HYROX Lagi Tren, Dokter Olahraga Minta Masyarakat Jangan Sekadar FOMO

HYROX Lagi Tren, Dokter Olahraga Minta Masyarakat Jangan Sekadar FOMO

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Sabtu, 4 Juli 2026 – 12:46 WIB

Pasangan selebritas Ibnu Jamil dan Ririn Ekawati saat melewati lintasan HYROX. (Dokumentasi: Tangkapan layar dari Instagram Ibnu Jamil)

Pasangan selebritas Ibnu Jamil dan Ririn Ekawati saat melewati lintasan HYROX. (Dokumentasi: Tangkapan layar dari Instagram Ibnu Jamil)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Andhika Respati, mengingatkan pentingnya persiapan matang menyusul fenomena olahraga HYROX yang belakangan menjadi tren di masyarakat.

Menurut Andhika, HYROX bukan sekadar ajang lari, melainkan olahraga dengan intensitas tinggi yang mengombinasikan lari dengan berbagai latihan yang melibatkan otot.

Karena itu, peserta dituntut memiliki kebugaran yang menyeluruh, baik dari sisi daya tahan jantung maupun kekuatan otot.

“Ya, risikonya itu kan sebenarnya yang namanya Hyrox itu kan sesuatu yang melelahkan dan berintensitas tinggi ya. Artinya yang dituntut bukan cuma daya tahan aerobik tapi juga daya tahan anaerobiknya harus kuat gitu karena dia melakukan gerakan-gerakan yang bisa dibilang membutuhkan intensitas yang tinggi, gampangnya gitu,” kata Andhika saat dihubungi Inilah.com, Jakarta, Sabtu (4/6/2026).

Andhika menjelaskan tuntutan fisik HYROX berbeda dengan olahraga lari atau maraton yang lebih banyak mengandalkan daya tahan jantung, paru, dan otot kaki.

Dalam HYROX, peserta juga dituntut memiliki kekuatan otot tubuh bagian atas (upper body) untuk menyelesaikan berbagai tantangan.

“Berbeda mungkin dengan lari yang memang, ya sudah, hanya mengandalkan daya tahan jantung paru dan juga daya tahan otot kaki, tapi kan ini ada upper body workouts-nya juga, which is kalau orang-orang yang tidak terlatih bisa mengalami masalah banyak gitu,” ujarnya.

Ia menilai pelari yang terbiasa mengikuti maraton belum tentu langsung mampu mengikuti HYROX apabila tidak membekali diri dengan latihan kekuatan tubuh bagian atas.

“Jadi intinya sih kalau kita bicara perbedaannya, kalau kita bicara tuntutan fisiknya, kalau untuk maraton kan memang secara daya tahan kerja otot dia lebih mengandalkan, meskipun bukannya atas bawah tidak perlu ya, tapi kan bukannya atas sama core-nya tidak perlu tapi kan yang paling banyak bergerak kan bawah aja,” katanya.

“Jadi untuk orang-orang yang cuma latihan maraton, ya kaget yang ada gitu ikut HYROX kalau gak mempersiapkan kekuatan dan daya tahan otot-otot bagian upper-nya itu,” tuturnya.

Lebih lanjut, Andhika mengingatkan risiko cedera juga meningkat apabila peserta memaksakan diri mengikuti HYROX tanpa persiapan yang memadai. Cedera tidak hanya berpotensi terjadi pada sistem jantung dan paru, tetapi juga pada anggota gerak, terutama tubuh bagian atas.

“Ya kalau cedera, secara karena dia memang menguji daya tahan jantung paru dan juga daya tahan otot, ya masalah kesehatan yang mungkin muncul tidak hanya soal jantung parunya gitu, tapi juga kita bicaranya cedera-cedera, upper body gitu ya, seperti misalnya bahu, ya, atau lengan, itu bisa cedera juga. Gitu,” paparnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 2 visit(s) today