Jamu tak Mati Dimakan Zaman, Ramuan Lawas di Era Medis Modern

Jamu tak Mati Dimakan Zaman, Ramuan Lawas di Era Medis Modern

Reyhaanah Medium.jpeg

Sabtu, 7 Februari 2026 – 21:14 WIB

Penampakan kios jamu di salah satu pasar malam, kawasan Jakarta Timur. (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Penampakan kios jamu di salah satu pasar malam, kawasan Jakarta Timur. (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Apotek modern boleh tumbuh di mana-mana, tapi kios jamu tetap bisa bertahan hidup. Botol-botol berisi cairan keruh berjajar di etalase, menjadi bukti bahwa ramuan tradisional belum kehilangan peminat, seperti yang terjadi di sebuah pasar malam di kawasan Jakarta Timur.

Etalase dijejali botol kaca dan plastik berisi cairan cokelat, merah gelap, sampai kehijauan. Sebagian label terlihat kusam, dengan nama-nama yang akrab sejak lama. Ada jamu pegal linu, masuk angin, hingga racikan penambah stamina.

Seorang pembeli berhenti cukup lama di depan etalase. Matanya melihat tajam keterangan pada botol-botol itu. Sesekali bertanya, sebelum akhirnya menentukan pilihan. Pemandangan semacam ini lazim ditemui, meski apotek modern dan layanan kesehatan digital kian merajalela.

Di tengah pesatnya dunia medis, jamu rupanya belum kehilangan penggemar. Untuk keluhan ringan akibat rutinitas harian, ramuan herbal masih jadi andalan sebagian orang.

“Biasanya kalau badan capek, pegal, atau masuk angin, saya minum jamu dulu aja ini. Lagi agak meriang dari kemarin,” ujar Wahyu (31), warga Pisangan, Jakarta Timur, Selasa (3/2/2026).

Ia mengaku sudah lama mengonsumsi jamu dan merasa tubuhnya lebih cocok dengan pengobatan herbal. Ada warisan pengalaman lintas generasi yang membuatnya tetap bertahan. Jauh sebelum obat modern mudah dijangkau, ramuan ini sudah jadi penolong pertama.

Selain faktor kebiasaan, meningkatnya kesadaran hidup sehat ikut mendongkrak pamor jamu. Di tengah kekhawatiran soal efek samping obat kimia, jamu dilihat sebagai pilihan yang lebih alami. Meski hasilnya tak selalu instan, banyak yang merasa lebih nyaman menjalaninya.

“Banyak juga warga kalau dari rumah sakit nggak mempan tuh ke sini. Kita tanya keluhannya apa, kita racik. Sejauh ini Alhamdulillah pada enakan,” ucap Ubay (45), penjual jamu asal Jawa yang sudah lima tahun menekuni dunia herbal.

Jamu memang bukan lagi satu-satunya pilihan. Tapi di tengah deretan obat modern, ramuan herbal tetap bertahan. Diracik, diteguk, dan dipercaya, karena bagi banyak orang, tubuh kadang lebih nyaman dirawat dengan cara yang sudah dikenal sejak lama.

Menariknya, pemburu jamu kini tak melulu orang tua. Anak muda ikut merapat, terutama demi menjaga imun dan kebugaran. Ada yang ikut kebiasaan keluarga, ada pula yang terpengaruh tren hidup sehat berbasis bahan alami.

Ubay mengaku tak kaget jika banyak pembeli masih awam soal jamu. Ia kerap menjelaskan isi racikan yang ditawarkan. Padahal, harga satu gelas jamu racikannya tak sampai Rp20 ribu.

“Obat atau vitamin yang kita kasih nggak kaleng-kaleng. Ini vitamin satu botol isi 40 kapsul harganya ratusan ribu loh, ini biasanya buat daya tahan tubuh, ginseng asli,” katanya sambil menunjukkan botol vitamin berwarna hijau-putih.

Bagi Ubay, jamu bukan sekadar komoditas. Di setiap racikan, ada harapan agar orang yang meminumnya merasa lebih baik. “Kalau mereka balik lagi sambil bilang badannya enakan, itu sudah cukup buat saya,” ujar Ubay.

Visited 6 times, 1 visit(s) today