Senin, 13 Oktober 2025, menjadi hari yang menentukan bagi puluhan keluarga di Israel. Kelompok milisi Hamas Palestina akhirnya menuntaskan janjinya, membebaskan 13 sandera terakhir yang masih ditahan hidup-hidup di Jalur Gaza. Kabar ini menandai babak penutup dari drama penyanderaan yang menyita perhatian dunia.
Media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa 13 tawanan tersebut telah diserahkan kepada Komite Palang Merah Internasional (ICRC), yang berperan sebagai penengah dan pengawas netral dalam proses pertukaran sensitif ini.
Sebagaimana dikonfirmasi oleh laporan The Times of Israel, penyerahan ini memiliki arti krusial: “Artinya, saat ini tidak ada lagi sandera hidup yang ditawan Hamas,” demikian bunyi laporan tersebut.
Sebuah konfirmasi yang membawa kelegaan luar biasa di pihak Israel.
Pembebasan 13 sandera ini merupakan gelombang kedua dalam sehari. Sebelumnya, pada pagi hari, Hamas juga telah melepaskan tujuh sandera dalam tahap awal kesepakatan. Total, seluruh tawanan yang masih bernapas kini telah kembali ke pangkuan negara dan keluarga mereka.
Kesepakatan Besar: Jenazah dan Ribuan Tahanan Menanti Pemulangan
Proses pemulangan sandera ini adalah hasil dari kesepakatan besar-besaran antara Hamas dan Israel yang berlaku efektif sejak gencatan senjata resmi dimulai Jumat (10/10/2025). Kesepakatan tersebut mencakup pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina.
Meskipun seluruh sandera hidup telah kembali, tugas pertukaran belum sepenuhnya tuntas. Dikabarkan, sekitar 28 jenazah sandera Israel masih berada di tangan Hamas.
Berdasarkan klausul perjanjian, jenazah-jenazah ini juga wajib dipulangkan ke Israel sebagai bagian dari komitmen penuh kedua belah pihak.
Hampir 2.000 Tahanan Palestina Menanti Kebebasan
Sebagai imbalan dari pembebasan sandera Israel, pihak Israel juga harus menunaikan janjinya.
Data terakhir menyebutkan, sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran, nyaris 2.000 tahanan Palestina masih ditahan di penjara-penjara Israel. Jumlah yang sangat signifikan ini mencerminkan tingginya angka penangkapan selama konflik.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) memiliki peran vital dalam menjamin kelancaran dan kemanusiaan dalam proses pertukaran dua arah ini. Mereka bertanggung jawab mengawasi pembebasan seluruh sandera dan tahanan, memastikan setiap individu –baik yang hidup maupun jenazah– dipulangkan sesuai dengan kesepakatan yang telah diteken.
Keberhasilan pertukaran ini membuka harapan, betapapun tipisnya, bagi proses perdamaian yang lebih stabil di masa depan. Kelancaran implementasi kesepakatan ini menjadi penentu bagi keberlanjutan gencatan senjata di Jalur Gaza.












