Toleransi di Premier League: Pertandingan Boleh Dijeda Saat Azan Magrib

Toleransi di Premier League: Pertandingan Boleh Dijeda Saat Azan Magrib

Kabar baik bagi para pesepak bola Muslim di daratan Inggris yang tengah menjalankan ibadah di bulan suci. Kompetisi kasta teratas Premier League (Liga Premier) dan English Football League (EFL) dipastikan akan tetap mengizinkan para pemain Muslim untuk membatalkan puasa Ramadan mereka di tengah berjalannya pertandingan pada tahun ini.

Bulan suci Ramadan tahun ini di wilayah Inggris Raya (United Kingdom) telah berlangsung sejak Selasa, 17 Februari.

Kebijakan yang sangat mengedepankan toleransi beragama ini sejatinya telah diberlakukan dan diperkenalkan sejak tahun 2021.

Mekanismenya, tim-tim yang memiliki pemain Muslim dapat membuat kesepakatan dengan wasit sebelum laga dimulai untuk mencari waktu “jeda alami” dalam pertandingan. Pada masa jeda tersebut, pemain diizinkan menepi ke pinggir lapangan untuk mengonsumsi sedikit makanan atau menambah cairan dengan minuman berenergi (energy gels).

_129265298_break2.jpg.jpg

Jeda Buka Puasa di Derbi London Utara

Sebagai contoh implementasi terdekat, akhir pekan ini waktu matahari terbenam (Magrib) di wilayah Inggris diperkirakan akan jatuh pada sekitar pukul 17.30 GMT.

Oleh karena itu, apabila ada permintaan dari tim, wasit berpeluang besar untuk menghentikan sejenak laga panas derbi London Utara antara Tottenham Hotspur melawan Arsenal yang digelar Minggu sore.

Saat ini, kasta tertinggi Liga Inggris memang bertabur bintang beragama Islam. Beberapa nama besar yang tercatat sebagai pemain Muslim di Premier League antara lain:

  • Mohamed Salah (Liverpool)
  • Amad Diallo (Manchester United)
  • William Saliba (Arsenal)
  • Djed Spence (Tottenham Hotspur)
  • Dango Ouattara (Bournemouth)
  • El Hadji Malick Diouf (West Ham)

Agama Tetap Nomor Satu

Sejarah mencatat, momen ikonis buka puasa (Iftar) di tengah pertandingan Liga Inggris ini pertama kali menyorot Wesley Fofana (Leicester City) dan Cheikhou Kouyate (Crystal Palace) pada tahun 2021. Fofana saat itu secara terbuka berterima kasih kepada pihak penyelenggara Premier League, klub lawan, serta perangkat pertandingan.

Momen serupa kembali viral pada bulan April 2024 saat trio pemain Everton, yakni Abdoulaye Doucoure, Idrissa Gueye, dan Amadou Onana, menghentikan sementara laga melawan Newcastle United demi membatalkan puasa mereka.

Bagi pesepak bola profesional ini, tuntutan fisik di lapangan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban agama. Gelandang andalan Everton, Abdoulaye Doucoure, sempat mengungkapkan kecintaannya pada bulan puasa dalam sebuah wawancara bersama BBC pada 2023.

Meski mengakui bermain bola sambil berpuasa terkadang terasa berat—terutama jika jatuh pada musim panas atau pramusim—Doucoure merasa beruntung karena kondisi fisiknya tidak pernah bermasalah.

“Agama saya adalah hal terpenting dalam hidup saya. Saya menempatkan agama di urutan pertama, barulah pekerjaan saya. Anda bisa melakukan keduanya secara bersamaan dan saya bahagia dengan hal itu,” pungkas pemain asal Mali tersebut.

Visited 10 times, 1 visit(s) today