Ilustrasi Perbandingan biaya ke Bandung naik Whoosh dengan transportasi lain (Foto: Sekretariat Negara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Aktivis antikorupsi sekaligus akademisi, Ubedilah Badrun menilai, jika pemerintah Indonesia tidak mampu membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), maka China berpeluang mengambil alih kepemilikan Kereta Whoosh.
“Kalau kemudian lama-lama kita tidak bisa menangani persoalan kereta cepat jatuh tempo, misalnya utang makin banyak lama-lama kita enggak sanggup. (China) bisa, bisa take over. Itu sama dengan kita menjual kedaulatan (negara),” tutur Ubedilah dalam Podcast Inilah ‘Jurnalisik’ di Jakarta, dikutip Senin (3/11/2025).
Tentu menjadi sebuah hal yang aneh bila hal ini benar-benar terjadi. Padahal kata dia, wilayah milik Indonesia, namun Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut justru milik China.
Selain itu, bila China benar-benar mengambil alih proyek Whoosh yang salah satu stasiunnya berada di Halim, Jakarta Timur (Jaktim), yang notabene merupakan wilayah strategis karena bagian dari pangkalan militer TNI Angkatan Udara, Ubedilah menilai. tentu sangat berbahaya bagi Indonesia.
“Mungkin bisa disebut sebagai upaya kolonialisme baru lewat teknologi dan penguasaan aset,” tegasnya.
Kekhawatiran Ubedilah bukan tanpa dasar, pasalnya saat ini saja utang pemerintah Indonesia mengalami defisit dan akan jatuh tempo pada 2026 dengan jumlah senilai Rp8.500 triliun, ditambah lagi untuk membayar bunga utang saja sudah sebesar Rp599 triliun.
“Jadi tahun depan kita sudah jatuh tempo utang, kemudian persoalan Whoosh yang rugi dan juga nanti bank Himbara minta pinjaman KAI dikembalikan, dan seterusnya itu kan nanti akan membebani APBN lagi dan akhirnya tambah beban APBN kita,” pungkas Ubedilah.
KPK Garap Dugaan Korupsi Whoosh
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta pihak-pihak yang dipanggil untuk dimintai keterangan, terkait dugaan korupsi Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Whoosh, bertindak kooperatif dengan memenuhi panggilan.
“Kami tentunya juga mengimbau kepada siapa saja pihak-pihak yang diundang dan dimintai keterangan terkait dengan perkara KCIC ini, agar kooperatif dan menyampaikan informasi, data, dan keterangan yang dibutuhkan,” kata Budi, Senin (3/11/2025).
Hingga saat ini, kata dia, pihak yang dipanggil kooperatif dan membantu jalannya penyelidikan. Dia mengatakan, tim penyelidik terus menelusuri pihak-pihak lain untuk mengumpulkan keterangan.
“Dan tentunya ini masih akan terus bergulir ya, karena tim masih akan terus menelusuri pihak-pihak lain untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang dibutuhkan dalam tahap penyelidikan,” ujarnya.
Sebelumnya, KPK melakukan penyelidikan terhadap dugaan penggelembungan anggaran atau mark-up proyek Kereta Whoosh. “Saat ini sudah pada tahap penyelidikan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu, Senin (27/10/2025).
Asep mengaku belum bisa memastikan, kapan penyelidikan dilakukan. Sebab, KPK melakukan proses penyelidikan secara tertutup.
Awalnya, Mahfud MD mengungkapkan adanya dugaan penggelembungan anggaran atau mark-up di proyek ini, melalui kanal YouTube pribadinya.
Dia menyebut, biaya per kilometer untuk pembangunan kereta Whoosh di Indonesia, sekitar 52 juta dolar AS per kilometer. Atau lebih mahal ketimbang biaya pembangunan kereta cepat di China yang berkisar 17-18 juta dolar AS per kilometer.
“Naiknya sampai tiga kali lipat. Nah, ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Harus diungkap siapa yang dulu melakukan ini,” kata Mahfud, dikutip dari kanal YouTubenya, pada 14 Oktober 2025.














