Presiden AS Donald Trump batalkan kehadiran delegasi negaranya di KTT G20 Afrika Selatan (Afsel) dengan alasan adanya dugaan pelanggaran HAM dan perampasan lahan petani Afrikaner. (Foto: Getty Images/Andrew Harnik)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah sibuknya persiapan menjelang perhelatan akbar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat keputusan kontroversial yang menggegerkan panggung diplomasi internasional. Pada Jumat (7/11/2025), Trump memastikan bahwa AS tidak akan mengirimkan delegasi, bahkan Wakil Presiden sekalipun, ke KTT G20 di Afrika Selatan (Afsel) pada akhir November ini.
Keputusan boikot ini bukan tanpa alasan. Secara blak-blakan, Trump kembali menyinggung isu sensitif mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dialamatkan pada perlakuan Afsel terhadap petani kulit putih di negara tersebut.
Ini sejatinya bukan kejutan pertama. Pada September lalu, Trump memang sempat menyatakan tidak akan hadir dan berencana mengirimkan Wakil Presiden JD Vance sebagai penggantinya. Namun, dalam perkembangan terbaru, Trump menegaskan sikapnya jauh lebih keras.
Tanah Dirampas, Pelanggaran HAM Disorot
Dalam unggahan di media sosialnya, Trump dengan nada tegas menyatakan AS tidak akan mengirim wakilnya sama sekali selama Afsel terus melakukan apa yang ia sebut sebagai ‘pelanggaran hak asasi manusia’.
“Sungguh memalukan bahwa G20 akan diselenggarakan di Afrika Selatan. Orang-orang Afrikaner (keturunan pemukim Belanda, serta imigran Prancis dan Jerman) sedang dibunuh dan disembelih, sementara tanah dan lahan pertanian mereka dirampas secara ilegal,” tulis Trump, merujuk pada isu sensitif perampasan lahan milik petani kulit putih.
Pernyataan ini sontak menambah panas tensi hubungan AS dengan Afsel. Bagi Afsel sendiri, tahun ini adalah momen penting karena mereka menjadi negara Afrika pertama yang memegang Presidensi G20. Konferensi dua hari itu sendiri dijadwalkan berlangsung pada 22-23 November 2025 di Johannesburg, dan seharusnya menjadi etalase keberhasilan diplomasi Afsel di kancah global.
Menanti ‘Panggung’ Trump di Miami
Keputusan Trump untuk memboikot G20 di Afsel ini jelas memiliki konsekuensi politik dan ekonomi yang besar, mengingat AS adalah salah satu negara ekonomi terbesar dalam kelompok 20. Namun, tampaknya Trump lebih memilih menggunakan isu HAM petani sebagai senjata untuk menekan Afsel.
Terlepas dari sikap boikotnya, Trump sudah menantikan kesempatan AS menjadi tuan rumah KTT G20 tahun depan. Ia dijadwalkan akan memimpin perhelatan tersebut di resor golf miliknya di Miami, Florida. Dengan percaya diri, Trump mengaku menantikan kesempatan itu untuk memamerkan ‘keberhasilan luar biasa’ pemerintahannya kepada seluruh dunia.
Dengan tidak hadirnya AS, KTT G20 di Johannesburg mau tidak mau akan berjalan tanpa kehadiran salah satu pemain kunci global. Publik kini menanti, apakah sikap keras Trump ini akan melunak atau justru menjadi preseden baru dalam dinamika pertemuan negara-negara ekonomi utama dunia.










