Gedung Putih di bawah komando Donald Trump tampaknya sedang menyiapkan langkah ‘tak lazim’ untuk mengurai benang kusut di Jalur Gaza. Sebuah proposal perdamaian baru tengah digodok, dan isinya cukup mengejutkan: Kelompok milisi Hamas kemungkinan besar tetap diizinkan menyimpan senjata mereka—setidaknya untuk sementara waktu.
Laporan yang dibocorkan oleh The New York Times ini menyebutkan bahwa Hamas diperbolehkan memegang sejumlah senjata ringan. Namun, ada syarat mutlak yang tidak bisa ditawar, yakni penyerahan seluruh persenjataan berat sejak tahap awal kesepakatan dimulai.
Strategi ‘Pelucutan Perlahan’ ala Jared Kushner
Draf ini bukan disusun oleh orang sembarangan. Di belakangnya ada tim elite yang dipimpin langsung oleh menantu Trump, Jared Kushner, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan mantan pejabat senior PBB, Nickolay Mladenov.
Strategi yang mereka usung adalah demiliterisasi bertahap. Alih-alih memaksa Hamas menyerah total dalam semalam –yang terbukti mustahil– AS menawarkan skema pelucutan senjata yang memakan waktu berbulan-bulan.
Tujuannya jelas: memecah monopoli kekuasaan Hamas di Gaza tanpa memicu ledakan konflik baru yang lebih besar.
Perpecahan Internal di Tubuh Hamas
Bagaimana respons Hamas? Hingga kini, kelompok tersebut masih membisu. Namun, isu penyerahan senjata ini kabarnya telah memicu kegaduhan dan perpecahan di internal mereka.
Bagi banyak anggota faksi perlawanan, melepas senjata adalah bentuk pengkhianatan terhadap ideologi dan sama saja dengan menyerah kalah kepada Israel.
Tokoh senior Hamas, Khaled Meshal, bahkan sudah melempar sinyal dingin dari Doha, Qatar. “Selama ada pendudukan, maka akan ada perlawanan,” tegasnya.
Meski ia menambahkan bahwa Hamas tidak berencana menggunakan senjata dalam waktu dekat, pernyataan itu menegaskan bahwa senjata adalah ‘harga mati’ bagi eksistensi mereka.
Israel Tetap Pasang Urat Syaraf Tegang
Di sisi lain, posisi Israel tetap tak bergeming. Pemerintahan Benjamin Netanyahu sudah bersumpah tidak akan menarik mundur satu pun pasukannya dari Gaza sebelum Hamas benar-benar ‘ompong’ tanpa senjata.
Persoalan krusial yang belum terjawab dalam proposal AS ini adalah: siapa yang akan menampung dan mengawasi ribuan pucuk senjata tersebut kelak? Tanpa mekanisme pengawasan yang kredibel, proposal ini dikhawatirkan hanya akan menjadi macan kertas.
Kini dunia menanti. Dalam beberapa pekan ke depan, draf ini akan resmi disodorkan ke meja perundingan. Apakah ini akan menjadi titik balik perdamaian, atau justru babak baru dari kebuntuan panjang di tanah para nabi?











