Portugal Wajib Waspada, Ronaldo Cs Bisa Tumpul Lawan Tim Bertahan

Portugal Wajib Waspada, Ronaldo Cs Bisa Tumpul Lawan Tim Bertahan

Portugal akan melawan tim debutan Uzbekistan di Grup K Piala Dunia 2026 di Houston Stadium, Houston, Texas, Amerika Serikat pada Selasa (23/6) pukul 24.00 WIB.

Meski di atas kertas jauh diunggulkan, Cristiano Ronaldo Cs perlu waspada menghadapi tim yang menumpuk pemain di area pertahanan, seperti Kongo di laga pembuka.

Probabilitas gol Ronaldo yang rendah itu menegaskan ketumpulan pemain Al Nassr tersebut saat bertanding di putaran final Piala Dunia.

Catatan Ronaldo dan Portugal itu mungkin berubah lebih positif kala menghadapi debutan Uzbekistan, yang sebenarnya tidak tampil buruk dalam laga perdananya meski tunduk 1-3 kepada Kolombia.

Saat menghadapi Kolombia itu, Uzbekistan yang dilatih Fabio Cannavaro menciptakan probabilitas gol sebesar 1,16.

Itu angka tertinggi yang dibuat tim debutan Piala Dunia sejak Slovakia pada Piala Dunia 2010.

Namun tak seperti Kongo yang menahan seri Portugal, Uzbekistan sedikit lebih menekan, sampai sukses memasukkan satu gol ke gawang Kolombia, walau tetap saja kalah.

Jika ada pemain Uzbekistan yang harus mendapatkan pengawasan ekstra dari Portugal, maka itu adalah gelandang Otabek Shukurov dan striker Abbosbek Fayzullaev.

Shukurov adalah pemain Uzbekistan yang paling sukses mengalirkan bola, dengan 21 kali menuntaskan umpan antarlini, sedangkan Fayzullaev menjadi pemain Uzbekistan yang paling banyak melakukan pressing, 42 kali.

Secara tim, Uzbekistan berhasil pada 87 dari 157 umpan antarlini. Mereka juga 43 kali melakukan agresi ke sepertiga terakhir lapangan.

Angka-angka itu lebih besar ketimbang Republik Demokratik Kongo, yang masing-masing berhasil pada 65 dari total 141 umpan antarlini, dan melakukan hanya 35 tusukan ke sepertiga terakhir.

Jadi, Portugal kali ini menghadapi lawan dengan prospek lebih agresif ketimbang Kongo.

Tapi angka-angka Uzbekistan itu tercipta karena lawan yang dihadapinya Kolombia, bukan Portugal yang dipenuhi para pemain yang kreatif mengalirkan bola dan kuat dalam menembus daerah lawan.

Satu hal pasti, Portugal akan kembali menghadapi tim yang akan menumpuk pemain di lapangan sendiri.

Selecao harus lebih kreatif lagi dalam membongkar pertahanan lawan dan lebih klinis dalam memanfaatkan peluang gol, tidak seperti saat melawan Kongo.

Masalah kohesi

Seharusnya itu menjadi tanggung jawab terbesar Ronaldo, tapi ini juga tuntutan untuk Joao Neves, Francisco Conceicao, Rafael Leao, Pedro Neto, Nelson Semedo, Vitinha, dan Bruno Fernandes, yang merupakan enam pemain Portugal paling aktif menyerang saat melawan Kongo.

Walau Ronaldo kurang aktif dalam melakukan penetrasi ke jantung pertahanan lawan, masalah Portugal sebenarnya lebih dari itu.

Masalah terbesar yang dihadapi tim Roberto Martinez adalah kreativitas dan kohesi di sepertiga terakhir lapangan.

Masalah kohesi ini yang membuat sia-sia upaya Vitinha yang menuntaskan 121 umpan dan Bruno Fernandes yang melepaskan enam umpan silang.

Gelandang-gelandang mereka juga sering terlambat mengantisipasi transisi permainan Kongo dari tim yang ditekan menjadi tim yang menyerang, sehingga tim pertahanan Portugal sering kelabakan.

Ironisnya gol Abbosbek Fayzullaev ke gawang Kolombia saat Uzbekistan kalah 1-3 berasal dari proses seperti itu. Dalam kata lain, Portugal akan tetap mendapatkan masalah yang sama beratnya dengan saat dilawan Kongo.

Apalagi baik Portugal maupun Uzbekistan akan tampil lebih ngotot karena pertandingan ini menentukan nasib mereka berikutnya.

Uzbekistan tak mau cepat-cepat membunuh harapan ke fase gugur dengan kalah melawan Portugal, walau mungkin asa lolos tetap ada jika mengalahkan Kongo dalam pertandingan terakhir.

Salah satu hal yang bisa membuat Abdukodir Khusanov cs lebih bisa merepotkan Portugal ketimbang Kongo adalah penampilan lepas mereka seperti diperlihatkan tim-tim underdog.

Atmosfer bermain seperti itu bisa membuat Portugal malah kesulitan mendapatkan poin penuh. Padahal, laga melawan Uzbekistan adalah pertandingan yang paling mungkin dimenangkan oleh Portugal.

Jika sampai tidak mendapatkan poin penuh, Portugal bisa membahayakan dirinya sendiri mengingat lawan terakhirnya adalah salah satu jagoan Amerika Latin, Kolombia.

Tapi siapa pun lawan Portugal, kunci Portugal memenangkan laga adalah kohesi tim. Dan Ronaldo bukan satu-satunya faktor untuk kohesi tim, karena pemain-pemain Portugal yang lain sering tidak bermain sebagai tim, khususnya pemain-pemain berorientasi menyerangnya. Justru inilah masalah terbesar Portugal.

Oleh karena itu mereka perlu membentuk diri menjadi tim yang kompak dan menyatu, agar trek Piala Dunia 2026 menjadi lebih mudah untuk dilalui.

Jika tetap seperti saat melawan Kongo, Portugal tak saja akan menyulitkan diri sendiri, tapi juga menjauhkan diri dari status salah satu calon juara Piala Dunia.

Visited 1 times, 1 visit(s) today