Ekonom Gede Sandra (Foto: Dok. Forumkeadilan)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ekonom Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra menilai narasi ‘Sell Indonesia’ yang bergema di Singapura, merupakan bentuk perlawanan dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang ingin menegakkan ekonomi berbasis Pancasila di Indonesia.
“Saya kira, narasi ‘Sell Indonesia’ harus dilawan dengan ‘Sell Singapura’. Saya yakin mereka takut juga. Ingat ya, praktik under-invoicing dan transfer pricing kan melibatkan bisnis mereka di Singapura,” tandasnya kepada Inilah.com, Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Gede meyakini, gerakan atau narasi ‘Sell Indonesia’ bergema di Singapura, ada kaitannya dengan berbagai upaya pembenahan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Khususnya terkait pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) selaku eksportir tunggal komoditas CPO, batu bara dan paduan besi (ferroalloy).
Dengan terbentuknya DSI, kata Gede, praktik-praktik under-invoicing dan transfer pricing yang hidup bertahun-tahun, merugikan keuangan negara hingga ribuan triliun rupiah, bisa dihentikan.
“Kan para pemain under-invoicing dan transfer pricing adalah perusahaan-perusahaan yang ada di Singapura. Wajarlah mereka merasa terganggu. Tunggu saja balasannya, kita juga bisa Sell Singapura,” bebernya.
Padahal, lanjut Gede, paradigma ekonomi baru yang sedang diwujudkan Presiden Prabowo, punya tujuan baik. Bahwa kekayaan alam harus dikelola negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Harus kembali ke Indonesia untuk menyejahterakan rakyat sekaligus memajukan negeri ini.
“Itu kan sesuai konstitusi, pasal 33. Serta nilai-nilai agung dalam Pancasila. Selama ini, Singapura maju karena menjadi trader saja, bahannya kekayaan alam Indonesia. Sekarang mau ditata ulang, mereka ngamuk,” terangnya.
Narasi ‘Sell Indonesia’ dipakai para investor, salah satunya George Boubouras, kepala riset hedge fund K2 Asset Management untuk menggambarkan sentimen pasar terhadap Indonesia.
“Saya tidak memiliki eksposur sama sekali terhadap Indonesia. Saya tidak akan memberi mereka kesempatan,” ucap Boubouras dikutip The Straits Times dan Bloomberg pada berita mereka berjudul ‘Sell Indonesia’ sweeps trading desks as Prabowo tightens grip yang diterbitkan pada 5 Juni 2026.
Intinya, mereka menilai, strategi paling aman untuk kawasan Asia, bukan investasi di Indonesia. Justru menjual atau mengurangi eksposur investasi baik berupa saham, obligasi, SBN dan rupiah.
Menurut laporan Straits Times, terjadinya pergeseran sentimen hingga muncul narasi ‘Sell Indonesia’ setelah Prabowo menjalankan sejumlah agenda ekonomi sejak menjabat pada Oktober 2024.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










