Rupiah Belum Menguat, Cadev Akhir Mei 2026 Tersisa US$144,9 Miliar

Rupiah Belum Menguat, Cadev Akhir Mei 2026 Tersisa US4,9 Miliar

Iwan Medium.jpeg

Senin, 8 Juni 2026 – 11:31 WIB

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso. (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunissa/am).

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso. (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunissa/am).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa (cadev) hingga akhir Mei 2026 berada di posisi US$144,9 miliar. Jumlah tersebut susut US$11,6 miliar, karena posisi akhir Desember 2025 sebesar US$156,5 miliar. 

Di sisi lain, susut besar cadev karena digunakan untuk berbagai keperluan, salah satunya untuk operasi pasar BI demi stabilisasi nilai tukar rupiah. Ironisnya, rupiah tak jua stabil, malah ambruk ke level Rp18.100 per dolar AS (US$). 

Kalau dirata-rata, cadev tergerus US$2,32 miliar per bulan. Dengan asumsi kurs Rp17.500/US$ maka susut cadev per bulan setara Rp40,6 triliun.

Jika dibandingkan dengan cadev akhir April 2026 yang masih sebesar US$146,2 miliar, terjadi penurunan US$1,3 miliar.

“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat 144,9 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan posisi akhir April 2026,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Senin (8/6/2026).

Dia menjelaskan, penurunan cadev disebabkan banyak hal. Misalnya untuk penerbitan surat utang global bonds pemerintah, serta penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta stabilisasi nilai tukar rupiah.

Lagi-lagi, dia menyebut, cadev per Mei 2026 sebesar US$144,9 miliar, masih tergolong aman. Karena setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,5 bulan impor, ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka itu, kata Ramdan, masih jauh di atas ambang batas kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. “Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Ramdan.

Posisi tersebut, lanjutnya, akan tetap memadai dalam beberapa waktu ke depan. Optimisme itu didorong oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutupnya.

Cadev Susut US$2 Miliar per Bulan

Sebelumnya, Economic Researcher CORE, Yusuf Rendy Manilet sudah mengingatkan akan susut besar cadev sekitar US$10 miliar dalam 5 bulan terakhir. Mencerminkan besarnya tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik.

“Penurunan ini sangat berkaitan dengan pelemahan rupiah yang terus-menerus. Bank Indonesia sendiri menjelaskan salah satu penyebab turunnya cadangan devisa adalah stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Yusuf, Jakarta, Sabtu (9/5).

Tren penurunan cadev ini, harus dianggap sebagai peringatan yang perlu diwaspadai apabila berlangsung dalam jangka panjang, tanpa adanya pemulihan terhadap nilai tukar.

Ia memperingatkan, jika penurunan berlangsung terus dengan ritme sekitar US$2 miliar per bulan, dalam beberapa kuartal ke depan, pasar pasti mulai mempertanyakan seberapa kuat daya tahan Indonesia menghadapi tekanan dolar global. “Tren pengurangan ini tetap menjadi lampu kuning,” tutur Yusuf.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 1 visit(s) today