Diapresiasi WHO, Ekosistem Jahe Merah RI Jadi Percontohan Standar Herbal Global

Diapresiasi WHO, Ekosistem Jahe Merah RI Jadi Percontohan Standar Herbal Global

Ibnu Medium.jpeg

Senin, 3 November 2025 – 21:23 WIB

Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania dalam sebuah siniar, Senin (3/11). (Foto: Bintang Toedjoe)

Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania dalam sebuah siniar, Senin (3/11). (Foto: Bintang Toedjoe)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ekosistem jahe merah terintegrasi dari hulu ke hilir milik PT Bintang Toedjoe menjadi salah satu percontohan (benchmark) bagi WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) dalam penyusunan standar farmakope herbal internasional.

Apresiasi ini disampaikan saat delegasi WHO-IRCH meninjau langsung inovasi dan teknologi pengolahan herbal di fasilitas PT Bintang Toedjoe di Jakarta, pekan lalu.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tahunan WHO-IRCH ke-16 yang diselenggarakan di Indonesia sepanjang tahun 2025.

Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, mengonfirmasi signifikansi kunjungan tersebut. Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci karena memiliki pengetahuan lokal, riset ilmiah, dan ekosistem yang memadai.

“Kedatangan WHO-IRCH ke Indonesia diisi oleh kunjungan ke industri-industri terpilih yang sudah memanfaatkan jahe merah… sebagai benchmark dan percontohan untuk masukan dalam pembuatan farmakope herbal internasional,” ujar dr. Inggrid dalam sebuah siniar, Senin (3/11).

Jahe merah, yang memiliki kandungan gingerol dan shogaol tinggi, telah terbukti secara ilmiah memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Inggrid menekankan tantangan utama industri herbal di Indonesia adalah standarisasi dan traceability (ketertelusuran).

“Ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat,” tuturnya. “Mayoritas industri obat herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem. Kita jadi tidak bisa trace sumber bahan baku.”

Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe, Fanny Kurniati, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen mengembangkan ekosistem jahe merah, mulai dari kebun binaan hingga riset teknologi tinggi.

“Jahe merah yang kami gunakan untuk Bejo Jahe Merah sudah teruji paling aman. Ditambah, khasiat anti-inflamasinya juga kami manfaatkan di Komix Herbal,” kata Fanny.

Ia menambahkan, seluruh fasilitas produksi telah tersertifikasi CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) oleh BPOM, serta ISO 9001, ISO 14001, dan ISO 45001.

“Kunjungan oleh WHO-IRCH ini menjadi kehormatan besar dan mendorong kami untuk terus membawa pengetahuan lokal yang didasari sains bisa mencapai masyarakat global, dimulai dengan jahe merah,” tutup Fanny.

Topik
Komentar

Visited 4 times, 1 visit(s) today