Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menyampaikan paparannya soal tantangan pemerintah selama satu tahun di Kantor Kemenko IPK di Jakarta, Rabu (22/10/2025).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyinggung bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka yang dibangun era Presiden ke-7 Jokowi.
Dia mengaku dirinya harus dihadapkan dengan persoalan tersebut saat baru menjabat sebagai Menteri IPK.
“Diawal saya masuk ke Kemenko Infrastruktur ini, dihadapkan dengan permasalahan Kertajati. Sudah pernah ke sana semua teman-teman? Siapa yang pernah ke sana? Seperti apa Kertajati? Sepi ya. Tapi bagus, besar, megah, tapi in the middle of nowhere (di antah berantah),” ujar AHY di Kantor Kemenko Infrastruktur, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
AHY mengaku bahwa bandara tersebut menyajikan infrastruktur yang megah. Namun, sayangnya bandara tersebut berada di lokasi yang terpencil.
“Kita mencari solusi agar traffic bisa kembali hidup, maksudnya pesawat bisa datang ke sana dan pergi dari sana. Kita harus ciptakan sesuatu. Disinilah mungkin awalnya sulu kurang terintegrasi. Bandara dibangun tapi konektivitas nya terhambat. Sehingga nanggung,” kata dia.
Ketua Umum Partai Demokrat itu mengatakan, untuk menghidupkan kembali bandara tersebut Pemerintah menjalin kerja sama antara BIJB dengan Garuda Maintenance Facility Aero Asia TBK (GMF Aeroasia), untuk menghadirkan fasilitas maintenance, repair, and overhaul (MRO).
“Mengapa itu perlu? Paling tidak kita mulai sebelum kita mengembangkan itu menjadi misalnya aerospace park dan lain sebagainya, tapi dengan MRO ini kita harapkan nanti untuk perawatan ya, termasuk juga perbaikan pesawat, kita awali dulu dengan helikopter,” tuturnya.
Dia berharap dengan perbaikan tersebut sapat menarik maskapai komersial lain untuk terbang di Bandara Kertajati. Hal itu juga nantinya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di kawasan domestik.
“Mudah-mudahan berikutnya nanti pesawat yang lebih besar sehingga tidak selalu kita harus merujuk ke Jakarta, tidak juga harus ke luar negeri. Tapi bisa dikerjakan di Kertajati,” tuturnya.












