Bukan Sekadar Beli, War Tiket Jadi Bagian dari Euforia Konser K-pop

Bukan Sekadar Beli, War Tiket Jadi Bagian dari Euforia Konser K-pop

Beberapa pekan lalu, media sosial dipenuhi unggahan nomor antrean virtual yang mencapai ratusan ribu. 

Di tengah riuhnya tangkapan layar bertuliskan queue (antrean), ada pula video penggemar yang menangis karena gagal membeli tiket, sementara yang lain bersorak setelah berhasil mengamankan kursi untuk menyaksikan EXO dan BTS di Indonesia.

Di balik unggahan-unggahan itu, Fayruz (24) sudah bersiap sejak satu jam sebelum penjualan tiket dimulai. Dua telepon genggam dan satu laptop berjajar di meja kerjanya. Grup percakapan penggemar tak berhenti berbunyi, membahas strategi hingga hitung mundur penjualan dimulai.

“Kemarin pas war tiket EXO tuh aku memang enggak bisa santai. Rasanya deg-degan terus. Takut enggak kebagian, padahal sudah nunggu pengumumannya dari jauh-jauh hari,” ujar Fay kepada Inilah.com, Jumat (26/6/2026).

Tur Dunia BTS 2026. (Foto: Ypop)

Bagi Fay, membeli tiket konser bukan lagi sekadar mengklik tombol buy now. Ada persiapan yang dilakukan sejak jauh hari. Ia memastikan akun penjualan tiket sudah aktif, metode pembayaran siap digunakan, hingga mempelajari denah tempat duduk agar tidak membuang waktu saat mendapat giliran masuk.

“Semua sudah disiapkan, mau di kategori mana opsi satu dan duanya. Jadi pas masuk tinggal pilih, bayar, selesai. Soalnya kalau kelamaan mikir, biasanya tiketnya sudah habis duluan,” katanya.

Meski sudah mempersiapkan semuanya, Fay menyadari keberhasilan mendapatkan tiket tidak sepenuhnya bergantung pada strategi.

Sistem antrean virtual membuat setiap orang memperoleh nomor antrean secara acak. Tidak jarang, penggemar yang sudah bersiap dengan berbagai perangkat justru mendapatkan antrean yang jauh lebih belakang dibanding orang lain yang hanya menggunakan satu gawai.

Tampilan grup Kpop EXO.jpg

“Itu yang bikin war tiket sekarang banyak faktor untungnya juga. Kadang sudah siap banget, eh antreannya tetap jauh atau pas sudah masuk kelempar gitu atau ya sudah sold out,” ucapnya.

Pengalaman gagal pun bukan hal baru bagi Fay. Ia pernah menghabiskan waktu berjam-jam menunggu giliran masuk ke laman penjualan, hanya untuk mendapati seluruh kategori tiket telah habis terjual.

Rasa kecewa, menurutnya, sulit dijelaskan kepada orang yang tidak mengikuti dunia K-pop. Karena itulah, setiap pengumuman konser selalu disambut dengan antusias. Bukan hanya karena kesempatan melihat idola secara langsung, tetapi juga karena kesempatan itu belum tentu datang untuk kedua kalinya.

“Nanggung banget loh padahal kemarin. Udah masuk dan tinggal pilih kategori, eh ternyata habis langsung dalam waktu sekitar 5 menit. Lumayan nyesek tapi mau gimana lagi,” kata Fay.

Jasa Titip War Tiket Konser

Tak semua penggemar memilih bertarung sendiri. Ketika peluang mendapatkan tiket semakin kecil, sebagian mulai menyerahkan proses itu kepada jasa titip atau joki war tiket. 

Lestari (29), pegawai swasta asal Bekasi mengambil strategi itu. Ia memanfaatkan jasa titip beli tiket konser tepercaya, demi berjumpa dengan idolanya yakni BTS.

“Dari dulu setiap nge-war sendiri enggak pernah dapat. Jadi coba cari jastip yang tepercaya, meskipun ya kita bayarnya nambah lagi untuk jasanya tapi untungnya selalu dapat,” cerita Tari.

Menurut Tari, alasan ia memilih menggunakan jasa titip bukan semata karena tidak ingin repot. Ia menilai penyedia jasa biasanya memiliki lebih banyak perangkat dan koneksi internet sehingga peluang mendapatkan tiket lebih besar. Kata Tari, mereka menaruh harga admin jastip untuk kategori paling murah, dimulai dari Rp350.000.

Tari menilai, harga admin tersebut sepadan dengan hasil tiket yang didapat. Untungnya, sejauh ini ia tak pernah tertipu karena langsung bertemu tukang jastip di lokasi penukaran tiket.

“Biasanya kita ketemu langsung di lokasi penukaran tiket, orangnya emang nungguin dan bagi sesuai orang-orang yang ikut jastip. Jadinya terbayarkan lah,” ucap Tari.

Persaingan mendapatkan tiket membuat berbagai strategi bermunculan. Ada yang meminjam gawai milik teman, memakai dua jaringan internet berbeda, hingga menggunakan jasa titip pembelian tiket.

Fenomena tersebut menunjukkan membeli tiket konser kini bukan lagi sekadar transaksi digital. Ada waktu yang disisihkan untuk mempersiapkan diri. Ada strategi yang disusun. Ada rasa cemas saat nomor antrean muncul di layar. Dan ada luapan bahagia ketika notifikasi pembayaran berhasil diterima.

Bagi Fay dan Tari, konser memang berlangsung selama dua atau tiga jam di dalam venue. Namun perjalanan menuju momen itu sudah dimulai jauh sebelumnya, ketika ribuan orang menatap layar gawai pada waktu yang sama, berharap menjadi salah satu yang berhasil melewati “gerbang” pertama.

Sebab, bagi banyak penggemar K-pop, euforia konser tidak dimulai saat musik dimainkan atau lampu panggung menyala. Euforia itu dimulai sejak hitung mundur penjualan tiket dimulai, ketika satu klik dapat menentukan apakah penantian berbulan-bulan akan berakhir dengan sorak sorai di dalam arena, atau sekadar menyaksikan konser dari unggahan orang lain di media sosial.

Visited 3 times, 3 visit(s) today