Memasuki bulan baru, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar rupiah membuka lembaran baru di bulan Juli dengan performa kurang menggembirakan. Mata uang Garuda langsung lunglai dan kembali bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu (1/7/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan perdana Juli 2026 langsung terlempar ke zona merah. Rupiah dibuka melemah 0,42 persen ke level Rp17.950 per dolar AS. Performa negatif ini melanjutkan tren pelemahan hari sebelumnya, Selasa (30/6/2026), saat rupiah ditutup terkoreksi 0,22 persen ke posisi Rp17.875 per dolar AS.
Keperkasaan Dolar AS dan Bayang-Bayang Suku Bunga The Fed
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,11 persen ke level 101,293 pada pukul 09.00 WIB.
Tekanan berat yang dialami rupiah tak lepas dari otot dolar AS yang kembali memadat di pasar global. Investor kembali memburu dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve alias The Fed, dalam waktu dekat.
Sikap optimistis pasar terhadap dolar AS ini ditopang oleh data lowongan kerja AS yang masih solid, mencerminkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam yang luar biasa. Berdasarkan data US Bureau of Labor Statistics, jumlah lowongan kerja pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta. Angka ini jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta, serta melampaui data April yang direvisi menjadi 7,585 juta.
Proyeksi Kebijakan Moneter Global dan Sentimen Minyak
Kondisi ketenagakerjaan yang tangguh ini memaksa pelaku pasar menghitung ulang arah kebijakan The Fed. Setelah mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen pada rapat Juni lalu, sejumlah pejabat papan atas The Fed memberi sinyal masih ada ruang kenaikan suku bunga di sisa tahun ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli mendatang berada di angka 33,70 persen. Sedangkan peluang suku bunga dipertahankan di level saat ini mencapai 66,30 persen.
Di sisi lain, laju penguatan dolar AS sedikit tertahan oleh meredanya kecemasan terkait pasokan minyak global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang dilaporkan kembali meningkat berhasil meredam kekhawatiran gangguan pasokan energi, sehingga ikut menekan potensi lonjakan inflasi global.
Menanti Rapor Inflasi BPS dan Langkah BI
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar kini tertuju penuh pada rilis data inflasi Juni 2026 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu siang ini.
Konsensus pasar memproyeksikan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mengalami inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni 2026. Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan berada di level 3,2 persen.
Sebagai pembanding, pada Mei 2026 lalu Indonesia mencatat inflasi 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan, dengan inflasi inti terjaga di level 2,59 persen.
Rapor inflasi terbaru ini dipastikan menjadi salah satu indikator dan acuan paling krusial bagi Bank Indonesia (BI) dalam meracik formula kebijakan moneter, termasuk dalam menentukan arah suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











