ICPI: Gangguan Penerbangan di Soetta Berisiko Gerus Minat Wisatawan ke Indonesia

ICPI: Gangguan Penerbangan di Soetta Berisiko Gerus Minat Wisatawan ke Indonesia

Ibnu Medium.jpeg

Selasa, 10 Februari 2026 – 00:15 WIB

Ilustrasi - Calon penumpang di area Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten. (Foto: ANTARA/Azmi Samsul M).

Ilustrasi – Calon penumpang di area Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten. (Foto: ANTARA/Azmi Samsul M).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari, mengingatkan bahwa gangguan jadwal penerbangan, seperti keterlambatan (delay) maupun pembatalan, berisiko besar menekan rasa aman dan minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. 

Hal ini disampaikan merespons laporan tingginya angka gangguan penerbangan di sejumlah bandara Asia, termasuk Jakarta.

Azril menegaskan bahwa dalam tren pariwisata saat ini, faktor keamanan dan kenyamanan perjalanan telah menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

“Satu syarat bagi pengunjung adalah keamanan dalam perjalanannya hingga selama destinasi yang dituju. Keinginan perilaku pengunjung saat ini pun telah bergeser guna mendapatkan ketenangan dirinya atau serenity,” kata Azril di Jakarta, Senin (9/2/2026).

Menurutnya, gangguan operasional membuat wisatawan merasa tidak aman, yang pada akhirnya memengaruhi persepsi dan keputusan mereka untuk datang.

Kekhawatiran ini beralasan, mengingat laporan media perjalanan Travel and Tour World mencatat adanya 4.284 keterlambatan dan 95 pembatalan penerbangan di 16 bandara internasional Asia. Dalam laporan tersebut, Bandara Internasional Soekarno-Hatta tercatat memiliki jumlah pembatalan tertinggi yakni 20 penerbangan, disusul Istanbul Sabiha Gokcen dan Teheran Imam Khomeini.

Azril menambahkan, selain masalah teknis, maskapai penerbangan saat ini juga menghadapi tekanan biaya operasional yang berat. Hal ini dipicu oleh harga avtur yang tinggi serta mulai diwajibkannya penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada tahun 2026 demi target dekarbonisasi.

“Bagi maskapai yang beroperasi di Indonesia, harus menanggung biaya tiket lebih tinggi karena Avtur yang lebih mahal serta mulai digunakannya SAF mulai 2026 ini,” jelasnya.

Sebagai informasi, SAF merupakan bahan bakar penerbangan berbasis sumber terbarukan yang digadang-gadang dapat menyumbang pengurangan emisi sektor aviasi hingga 65 persen menuju target nol emisi karbon pada 2050.

Visited 7 times, 1 visit(s) today