Mantan pelatih kepala panjat tebing nasional, Hendra Basir, mengaku kecewa atas tuduhan pelecehan seksual yang dialamatkan kepadanya.
Ia merasa tuduhan tersebut tidak adil, terlebih setelah perjalanan panjangnya menangani atlet-atlet elite hingga mempersembahkan prestasi untuk Indonesia.
Hendra dikenal sebagai salah satu sosok penting di balik meroketnya prestasi panjat tebing Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Puncaknya, Indonesia meraih medali emas pada nomor speed putra di Olimpiade Paris 2024 lewat penampilan Veddriq Leonardo.
Namun, dalam beberapa hari terakhir namanya terseret isu dugaan pelecehan seksual terhadap atlet. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) pun menonaktifkan Hendra dari jabatannya sebagai pelatih kepala sembari menunggu proses penelusuran lebih lanjut.
Hendra menyebut persoalan bermula dari dinamika latihan yang menurutnya telah berlangsung selama dua hingga tiga bulan terakhir. Ia mengatakan sudah kembali ke rumah sejak 18 Januari lalu, karena merasa kecewa dengan situasi yang berkembang.
“Jadi sebenarnya ini kan ini urusan latihan aja gitu kan awalnya. Jadi sudah dua bulan belakangan, masuknya udah mau tiga bulan berarti nih. Ya pokoknya saya sudah balik itu kurang lebih sudah lama, saya 18 Januari balik ke rumah gitu kan,” ujarnya baru-baru ini.
Ia menegaskan kekecewaannya muncul karena merasa tuduhan tersebut merupakan bentuk framing dari sejumlah atlet senior.
“Karena saya merasa kecewa karena tuduhan pelecehan seksual itu tuh. Yang di-framing sama temen-temen atlet senior gitu kan. Jadi saya bilang, saya mending pulanglah daripada berjuang buat negara tapi ujung-ujungnya diginiin gitu,” katanya.
Serangan Balik Hendra
Menurut Hendra, persoalan berawal ketika dirinya menegur seorang atlet senior yang telah delapan tahun berlatih bersamanya. Ia menilai ada perubahan sikap dalam pola berlatih atlet tersebut.
“Jadi awalnya itu kan dari saya menegur si atlet senior lah. Saya sudah bareng sama dia kurang lebih delapan tahun, ini gayanya sangat berbeda sekarang. Dia berlatih seperti sangat arogan. Jadi, ya etika berlatihnya yang kurang,” tuturnya.
Ia kemudian mengibaratkan situasi tersebut seperti pemain sepak bola yang tidak menerima keputusan pelatih saat diganti di tengah pertandingan.
“Ya sama ibarat kayak pemain bola itu kalau dikeluarkan dari permainan, diganti pemain pengganti, dia enggak terima, di depan bench ada air mineral dia tendang lah, kira-kira begitu tuh,” ucapnya.
Hendra menambahkan dalam latihan terdapat batas kewajaran dalam bersikap, termasuk dalam mengekspresikan emosi.
“Nah, di latihan juga ada standar batas lah, batas kewajaran lu boleh teriak atau apa. Dan itu sudah berkali-kali saya tegur, tapi ternyata tetep aja enggak berubah,” katanya.
Faksi Atlet Panjat Tebing
Dari situ, ia menilai muncul semacam koalisi dari sejumlah atlet yang merasa tidak nyaman dengan pola kepelatihannya, hingga akhirnya menyampaikan laporan kepada ketua umum federasi.
“Jadi, ya dari situ akhirnya kelihatan koalisi-koalisi dari mereka tuh. Kayak memang mungkin enggak nyaman dengan pola kepelatihan saya gitu. Akhirnya mereka ngadu lah langsung ke ini, ke Ibu Ketum,” ujarnya.
Ia menyebut peristiwa yang menjadi pangkal persoalan terjadi pada 15 Januari dan menurutnya telah selesai dua hari kemudian, sebelum dirinya memutuskan pulang.
“Jadi kejadiannya 15 Januari sebenarnya. Dan 17 Januari udah clear sebelum saya pulang. Tapi ini di-up, di-up lagi, ya jadi pertanyaan saya, ini masalahnya apa gitu,” kata Hendra.











