Jejak Gelap Malone Lam: Bocah Ajaib Singapura di Balik Pencurian Bitcoin Rp5,5 Triliun

Jejak Gelap Malone Lam: Bocah Ajaib Singapura di Balik Pencurian Bitcoin Rp5,5 Triliun

Ikhsan Medium.jpeg

Sabtu, 20 Desember 2025 – 06:07 WIB

Malone Lam Yu Xuan. (Foto: medium.com)

Malone Lam Yu Xuan. (Foto: medium.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dunia kripto kembali diguncang oleh kisah kriminalitas yang melibatkan anak muda dengan kecerdasan di atas rata-rata, namun disalahgunakan untuk menguras pundi-pundi digital. Adalah Malone Lam, pemuda asal Singapura yang kini menjadi sorotan utama di pengadilan federal Washington DC, Amerika Serikat (AS). Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, ia didakwa menjadi otak di balik komplotan internasional yang berhasil menggondol 4.100 Bitcoin.

Nilainya? Tidak main-main. Dengan kurs saat ini, aset curian tersebut menembus angka US$350 juta atau setara dengan Rp5,5 triliun. Sebuah angka yang fantastis bagi seorang pemuda yang bahkan belum menyelesaikan pendidikan menengahnya.

Kabar terbaru setelah persidangan Rabu (17/12/2025) menyebutkan bahwa pengacara Lam, John Patrick Pierce, tengah mengupayakan kesepakatan pembelaan (plea deal) dengan jaksa penuntut umum. “Kami ingin memberikan upaya terbaik untuk mencapai penyelesaian dengan itikad baik,” ujar Pierce di depan meja hijau.

Putus Sekolah Demi Kerajaan Kripto Ilegal

Lahir pada 19 Juli 2004, Malone Lam Yu Xuan awalnya hanyalah siswa biasa di Unity Secondary School, Singapura. Namun, pada 2017, ia memilih jalan hidup yang berbeda. Ia meninggalkan bangku sekolah dan menenggelamkan diri dalam komunitas gim daring serta perdagangan mata uang kripto.

Tahun 2023, Lam mengadu nasib ke AS. Dengan nama samaran ‘Anne Hathaway’ dan ‘$$$’, ia memimpin kelompok bernama Social Engineering Enterprise. Kelompok ini terdiri dari 14 pemuda usia 18 hingga 22 tahun yang ia rekrut melalui dunia gim. Di balik layar monitor, mereka menjelma menjadi sindikat predator yang sangat lincah.

Modus Halus Berujung Kuras Habis

Cara kerja Lam dan komplotannya terbilang sangat rapi. Mereka tidak menggunakan kekerasan, melainkan rekayasa sosial (social engineering). Mereka menyamar sebagai agen dukungan teknis dari raksasa teknologi seperti Google atau bursa kripto papan atas.

Targetnya adalah orang-orang kaya dengan aset kripto melimpah. Dengan dalih memberikan perlindungan keamanan, mereka merayu korban hingga memberikan kunci rahasia (private keys) atau seed phrases. Begitu akses dikuasai, dalam hitungan detik, seluruh aset korban ludes berpindah tangan.

Uang hasil jarahan itu dicuci melalui bursa luar negeri (offshore) sebelum dicairkan menjadi tunai. Gaya hidup Lam di AS pun berubah drastis menjadi sangat hedonis. Ia menghabiskan jutaan dolar untuk mobil sport, perhiasan mewah, sewa apartemen elite di Miami, hingga membeli tas Hermès Birkin mahal untuk kekasihnya.

Jaring Internasional dan Ancaman Deportasi

Pelarian Lam berakhir setelah FBI mengendus jejak mewahnya. Investigasi kini berkembang pesat hingga menjaring 17 tersangka. Jaringan ini terbukti memiliki akar yang kuat hingga ke Dubai. Baru-baru ini, rekan-rekan Lam seperti Nicholas Dellecave, Mustafa Ibrahim, dan Danish Zulfiqar diringkus di Miami dan Dubai.

Sembilan rekan Lam sudah mengaku bersalah dan siap bersaksi melawan mantan bos mereka tersebut. Sementara itu, Lam kini terjepit di antara jeratan undang-undang federal AS, termasuk UU Organisasi yang Dipengaruhi dan Korup (RICO), penipuan kawat, serta pencucian uang.

Jika kesepakatan pembelaan gagal, Lam menghadapi ancaman hukuman penjara puluhan tahun, denda jutaan dolar, penyitaan seluruh aset, hingga dideportasi kembali ke Singapura. Pengadilan akan kembali digelar pada 12 Januari 2026 untuk menentukan nasib sang ‘Bocah Kripto’ ini. 
 

Visited 4 times, 1 visit(s) today