Ekspansi Nekat Bermodalkan Utang Bank, Seret Perusahaan Udang Kaesang di Ujung Tanduk

Ekspansi Nekat Bermodalkan Utang Bank, Seret Perusahaan Udang Kaesang di Ujung Tanduk

Diana Medium.jpeg

Senin, 6 Juli 2026 – 05:09 WIB

Kaesang dan Erina (Foto: Instagram / kaesangp)

Kaesang dan Erina (Foto: Instagram / kaesangp)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita menilai, sebuah bisnis yang melakukan ekspansi terlalu cepat dengan modal utang jumbo, justru menambah risiko ketika memasuki fase penurunan siklus komoditas.

Hal itu dia ungkapkan menanggapi PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan udang kemasan yang sebagian sahamnya dikempit Kaesang Pangarep, putra bungsu eks Presiden Jokowi.

Saat ini, perusahaan berorientasi ekspor itu, didera utang lebih dari Rp2 triliun dari sejumlah bank di Indonesia.

“Kasus ini menunjukkan bahwa bisnis berbasis komoditas, tata kelola risiko, disiplin keuangan, dan manajemen arus kas sering kali jauh lebih menentukan ketimbang besarnya skala ekspansi, atau siapa figur yang berada di belakang perusahaan,” ungkap Ronny kepada Inilah.com di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Ia menyebut, setiap kesulitan keuangan yang dialami perusahaan, harus dilihat dari fundamental bisnisnya terlebih dahulu. Jadi, bukan semata-mata dikaitkan dengan kondisi ekonomi, atau figur pemiliknya.

Saat ini, kata dia, pasar udang global sedang menghadapi tekanan yang cukup berat. Di mana harga udang dunia mengalami pelemahan signifikan, akibat kelebihan pasokan dari negara-negara produsen utama, seperti Ekuador, India, dan Vietnam.

Sementara, permintaan udang dari pasar utama seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China (Tiongkok), belum sepenuhnya pulih. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan budidaya maupun pengolahan udang, ikut tergerus.

Di sisi lain, sektor akuakultur merupakan bisnis yang memiliki karakteristik biaya tetap tinggi dan sangat sensitif terhadap arus kas. Ketika perusahaan melakukan ekspansi yang agresif bermodalkan kredit atau utang perbankan, sementara harga jual anjlok dan biaya produksi tetap tinggi, jelas menekan likuiditas perusahaan.

Dalam situasi seperti itu, perusahaan yang memiliki leverage tinggi menjadi jauh lebih rentan mengalami kesulitan keuangan di masa depan. Dan saat ini sudah ditunjukkan PMMP.

“Saya melihat, persoalan ini kemungkinan merupakan kombinasi antara faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berupa perlambatan pasar global, dan penurunan harga komoditas. Sedangkan faktor internal berkaitan dengan strategi ekspansi, struktur pembiayaan, pengelolaan utang, serta kemampuan perusahaan beradaptasi dengan perubahan siklus bisnis,” tutur Ronny.

Ia menyinggung keterpurukan PMMP, bukan semata-mata akibat kondisi ekonomi pada saat ini. Karena, banyak perusahaan lain di sektor sama, masih mampu bertahan di tengah kuatnya tekanan yang identik.

Sebaliknya, kondisi makro yang memburuk dapat mempercepat munculnya kelemahan yang sebelumnya sudah ada. Jadi, biasanya bukan faktor tunggal, melainkan akumulasi berbagai faktor yang saling memperkuat.

Utang Jumbo PMMP

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (5/7/2026), terungkap babak belurnya keuangan PMMP. Karena utangnya menumpuk di mana-mana.

Misalnya di Bank Permata, outstanding utang PMMP nyaris Rp1 triliun. Tepatnya US$53,12 juta atau sekitar Rp929,6 miliar (kurs Rp17.500/US$). Itu belum termasuk fasilitas tambahan Rp5,49 miliar.

Di BCA yang dikenal sebagai bank beraset jumbo itu, utang PMMP tembus US$40,29 juta. Atau setara Rp705 miliar.

Sedangkan utang ke Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI), mencapai US$30,71 juta, atau sekitar Rp537,4 miliar.

Masih ada lagi utang perusahaan milik suami dari Erina Sofia Gudono itu ke PT Bank SMBC Indonesia Tbk, sebesar US$22,80 juta, setara Rp400 miliar. Utang ke PT Bank Maspion Indonesia Tbk dan PT Bank Resona Perdania, masing-masing sebesar US$7,21 juta dan US$5,99 juta.

Saat ini, PMMP sedang mengajukan restrukturisasi atas gunungan utang tersebut. Kalau ditotal, angkanya lebih dari Rp2 triliun. “Saldo tersebut di luar utang bunga,” tulis Manajemen PMMP, dikutip Minggu (5/7/2026).

Akibat utang super jumbo itu, operasional PMMP langsung megap-megap. Saat ini, hanya satu pabrik yang beroperasi, yakni di Situbondo, Jawa Timur (Jatim).

Karena tutup, perseroan harus melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK. Bahkan, sebagian pekerja PMMP memilih mundur. Termasuk Patrick Djuanda yang resign sebagai Direktur Pemasaran PMMP.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 1 visit(s) today