Dari Wanam untuk Negeri: Totalitas Haji Isam Jadikan Rawa Tumbuh Padi

Dari Wanam untuk Negeri: Totalitas Haji Isam Jadikan Rawa Tumbuh Padi

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 8 Februari 2026 – 13:30 WIB

Ilustrasi Presiden Prabowo Subianto bersama Haji Isam di PSN Wanam. (Desain: Inilah.com).

Ilustrasi Presiden Prabowo Subianto bersama Haji Isam di PSN Wanam. (Desain: Inilah.com).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sejak awal, Presiden Prabowo Subianto punya tekad kuat mewujudkan kemandirian pangan. Semangat Haji Isam membuncah manakala diberi kepercayaan untuk menggarap proyek lumbung pangan di Wanam, pelosok Papua Selatan.

Bisa jadi, Presiden Prabowo sangat terinspirasi dengan Bung Karno. Sang Proklamator yang paham betul akan pentingnya kemandirian di sektor pangan.

“Masalah pangan untuk rakyat, merupakan persoalan hidup atau mati,” disampaikan Bung Karno saat peletakan batu pertama pembangungan Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat (Jabar), pada 1952.

Ya, sang Proklamator betul. Jangan pernah remehkan masalah pangan. Jika ada pemimpin yang menafikannya, sama halnya dengan membawa negera menuju celaka. Karena menyangkut isi perut rakyat Indonesia yang kini jumlahnya lebih dari 280 juta jiwa.

Agar tercukupi, produksi beras nasional minimal harus mencapai 30-31 juta ton. Kalau kurang, ya harus impor. Sangat disayangkan, negeri ‘gemah ripah’ ini harus impor beras. Tertinggal jauh dengan era Soeharto yang mampu mewujudkan swasembada pangan.

Selain itu, importasi beras sama dengan membunuh penghidupan petani yang kini jumlahnya lebih dari 27 juta jiwa. Nah, visi mulia Bung Karno menitis ke Presiden Prabowo.

Dalam pidato pertama sebagai presiden, Prabowo memberikan penekanan khusus kepada masalah pangan.

“Saya telah mencanangkan Indonesia harus segera swasembada pangan. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tidak boleh bergantung pada sumber makanan dari luar,” kata Prabowo di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD, Jakarta, Minggu (20/10/2024).

Pidato perdana Presiden Prabowo Subianto di Gedung MPR-DPD-DPR RI, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2024) pagi. (Foto: Humas Setkab).
Pidato perdana Presiden Prabowo Subianto di Gedung MPR-DPD-DPR RI, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2024) pagi. (Foto: Humas Setkab). 

Prabowo punya mimpi besar. Indonesia kelak bisa menjadi lumbung pangan dunia. Penting bagi Indonesia agar bisa lepas dari potensi krisis global, yang kini membayangi seluruh dunia.

“Saya sudah mempelajari bersama pakar-pakar, yang membantu saya. Saya yakin, paling lambat 4-5 tahun, kita akan swasembada pangan. Bahkan siap menjadi lumbung pangan dunia,” kata Prabowo.

Jauh sebelum dilantik, Prabowo sudah memasang ancang-ancang untuk membangun pertanian, secara masif di Indonesia. Gagasan swasembada, kemandiran atau ketahanan pangan, memenuhi benaknya. Tekad kuat program lumbung pangan dan cetak sawah seluas-luasnya. Semuanya demi itu tadi, Indonesia berdaulat pangan.

Tak mau berlama-lama, Prabowo menyusun program lumbung pangan atau food estate. Perlu keberanian sebelum memutuskan program ini. Karena, sudah banyak pemimpin sebelumnya yang gagal. Program food estate hanya melahirkan rumput, atau semak belukar.

Tentu saja, Prabowo punya perhitungan yang sangat matang. Agar program mulia ini jauh dari kegagalan. Lokasinya dipilih Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Lahannya tak terbatas dan dikenal subur, cocok untuk tanaman pangan.

Agar program ini tak membebani keuangan negara, perlu menggandeng swasta. Siapa dia? Adalah pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, akrab disapa Haji Isam, yang ‘ketiban sampur’. Cocoklah, Haji Isam adalah pemilik Jhonlin Group yang bisnisnya berderet.

Bisa jadi, Prabowo menilai, pengusaha batu bara dan logistik asal Kalimantan Selatan (Kalsel) ini, paling pantas menggarap proyek berbasis nasionalisme ini. Jadi, bicaranya bukan soal cuan berapa? Namun sumbangsih anak bangsa kepada negara.

Bayangkan saja, Kampung Wanam di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, berada di ujung selatan Pulau Papua. Pulau terluas kedua di dunia. Bisa dibayangkan letaknya benar-benar terpencil. Terisolir. Belum lagi Jarak antar distrik, begitu jauhnya.

Selain itu, wilayah Kampung Wanam yang dicanangkan sebagai Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) atau lumbung pangan, sebagian besar adalah hamparan rawa.

Agar padi bisa tumbuh di rawa, tentunya perlu perlakuan khusus. Kondisi tanah di rawa, memiliki keasaman tinggi. Manajemen pengairannya cukup rumit. Seringkali terlalu basah atau sangat kering. Perlu sistem irigasi yang mumpuni. Tantangan lain, minusnya infrastruktur.

Jalan belum ada, demikian pula pelabuhan apalagi bandar udara. Padahal untuk menyulap Wanam menjadi lumbung pangan, perlu infrastruktur. Jika sudah panen pun, mudah mengirimkannya ke luar daerah.

Mau tak mau pembangunan infrastruktur menjadi pilihan pertama Haji Isam. Perlahan tapi pasti, itu dilakukannya. Tentu saja, semua itu perlu dana jumbo. Super jumbo bahkan.

Jadi, jangan bayangkan proyek lumbung pangan di Wanam, seperti membalik telapak tangan. Sekarang membangun, sebulan jadi. Namun, proyek ini bukan pula ‘mission impossible’. Asal konsisten dan terukur, pastilah jadi.

Besarnya tantangan membangun lumbung pangan Wanam yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) itu, tak membuat Haji Isam menyerah. Seperti pepatah: ‘Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai’.

Pemilik Jhonlin Group yang meniti karir dari nol itu, memang dikenal sebagai pengusaha tangguh, serta menjunjung tinggi komitmen. Dan, memiliki nasionalisme tinggi. Apapun bakal dilakukan untuk negeri ini.

“Dalam benak, saya hanya terlintas, bagaimana gagasan Presiden terpilih Bapak Prabowo Subianto bisa tercapai. Bagaimanapun caranya, agar satu juta hektare bisa terealisasi,” kata Haji Isam, Kamis (1/8/2024).

Meski terpencil, Wanam ternyata pernah masuk dalam peta kebijakan pangan di era pemerintahan sebelumnya. Ada program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), namun tak jelas nasibnya. Artinya, kawasan ini sudah lama diproyeksikan sebagai ‘dapur’ masa depan Indonesia.

Bukan saja perlu modal besar, tetapi pendekatannya harus bertahap dan berbasis kesiapan lahan. Jadi, bukan sekadar membuka lahan yang luas, sekaligus. Perlu dilakukan pengembangan dengan uji coba, penguatan infrastruktur dasar, serta melibatkan teknologi pertanian modern.

Sekitar Juli 2024, Haji Isam mulai tancap gas. Didatangkan ribuan ekskavator bermerek Sany sal China, ke Wanam. Dan sejumlah alat berat lainnya, untuk membuka lahan. Nantinya dibangun jalan, pelabuhan, hunian pekerja, serta lahan pertanian. Tentunya lengkap dengan sistem irigasinya.  

Semua pembiayaan awal ditanggung Jhonlin Group, tanpa hitung-hitungan, apakah negara akan mengganti seluruh, sebagian atau malah nol. Tapi ya itu tadi, komitmen Haji Isam adalah untuk Indonesia. “Ini adalah tugas negara yang diberikan kepada saya,” kata Haji Isam saat memantau langsung kedatangan ekskavator itu.

Bulir Padi di Wanam

Di tengah teriknya sinar matahari serta deru alat berat yang memekakkan telinga, bibir Petrus Kahol terus tersenyum. Pastilah ada sesuatu yang membuatnya begitu gembira.

Ternyata, Kepala Kampung Wanam itu semringah, melihat kemilau bulir padi yang diterpa mentari. Sesekali bergerak di terpa angin. Begitu sejuk, menusuk hingga ke hati. Setangkai padi dipegang dan dipencetnya. Terasa keras, pertanda isinya begitu padat.

Dia senyum-senyum lagi. Mungkin karena padi itu, tak pernah ada dalam pikirannya selama 50 tahun hidup di Kampung Wanam. Tiba-tiba, Petrus memencet kupingnya sendiri. Mungkin dia ingin memastikan, semua ini bukan mimpi.

Ternyata benar. Program lumbung pangan Wanam di Papua Selatan, berhasil. Panen padi perdana dilakukan pada Jumat (16/5/2025). Hasilnya, lumayanlah. Tiap hektare sawah rata-rata menghasilkan 2,8 ton.

Ya, jangan bandingkan dengan panen padi di Pulau Jawa yang bisa 5,5-6,5 ton per hektare. Kata anak muda zaman ‘now’: tidak ‘apple to apple’. Karena, lahan di Wanam adalah bekas rawa. Perlu perlakuan khusus sebelum ditanami.

Namun kini, butiran padi itu membuat warga Wanam semakin yakin. Ada potensi ekonomi di daerahnya. Panen perdana ini merupakan bukti bahwa tanah di Papua, cocok untuk pertanian. Termasuk padi. Meski, pola tanamannya sederhana (hambur).

“Panen perdana lumbung pangan Wanam seperti peribahasa habis gelap terbitlah terang. Kita buktikan bahwa Wanam sangat cocok untuk pertanian, terutama padi,” tandas Petrus.

Komandan Satuan Tugas Bawah Kendali Operasi (Dansatgas BKO) Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Mayor Jenderal (Mayjen) TNI, Ahmad Rizal Ramdhani menuturkan, berdasarkan hasil survei tanah dan air, wilayah Wanam sangat cocok untuk pertanian.

Padi yang ditanam sebulan, menggunakan benih Inpara 2, varietas khusus padi rawa, telah menunjukkan pertumbuhan optimal. Padahal, padi di situ tumbuh tanpa pupuk, pestisida, atau teknologi berat.

“Masyarakat Wanam dulunya berburu, sekarang kita edukasi pelan-pelan agar beralih ke bertani. Kita mulai dari yang paling sederhana agar mereka tidak kesulitan menerima ilmu baru,” jelas Ahmad Rizal.

Keberhasilan panen ini, menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Wanam mendukung Program Strategis Nasional (PSN) sektor ketahanan pangan. “Hal, ini menegaskan potensi besar lahan Wanam sebagai lumbung padi baru di tanah Papua,” tegas dia.

Totalitas Haji Isam pun terbayar lunas. Belum setahun diberi mandat, kerja keras pengusaha yang dikenal dermawan itu, meraih capaian yang luar biasa. Hamparan rawa disulap jadi sawah, hasilnya pun bikin sumringah.  

Selanjutnya, produktivitas sawah di Wanam diyakini bakal meningkat dengan penerapan sistem tanam jajar-legowo, pemupukan tepat waktu, serta perawatan berbasis teknologi pertanian modern.

Tak kalah penting, gabah hasil panen ini akan digunakan sebagai benih sumber. Karena, telah beradaptasi secara alamiah dengan karakteristik lahan Wanam. Benih inilah yang akan menjadi modal awal pengembangan sawah baru di wilayah sekitarnya.

Kesuksesan ini merupakan hasil sinergi pengolahan tanah yang tepat, pemanfaatan teknologi sesuai kondisi rawa pasang surut, serta manajemen irigasi yang cermat.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah mengunjungi Desa Wanam pada 3 November 2024. Presiden meninjau langsung proses persiapan demplot (demonstration plot) padi yang dirancang untuk mengakselerasi produktivitas pertanian di kawasan timur.

Presiden Prabowo Subianto didampingi beberapa menteri dan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, kunjungi proyek cetak sawah 1 juta hektare di Desa Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, Minggu (3/11/2024). (Foto: Dok. Inilah.com).
Presiden Prabowo Subianto didampingi beberapa menteri dan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, kunjungi proyek cetak sawah 1 juta hektare di Desa Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, Minggu (3/11/2024). (Foto: Dok. Inilah.com).

Kala itu, para petani lokal menyiapkan lahan dengan serius. Mengikuti teknik budidaya terbaru, demplot padi diharapkan menjadi pusat pembelajaran dan percontohan bagi petani lainnya.

Ternyata benar, bumi Merauke memiliki potensi luar biasa sebagai kawasan pertanian produktif. Daerah ini memiiki ketersediaan air yang melimpah, dan lapisan tanah hitam subur berkedalaman 15–30 sentimeter (cm).

Untuk keberlanjutan program ini, Haji Isam sadar betul masih banyak yang harus dikerjakan. Misalnya, penguatan sistem panen, pemanfaatan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk pemantauan real-time, serta pelatihan petani lokal agar lebih siap mengelola pertanian secara modern.

Totalitas Haji Isam

Semakin tinggi pohon, tambah kencang anginnya. Ternyata, tidak semua orang suka dengan kedekatan Haji Isam dan Presiden Prabowo. Dalam berbagai acara penting, Presiden sering meminta Haji Isam hadir. Ya, biasalah.

Banyak kritik khususnya dari kalangan LSM, menyasar program lumbung pangan Wanam yang digarap Jhonlin Group. Mulai dari isu lingkungan, hingga mempermasalahkan anggarannya. Termasuk menggulirkan isu proyek Wanam adalah proyek swasta, bukan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Atas isu ini, Dansatgas BKO Ketahanan Pangan Kementan, Mayjen TNI Mayjen Ahmad Rizal Ramdhani buru-buru meluruskan. Dijelaskan bahwa negara telah menunjuk Jhonline Group untuk mengerjakan proyek lumbung pangan Wanam yang masuk PSN.

Nah, Presiden Prabowo sudah menetapkan Wanam menjadi salah satu lokasi PSN, melalui program kawasan satelit pangan yang dikerjakan putra-putri bangsa.

Penegasan ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19 Tahun 2025 tentang Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional. Serta, Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional.

Pekerja menyelesaikan pembangunan Dermaga Jetty Multipurpose di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, mencapai progres 93 persen dan ditargetkan beroperasi secara fungsional pada Maret 2026. (Foto: Inilah.com).
Pembangunan Dermaga Jetty Multipurpose di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, mencapai progres 93 persen. (Foto: Inilah.com).

Banyak program turunannya. Mulai cetak sawah sejuta hectare di mulai Wanam, Distrik Ilwayab hingga Distrik Okaba dan pemekarannya. “Ini kegiatan PSN, negara khusus menunjuk satu perusahaan, PT Jhonlin Group,” kata Ahmad Rizal.

Pertimbangan menunjuk Jhonlin Group, kata dia, karena perusahaan yang didirikan Haji Isam itu, memiliki pengalaman kerja, track record, kapabilitas dan sumber daya yang luar biasa.  

Ahmad Rizal betul. Sejak awal pengerjaan pada 2024, lebih dari 20 unit alat berat milik Jhonlin tenggelam, karena beratnya medan. Namun setelah diangkat, alat berat tersebut bisa kembali digunakan.

Dalam proyek besar ini, dia merasa bangga. Lantaran, operator-operator yang mengoperasikan alat berat di PSN, adalah anak-anak asli Papua.  

“Khusus operator dari Jawa, Sumatera bahkan Kalimantan, mohon maaf, 3-4 bulan mereka sudah minta pulang. Karena kangen dengan keluarga. Kalau anak-anak di sini yang jadi operator, bisa langsung pulang ke rumah. Kita ingin berdayakan anak-anak lokal,’’ tambahnya.

Pun demikian dengan pembangunan Dermaga Jetty Multipurpose di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Semua pekerjanya adalah anak bangsa,

Hingga akhir Januari 2026, perkembangan proyek yang menjadi bagian dai PSN Wanam ini, cukup memuaskan. Progresnya mencapai 93 persen. Targetnya, pelabuhan berkapasitas 50.000 deadweight tonnage (DWT) ini, mulai beroperasi pada Maret 2026.

Rencana besarnya, Pelabuhan ini menjadi pintu masuk Utama bagi logistik alat berat dan berbagai sarana produksi pertanian. Demi mendukung program pengembangan kawasan pangan di Wanam, termasuk proyek cetak sawah sejuta hektare.

Anggota Tim Proyek Wanam, Gawang Kurniawan mengatakan, secara umum pekerjaan konstruksi berjalan sesuai perencanaan. Meski demikian, kondisi cuaca pesisir yang kerap berubah menjadi tantangan utama selama pelaksanaan di lapangan.

Hanya saja, faktor cuaca membuat jadwal operasional fungsional dermaga baru dapat dipastikan pada pekan keempat Maret 2026.

Untuk menopang beban alat berat, struktur dermaga menggunakan sebanyak 3.484 ton pipa baja berkualitas tinggi yang ditanam sebagai tiang pancang. Dermaga tersebut dirancang untuk menahan beban ribuan ton, termasuk ekskavator yang akan digunakan dalam pembukaan lahan pertanian.

Selain dermaga, pembangunan infrastruktur pendukung lainnya juga dilakukan di kawasan Wanam. Salah satunya adalah pembangunan tangki High Speed Diesel (HSD) berkapasitas 5.000 meter kubik.

Tangki tersebut akan terhubung langsung dengan dermaga melalui jaringan pipa untuk memasok bahan bakar bagi operasional alat berat di kawasan food estate.

Di kawasan yang sama, dua unit gudang multipurpose dengan total luas 5.000 meter persegi tengah dibangun. Gudang tersebut akan difungsikan sebagai tempat penyimpanan pupuk, benih, dan logistik pertanian lainnya sebelum didistribusikan ke area cetak sawah melalui jaringan jalan sepanjang 135 kilometer.

Pembangunan PSN Wanam, turut memperhatikan aspek sosial dengan melibatkan masyarakat lokal, khususnya pemilik hak ulayat dari marga-marga suku Malind Anim di Kampung Wanam.

Kini, totalitas Haji Isam sudah mulai terlihat wujudnya. Siap-siap, perekonomian Papua bakal melejit pesat. Menggerus kemiskinan di Papua yang ‘gemah ripah loh jinawi’. (syahidan, ipe)

Visited 9 times, 1 visit(s) today