Perang Israel-AS Vs Iran Picu Kenaikan Harga Minyak, DPR Minta Stok BBM Aman Saat Mudik dan Balik

Perang Israel-AS Vs Iran Picu Kenaikan Harga Minyak, DPR Minta Stok BBM Aman Saat Mudik dan Balik

Clara Medium.jpeg

Sabtu, 14 Maret 2026 – 18:01 WIB

Ilustrasi. (Desain: Canva)

Ilustrasi. (Desain: Canva)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Panasnya geopolitik di Timur Tengah (Timteng) yang dipicu serangan biadab zionis Israel yang disokong Amerika Serikat (AS) ke Iran, berdampak langsung ke sektor energi global.

Membuat ketersediaan dan harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan. Sejumlah negara di dunia di berbagai negara, berada dalam bayang-bayang kenaian harga barang.

Anggota Komisi VI DPR RI, Achmad mengingatkan, pemerintah untuk memastikan ketersediaan BBM tetap terjaga, terutama menjelang periode mudik yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia setiap tahun.

Pasalnya, konflik yang melibatkan sejumlah negara seperti Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global termasuk Indonesia.

“Dengan adanya konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika, tentu ini berdampak pada bahan bakar minyak ke seluruh negeri. Bukan hanya regional Timur Tengah saja, tetapi juga termasuk dampaknya ke kita,” ujar Achmad dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Ia menjelaskan, secara ekonomi kondisi tersebut akan memicu kenaikan harga minyak dunia. Hal ini terjadi karena pasokan energi berkurang sementara permintaan terus meningkat.

“Akibatnya tentu otomatis. Kenapa? Karena suplai berkurang, sementara demand meningkat. Dalam hukum ekonomi, ini otomatis membuat harga naik. Sekarang harga minyak sudah lebih dari 100 dolar per barel,” katanya.

Menurutnya, pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini dengan memastikan cadangan energi nasional, khususnya BBM, tetap tersedia dan terdistribusi dengan baik. Hal tersebut dinilai penting supaya mobilitas masyarakat tidak terganggu, terutama menjelang musim libur dan arus mudik.

Maka dari itu, ia berharap kementerian terkait dapat mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

“Kita harapkan Menteri terkait, apalagi menghadapi libaran ini, jelas membutuhkan stok energi kita khususnya BBM agar jangan sampai terganggu mobilitas masyarakat kita yang memudik. Karena ini adalah tradisi kita, budaya kita yang tidak bisa dihilangkan,” jelas dia.

Harga Minyak Bikin Pening

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, sepuluh bulan ke depan, harga minyak global berpotensi melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok US$70 per barel. Kenaikan harga energi dunia dipicu ketegangan geopolitik dan konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (ketiga dari kanan) menghadiri konferensi pers di Wisma Danantara Jakarta, Sabtu (31/1/2026). (Foto: Antara/Imamatul Silfia)
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (ketiga dari kanan) menghadiri konferensi pers di Wisma Danantara Jakarta, Sabtu (31/1/2026). (Foto: Antara/Imamatul Silfia)

“Pembelian (minyak) kita di bulan Januari–Februari itu angkanya 64,41 dolar Amerika dan 68,79 dolar Ameirka per barel. Ini realisasi, jadi masih di bawah asumsi APBN yang 70 dolar Amerika per barel,” kata Menko Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Namun, pemerintah memperkirakan harga minyak dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

Menko Airlangga mengungkapkan, pemerintah telah menyiapkan tiga skenario terkait lonjakan harga minyak dunia.

Pada skenario pertama, harga minyak diperkirakan rata-rata mencapai 90 dolar AS per barel, dalam lima bulan ke depan. Dalam kondisi ini, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,3 persen.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan meningkat hingga 6,8 persen. Dengan asumsi tersebut, defisit anggaran berpotensi melewati batas aman. “Maka defisitnya adalah 3,18 persen,” ungkap Airlangga.

Pada skenario moderat, harga minyak diperkirakan mencapai 97 dolar AS per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp 17.300 per dolar AS. Dalam kondisi ini, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di level 5,2 persen, sementara imbal hasil SBN naik hingga 7,2 persen. 
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 8 times, 1 visit(s) today