Petugas saat melakukan uji coba terbang terhadap sat unit drone listrik di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Senin (20/10/2025). (Foto: ANTARA/Fathnur Rohman).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Masih ingat, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar) yang diresmikan Presiden Jokowi pada 24 Mei 2018. Dan, Pesawat Kepresidenan adalah pesawat pertama yang mendarat di bandara senilai Rp2,6 triliun itu.
Lima tahun berselang, Jokowi membanggakan Bandara Kertajati, karena banyak investor dari berbagai negara, tertarik untuk menanamkan modalnya di bandara itu. Tegas saja Jokowi menyebut Bandara Kertajati merupakan salah satu bandara masa depan di Indonesia.
Mantan Wali Kota Solo itu, menyebut, akses Bandara Kertajati sangat mumpuni. Karena disangga tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan. “Kalau saya melihat negara lain berbondong-bondong masuk, artinya di Kertajati ini ada sesuatu, dan kita harapkan ini akan menjadi bandara besar di masa mendatang,” kata Jokowi, saat peresmian tol Cisumdawu, Sumedang, Jawa Barat, dikutip Sabtu (15/7/2023).
Kini, keyakinan Jokowi buyar. Bandara yang sangat dibanggakannya itu, tak dilirik maskapai penerbangan. Bahkan sempat mangkrak. Yang mendarat bukan pesawat terbang, melainkan drone listrik berkapasitas angkut hingga 150 kg yang dikembangkan PT Mimpi Terbang Indonesia (Dreamfly Indonesia), berkongsi dengan perusahaan China.
Executive General Manager (EGM) Bandara Kertajati, Nuril Huda di Majalengka, Senin (20/10/2025), mengatakan sangat mendukung kegiatan uji coba drone listrik bernama DF-L100 tersebut dengan memastikan kesiapan fasilitas di area bandara, sebagaimana penerbangan reguler lainnya. “Dari kami hanya mempersiapkan fasilitas saja. Sama seperti penerbangan reguler, tugas kami memastikan peralatan dan sarana di bandara laik digunakan,” kata Nuril.
Ia menuturkan, Bandara Kertajati sudah beberapa kali menjadi lokasi uji coba penerbangan, baik untuk riset maupun pengembangan teknologi pesawat tanpa awak. Namun, untuk pengujian drone kali ini, dinilai cukup penting karena diarahkan untuk keperluan komersial di sektor logistik.
“Sebelumnya juga pernah ada uji coba drone, tapi tidak untuk komersial. Kalau yang ini, rencananya akan dikembangkan lebih jauh untuk kegiatan pengangkutan barang,” ujarnya.
Sementara itu Direktur Utama Dreamfly Indonesia, Daniel Tan menjelaskan, drone DF-L100 yang diuji di Bandara Kertajati merupakan pesawat tanpa awak, dengan kemampuan jarak tempuh 120-140 km serta bisa terbang sampai ketinggian maksimum 5.000 meter
“Drone ini hemat energi karena berbasis listrik. Dia bisa terbang otomatis tanpa pilot karena sudah menggunakan sistem kecerdasan buatan (AI), tapi kalau terjadi kondisi darurat, bisa diambil alih secara manual,” katanya.
Menurut dia, drone tersebut dirancang untuk membantu efisiensi biaya logistik nasional sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat.
Daniel menyebutkan dengan kemampuan membawa beban menengah, drone listrik tersebut dapat digunakan untuk pengiriman logistik secara efisien antarwilayah.
“Kami ingin membantu menurunkan biaya logistik di Indonesia. Misalnya untuk daerah kepulauan seperti Nusa Penida, di mana ongkos kirim barang jauh lebih mahal dibandingkan di daratan Bali,” ujarnya.
Selain untuk kebutuhan logistik, lanjut Daniel, drone tersebut juga memiliki sistem modular yang memungkinkan penyesuaian fungsi sesuai kebutuhan, termasuk untuk misi penyelamatan atau kerja sama dengan instansi seperti Basarnas.
“Drone ini modular, jadi bisa dikustomisasi. Kalau bekerjasama dengan Basarnas, bisa disesuaikan untuk operasi kemanusiaan atau evakuasi,” ujarnya.
Ia menyebutkan uji terbang di Bandara Kertajati masih dalam tahap izin operasi khusus, dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Daniel menyampaikan uji coba ini, bertujuan untuk memastikan keamanan dan stabilitas sistem drone sebelum diproduksi serta dioperasikan secara komersial.
Selain itu, pihaknya berencana melakukan uji coba untuk versi drone berkapasitas angkut hingga 400 kg untuk mendukung pengiriman logistik antarpulau di Indonesia.
“Ini yang sangat luar biasa, karena sejauh ini saya pikir belum ada drone yang bisa terbang setinggi itu,” ucap dia.












