Penawaran spesial ponsel pintar Samsung Galaxy di etalase toko ponsel pada 5 Juni 2025 di London, Inggris. (Foto: Mike Kemp/In Pictures via Getty Images)(Foto:
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Persaingan ponsel pintar di Indonesia makin sengit. Xiaomi, OPPO, dan Vivo kini menjadi penantang serius bagi Samsung yang selama bertahun-tahun mendominasi pasar.
Menurut data Counterpoint Research kuartal II 2024, Xiaomi sempat menduduki posisi pertama dengan pangsa pasar 18,1 persen, disusul OPPO (17,9 persen), Vivo (17,7 persen), dan Samsung (16 persen). Pergeseran ini menandai salah satu momen penting, ketika merek asal China berhasil menggusur Samsung dari singgasana ponsel di Tanah Air.
Namun, kondisi kembali dinamis pada Agustus 2025. Statcounter melaporkan Samsung merebut kembali posisi teratas dengan pangsa 17,79 persen, diikuti OPPO 16,63 persen, sementara Xiaomi turun ke 13,05 persen.
Ekonomi Lesu, Pasar Ponsel Tetap Tumbuh
Meski pertumbuhan ekonomi nasional melambat—BPS mencatat PDB Indonesia hanya tumbuh 4,87 persen pada kuartal I 2025—pasar ponsel justru tetap tangguh. IDC menyebutkan pasar ponsel Indonesia tumbuh 5,5 persen sepanjang 2024, terutama digerakkan oleh segmen low-end (Rp1,5 juta ke bawah) dan mid-range (Rp2-5 juta).
Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat makin sensitif harga, tetapi kebutuhan akan perangkat terjangkau dengan fitur modern, termasuk 5G, tetap tinggi.
Strategi Murah Meriah yang Efektif
Kunci sukses Xiaomi, OPPO, dan Vivo ada pada strategi value for money. Mereka berani menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga lebih rendah dibandingkan Samsung.
Sebagai contoh, Redmi Note 14 5G dibekali chipset Dimensity 7025, RAM 12 GB, dan pengisian daya 45W dengan harga Rp3,999 juta. Sementara Samsung Galaxy A25 5G dijual Rp4,099 juta hanya dengan RAM 8 GB dan pengisian daya 25W.
Di segmen menengah, Redmi Note 14 Pro Plus 5G membawa RAM 12 GB, memori 512 GB, pengisian daya super cepat 120W, dan sertifikasi IP68 seharga Rp5,999 juta. Bandingkan dengan Samsung Galaxy A56 5G yang dipatok Rp6,2–6,7 juta dengan memori 256 GB dan pengisian daya 45W.
Dominasi Distribusi Digital
Selain harga, merek China juga agresif membangun ekosistem distribusi digital. Mereka gencar membuka toko resmi di e-commerce, menggelar promosi, hingga melibatkan influencer lokal.
IDC mencatat transaksi e-commerce di Indonesia tumbuh 7,3 persen pada 2024. Fenomena ini memberi keuntungan besar bagi Xiaomi, OPPO, dan Vivo yang lincah dalam penetrasi pasar digital dengan biaya promosi lebih efisien.
Dominasi merek China jelas membuat Samsung harus bekerja keras mempertahankan posisinya di Indonesia. Dengan ekonomi yang masih lesu, strategi harga murah dengan spesifikasi tinggi kemungkinan besar akan terus menjadi jurus jitu merek-merek China untuk memperkuat pijakan di pasar ponsel Tanah Air.














