Bung Kus Bongkar Biang Kegagalan Timnas, Sindir Erick Thohir Soal Pelatih Belanda

Bung Kus Bongkar Biang Kegagalan Timnas, Sindir Erick Thohir Soal Pelatih Belanda

Ibnu Medium.jpeg

Selasa, 14 Oktober 2025 – 19:03 WIB

Ketum PSSI, Erick Thohir. (Foto: Getty Images)

Ketum PSSI, Erick Thohir. (Foto: Getty Images)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kegagalan Timnas Indonesia di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 memantik evaluasi keras. Pengamat sepak bola Indonesia, Mohamad Kusnaeni (Bung Kus), menilai rapat Exco PSSI wajib memanggil tim kepelatihan untuk mempertanggungjawabkan pilihan taktik, seleksi pemain, hingga perubahan formasi yang dinilainya penuh trial and error di laga-laga paling krusial. Ia tidak serta-merta meneriakkan “ganti pelatih”, namun menegaskan: “Cari yang lebih baik.”

“Setiap event harus diakhiri dengan evaluasi. Menurut saya, jajaran pelatih perlu dipanggil untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah dicapai,” ujar Bung Kus.

“Saya tidak bilang harus diganti, tapi cari yang lebih baik—pelatih yang lebih siap membawa tim ini ke Piala Dunia empat tahun lagi.”

Bung Kus menilai kekecewaan publik wajar karena fondasi tim sudah kuat, bahkan diperkuat kedatangan nama-nama baru sesuai kebutuhan pelatih. Dengan bekal itu, ekspektasi menang atas Arab Saudi dan menahan/menaklukkan Irak menjadi rasional.

“Keyakinan itu sangat besar. Di materi sekarang, kita pernah kalahkan Arab, lalu tim makin komplet. Tapi dua laga kunci itu justru kalah,” katanya.

Ia menyoroti performa enam laga resmi (di luar uji coba September) yang hanya dua kali menang dan empat kali kalah. Kontra tim-tim top Asia—Jepang, Australia, Arab Saudi, Irak—Indonesia tidak sekali pun menang. Di dua laga putaran keempat, dua gol yang tercipta pun datang dari penalti/bola mati, bukan dari alur permainan yang rapi.

Sejak debut menghadapi Australia, Bung Kus membaca banyak eksperimen formasi dan peran pemain yang dilakukan di pertandingan resmi, bukan dimatangkan di fase persiapan. Pergantian dari tiga bek ke empat bek, lalu tarik-ulur konsep, berujung pertahanan rapuh dan lini tengah tidak suportif.

“Publik tidak pusing formasi. Yang penting kinerja di lapangan. Kalau tampak pontang-panting dan hasilnya kalah, mengapa ambil risiko di momen yang butuh sesuatu yang secure?” ucapnya.

Bung Kus membantah isu komunikasi hanya soal bahasa ketika membandingkan era Shin Tae-yong dan penerusnya. Esensinya adalah komunikasi konsep bermain: apakah para pemain memahami game plan yang diinginkan pelatih.

“Masalahnya bukan bahasa literal. Yang krusial itu pelatih menjelaskan konsep bermainnya sehingga pemain paham. Lawan Arab, lini tengah tampak tak mengerti apa yang diminta pelatih.”

Menurut Bung Kus, federasi dan pelatih baru (jika ada) harus bekerja dengan peta jalan empat tahun menuju Piala Dunia berikutnya. Mulai dari memetakan roster yang akan bertahan 2–4 tahun, menyusun target antara di Piala Asia, hingga menyelaraskan program kompetisi, youth development, dan timnas secara terintegrasi.

“Pelatih harus punya konsep jelas empat tahun. Capai target Piala Asia dulu, lanjut ke Piala Dunia. Jangan di tengah jalan berubah-ubah karena pertimbangan personal.”

Bung Kus menegaskan pertanggungjawaban terbesar ada pada pelatih yang menandatangani target. Namun penilaian terhadap PSSI tidak boleh disederhanakan hanya dari timnas senior.

“Untuk pelatih, target bisa ditagih. Kalau tak tercapai dan tak ada progres kinerja, cari yang lebih baik.
Untuk PSSI, penilaiannya menyeluruh: timnas, kompetisi usia muda, amatir, profesional, grassroot, sepak bola wanita, futsal.”

Topik
Komentar

Visited 4 times, 1 visit(s) today