sebelumnya dikenal sebagai asisten virtual di platform digital pemerintah, e-Albania.
Tugas Mulia Sang Menteri AI: Wujudkan Tender Bebas Korupsi
PM Rama menjelaskan, tugas utama Diella adalah memastikan setiap tender publik di Albania berjalan transparan. “Diella adalah pelayan pengadaan publik. Albania akan menjadi negara di mana tender 100 persen bebas korupsi dan setiap dana publik yang melalui prosedur tender bisa dibaca dengan jelas,” tegas Rama di hadapan kader Partai Sosialis.
Rama bahkan menambahkan, keputusan tender tidak lagi diambil oleh kementerian. Semuanya akan berada di tangan Diella. “Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan tugas Diella,” katanya, menunjukkan optimisme penuh terhadap terobosan ini.
Dalam wawancara dengan BBC, Rama kembali menegaskan, “Kami bekerja dengan tim brilian, bukan hanya Albania tetapi juga internasional, untuk melahirkan model AI penuh dalam pengadaan publik. Prosesnya akan jauh lebih cepat, efisien, dan akuntabel.”
Pro dan Kontra yang Menyertai
Langkah berani ini tentu saja menuai beragam reaksi. Partai oposisi Demokrat menyebut ide ‘menteri AI’ ini sebagai hal yang ‘konyol’ dan ‘inkonstitusional’. Mereka berdalih, undang-undang Albania mengharuskan menteri adalah warga negara berusia minimal 18 tahun.
Namun, di tengah kritik, ada juga pandangan positif. Pendiri perusahaan jasa keuangan Balkans Capital, Aneida Bajraktari Bicja, menilai langkah ini patut dicoba. Meskipun ia mengakui bahwa Rama sering mencampur aduk reformasi dengan ‘teatrikal’, ia melihat potensi besar. “Jika ‘menteri AI’ bisa berkembang menjadi sistem nyata yang meningkatkan transparansi dan kepercayaan dalam pengadaan publik, ini bisa sangat konstruktif,” ujarnya.
Senada dengan itu, ahli hukum dan korupsi kawasan Balkan Barat dari King’s College London, Dr. Andi Hoxhaj, menilai inisiatif ini sangat relevan. Terlebih, Albania sedang berupaya merampungkan negosiasi aksesi dengan Uni Eropa. Isu korupsi menjadi prasyarat utama dari UE. Jika Diella bisa menjadi mekanisme untuk mencapai tujuan itu, langkah ini patut dieksplorasi.
Rama sendiri tidak menampik bahwa ada unsur pertunjukan dalam langkah ini. Namun, ia melihat sisi positifnya. “Ini memberi tekanan pada menteri dan lembaga nasional lain untuk bekerja dan berpikir berbeda. Itulah keuntungan terbesar yang saya harapkan dari menteri ini,” tutupnya.














