Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas usai menghadiri peluncuran teknologi 5G Mining di Tembagapura, Mimika, Papua, Kamis (1/9/2022) (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Memasuki hari ke-17 tragedi longsor tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Kabupaten Mimika, Papua Tengah, PT Freeport Indonesia (PTFI/Freeport) belum berhasil menemukan lima pekerjanya.
Sedangkan dua dari tujuh pekerja Freeport ditemukan tewas mengenaskan pada Sabtu (20/9/2025) lalu.
VP Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati, mengatakan, proses pencarian lima pekerja tersebut, menghadapi risiko tinggi akibat pergerakan material basah.
“Tim penyelamat terus bekerja siang dan malam meski menghadapi tantangan besar dari pergerakan material basah dan berisiko tinggi,” kata Katri, dikutip Rabu (24/9/2025).
Katri bilang, penggalian dua jalur akses tetap dilanjutkan, ditambah infrastruktur pendukung. Karena, lokasi pencarian semakin dalam dan kondisi udara semakin terbatas.
Saat ini, Freeport mengerahkan sejumlah alat berat, termasuk loader dengan kendali jarak jauh, guna meminimalkan risiko bagi tim penyelamat.
“Kami mengajak semua pihak untuk terus mendoakan dan memberi dukungan moral agar kelima rekan kami segera ditemukan,” kata Katri.
Mengingatkan saja, kejadian nahas ini, berawal dari 7 pekerja Freeport terjebak di tambang bawah tanah GBC yang mengalami longsor secara tiba-tiba. Setelah 12 hari pencarian, dua pekerja ditemukan tewas mengenaskan pada Sabtu (20/9/2025) sekitar pukul 08.45 WIT.
Presiden Direktur Freeport, Tony Wenas mengungkapkan tantangan terberat yang dihadapi untuk mengevakuasi pekerja yang terjebak, yakni material lumpur bijih basah menutup area tambang bawah tanah sangat banyak.
“Material longsor itu jauh lebih banyak dari yang kami perkirakan sehingga memerlukan penanganan ekstra dan waktu yang lebih lama. Sampai sekarang masih ada pergerakan dari lumpur bijih basah tersebut,” ujarnya dikutip Antara, Jumat (12/9/2025).
Tony memastikan, tim tanggap darurat Freeport Indonesia terus bekerja untuk membuka akses ke lokasi perkiraan tujuh pekerja berada, dengan bantuan alat berat, bor, dan drone, sambil berupaya memulihkan kembali akses komunikasi.














