Antonio Conte, pelatih kepala SSC Napoli, berdebat dengan wasit Giovanni Ayroldi saat pertandingan Coppa Italia antara SSC Napoli dan Como 1907 di Stadio Diego Armando Maradona pada 10 Februari 2026 di Naples, Italia. (Foto oleh Francesco Pecoraro/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
asil mengejutkan di perempat final Coppa Italia antara Napoli dan Como (1-1, Como menang penalti 7-6) menghadirkan dua reaksi yang sangat bertolak belakang. Pelatih Como, Cesc Fabregas, merayakan pencapaian bersejarah klubnya, sementara pelatih Napoli, Antonio Conte, meluapkan kemarahannya kepada wasit dan situasi tim yang kritis.
Fabregas: “Saya Pernah di Posisi Mereka”
Kesuksesan Como menyingkirkan juara bertahan Serie A ditentukan lewat drama adu penalti. Fabregas mengungkapkan bahwa kunci kemenangan timnya bukan hanya teknik, melainkan psikologis. Sebelum babak adu penalti dimulai, ia memberikan nasihat berharga kepada skuad mudanya.
“Saya katakan kepada mereka, saya pernah berada di posisi Napoli sebagai tim ‘besar’ yang diharapkan menang, dan itu menambah sedikit rasa takut,” ungkap Fabregas kepada Sport Mediaset.
“Saya berterima kasih kepada para pemain… Saya katakan kepada mereka untuk menikmati momen ini,” tambahnya.
Pendekatan santai ini terbukti ampuh. Meski berstatus underdog dan bermain di kandang lawan yang mengintimidasi, para algojo Como tampil tenang, termasuk kiper Jean Butez yang menjadi pahlawan dengan menepis penalti Stanislav Lobotka.
Kemenangan ini membawa Como ke semifinal Coppa Italia untuk pertama kalinya sejak 1986, di mana mereka akan menantang Inter Milan.
Conte: Wasit Buruk, Pertanyaan Scudetto Konyol
Di kubu tuan rumah, suasana panas menyelimuti Antonio Conte. Pelatih Napoli itu geram dengan kepemimpinan wasit Giovanni Ayroldi, terutama terkait keputusan tidak memberikan kartu merah kepada pemain Como, Jacobo Ramon, yang melanggar Rasmus Hojlund.
“Ini tentu bukan musim yang baik bagi wasit dan VAR… Rocchi (Ketua Wasit) harus meningkatkan kualitas wasit dan petugas VAR-nya,” kritik Conte pedas.
Namun, frustrasi terbesar Conte tertuju pada badai cedera yang menghantam skuadnya. Ia menyebut pertanyaan wartawan mengenai peluang Scudetto sebagai hal yang “absurd” dan “konyol” di tengah krisis pemain yang dialami Napoli.
“Bagaimana Anda bisa memprediksi cedera Di Lorenzo, Lukaku dengan tendon lepas, De Bruyne…?” tanya Conte dengan nada sarkas.
“Ada jarak sembilan poin (dengan Inter), kami punya masalah serius dan Anda berbicara tentang Scudetto. Ayolah… Kita harus serius dalam pertanyaan dan evaluasi, kalau tidak semuanya menjadi konyol,” tutup Conte dengan emosi.
Rangkuman Pasca Laga
Como (Fabregas):
Sukses ke Semifinal (vs Inter).
Kunci: Mentalitas “tanpa beban” & pengalaman Fabregas.
Skuad muda (Rata-rata 22 tahun tanpa pemain senior).
Napoli (Conte):
Tersingkir & Krisis Cedera (McTominay, Lukaku, De Bruyne, Gilmour).
Kritik Wasit: Jacobo Ramon harusnya kartu merah.
Kritik Media: Pertanyaan Scudetto dianggap tidak realistis.














