Petugas melakukan pengisian BBM nonsubsidi jenis Pertamax ke dalam tangki kendaraan di salah satu SPBU Kuta Padang, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Rabu (10/6/2026). (Foto: Antara/Syifa Yulinnas)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai langkah pemerintah mengubah harga BBM Ron 92 (Pertamax) menjadi Rp16.250 per liter sudah sulit dihindari. Kebijakan ini diambil setelah PT Pertamina (Persero) selama beberapa bulan terakhir menahan harga jual BBM nonsubsidi tersebut di bawah harga pasar yang sebenarnya.
“Akhirnya setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi dibendung, sehingga harganya dilepas mengikuti gerak pasar. Karena itu, kenaikan yang sekarang terjadi cukup tinggi. Mau tidak mau, harga Pertamax harus naik,” ujar Hendry dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/6/2026).
Napas Jangka Pendek Pertamina
Hendry menjelaskan, selama ini Pertamina menggunakan dana talangan dari kas internal perusahaan agar harga Pertamax tidak melonjak di masyarakat.
Namun, dana talangan tersebut pada dasarnya hanya alat sementara untuk meredam lonjakan harga agar tidak langsung membebani kantong warga. Ketika nilai tukar (kurs) rupiah melemah dan harga minyak dunia terus merangkak naik, ruang bagi Pertamina untuk mempertahankan harga murah menjadi semakin sempit.
“Dana talangan Pertamina ini ada batasnya. Karena Pertamax ini ‘kan BBM nonsubsidi, tidak ada bantuan dana dari APBN di dalamnya. Jadi, memang murni mengikuti harga pasar,” jelas Hendry.
Taruhan Nasib BUMN Energi
Ia menambahkan, jika Pertamina terus-menerus menutupi selisih harga tanpa menaikkan tarif, kondisi tersebut dapat menggerus keuntungan perusahaan pelat merah tersebut.
Dampaknya tidak hanya menurunkan setoran keuntungan (dividen) kepada negara, tetapi juga merusak penilaian dari para investor dan lembaga pemeringkat terhadap kesehatan keuangan Pertamina.
“Investor tentu melihat hitung-hitungan keuntungan dan kinerja keuangan. Kalau perusahaan terus merugi, siapa yang mau menanam modal di sana?” tuturnya.
Dalam jangka pendek, Hendry menilai menaikkan harga Pertamax merupakan langkah yang jauh lebih masuk akal ketimbang terus memperbesar dana talangan. Sebab, jika dipaksakan, beban berat yang dipikul Pertamina pada akhirnya akan kembali merusak keuangan negara serta kesehatan korporasi itu sendiri.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










