Ekonom Ingatkan Risiko Meningkat Ketika Bank Terlalu Serakah Menampung Tabungan Masyarakat

Ekonom Ingatkan Risiko Meningkat Ketika Bank Terlalu Serakah Menampung Tabungan Masyarakat

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 14 Desember 2025 – 21:41 WIB

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko. (FOto: ANTARA/HO-NEXT Indonesia Center) .

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko. (FOto: ANTARA/HO-NEXT Indonesia Center) .

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ternyata, ada tak enaknya juga bagi bank yang menyimpan dana pihak ketiga (DPK) alias tabungan dalam jumlah super jumbo. Karena meningkatkan risiko keuangan.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko mengingatkan, konsentrasi DPK yang terlalu besar karena bisa menimbulkan risiko sistemik, apabila tidak diiringi tata kelola yang kuat.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2025, empat bank besar yang masuk kategori KBMI (Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti) IV, yakni Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA, tercatat menguasai 53,44 persen dari total DPK yang mencapai Rp9.329 triliun.

“Angka tersebut menegaskan posisi mereka sebagai pemain dominan dalam likuiditas perbankan nasional. Namun konsentrasi terlalu tinggi pada bank-bank besar juga bisa menimbulkan risiko sistemik jika tidak disertai tata kelola yang kuat,” kata Christiantoko di Jakarta, Minggu (214/12/2025).

DPK merupakan uang masyarakat yang disimpan di bank dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito berjangka. Dana ini menjadi sumber pendanaan utama bank untuk menyalurkan kredit dan menjaga likuiditas.

Jika dilihat lebih rinci, Bank Central Asia (BCA) tercatat sebagai bank dengan nilai tabungan terbesar. Berdasarkan laporan triwulanan OJK per Juni 2025, nilai tabungan yang dihimpun bank tersebut mencapai Rp587,5 triliun.

Capaian tersebut melampaui bank-bank pelat merah yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang menghimpun Rp554,7 triliun, Bank Mandiri Rp529,6 triliun, dan Bank Negara Indonesia (BNI) Rp265,1 triliun.

Christiantoko menilai, pertumbuhan dana tabungan BCA mencerminkan dinamika perilaku masyarakat yang semakin selektif memilih bank dengan layanan digital paling stabil.

Hal ini, imbuh dia, tidak hanya dipengaruhi oleh loyalitas, namun harus ditunjang oleh teknologi yang reliable sehingga nasabah merasa transaksi menjadi mudah sekaligus tetap aman.

Apabila BCA unggul di tabungan, BRI tetap unggul dalam hal instrumen simpanan jangka panjang. BRI memimpin penguasaan deposito berjangka nasional senilai Rp506,1 triliun per Juni 2025.

Dominasi BRI di deposito jauh meninggalkan bank-bank pesaing lainnya yang masuk KBMI IV. Adapun Bank Mandiri berada di posisi kedua dengan Rp314,8 triliun, diikuti BNI Rp243,8 triliun dan BCA Rp192,9 triliun.

Christiantoko menilai, kekuatan BRI didukung oleh basis nasabah yang luas dan loyal, termasuk segmen pensiunan, ASN, dan UMKM, serta strategi penghimpunan dana yang didukung jaringan masif Agen BRILink dan produk deposito fleksibel berbasis digital (e-deposito).

“Kekuatan BRI dalam menghimpun dana jangka panjang memberi ruang lebih besar untuk ekspansi kredit dan menjaga likuiditas. Namun, struktur pasar yang sangat terkonsentrasi juga menuntut pengawasan yang kuat agar risiko likuiditas dan stabilitas sistem tetap terkendali,” kata dia.

Sementara Bank Mandiri merupakan pemimpin pasar dalam penghimpunan dana giro. Pada Juni 2025, volume giro yang dikelola Mandiri tercatat mencapai Rp615,5 triliun. Capaian ini sejalan dengan fokus bank tersebut yang selama ini menyasar nasabah korporat, segmen yang lebih banyak menggunakan giro dalam bertransaksi.

Adapun BRI berada di posisi kedua dengan nilai giro Rp415,3 triliun. BCA menyusul dengan Rp382,5 triliun, sementara BNI mencatat Rp376,8 triliun. Struktur ini memperlihatkan jarak yang cukup lebar antara Mandiri dan para pesaing terdekat, terutama dalam kemampuan menarik transaksi korporasi dan institusi.

Dominasi Mandiri di giro, BRI di deposito, dan BCA di tabungan menunjukkan bagaimana masing-masing bank besar menguasai segmen utamanya. Peta ini sekaligus mencerminkan struktur DPK nasional yang semakin terpusat dan menjadi indikator penting bagi stabilitas sistem keuangan.

Topik
Komentar

Visited 6 times, 1 visit(s) today