Drama VAR Argentina vs Mesir: 3 Keputusan Wasit yang Bikin Salah Cs Meradang

Drama VAR Argentina vs Mesir: 3 Keputusan Wasit yang Bikin Salah Cs Meradang
Piala Dunia 2026

Ikhsan Medium.jpeg

Rabu, 8 Juli 2026 – 18:42 WIB

Wasit Francois Letexier berbincang dengan pelatih Timnas Mesir Hossam Hassan (kedua dari kanan) yang melakukan protes dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Timnas Argentina dan Mesir di Stadion Atlanta, AS, Selasa (7/7/2026) waktu setempat. (Foto: Xinhua/Huang Zongzhi)

Wasit Francois Letexier berbincang dengan pelatih Timnas Mesir Hossam Hassan (kedua dari kanan) yang melakukan protes dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Timnas Argentina dan Mesir di Stadion Atlanta, AS, Selasa (7/7/2026) waktu setempat. (Foto: Xinhua/Huang Zongzhi)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kemenangan dramatis Argentina atas Mesir dengan skor 3-2 dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 tidak bergulir tanpa riak. Sepanjang duel sengit yang digelar di Atlanta Stadium pada Selasa (7/7/2026) waktu setempat, keputusan pengadil lapangan hijau menjadi sorotan tajam. Skuad Mesir meradang, merasa skenario pertandingan bisa saja berubah andai teknologi Video Assistant Referee (VAR) tidak mematahkan momentum mereka.

Setidaknya ada tiga momen krusial yang dipimpin oleh wasit asal Prancis, Francois Letexier, yang memicu perdebatan hebat. Mulai dari pembatalan gol penyeimbang hingga dua klaim penalti yang mentah di kotak terlarang Argentina.

Berikut adalah tiga kontroversi VAR yang membuat langkah Mohamed Salah dan kolega terhenti di turnamen paling bergengsi ini:

Pembatalan Gol Mostafa Ziko yang Menyakitkan

Petaka pertama bagi Mesir datang pada menit ke-62. Penyerang Mesir, Mostafa Ziko, sebenarnya berhasil menggetarkan jala gawang Argentina yang memicu ledakan kegembiraan dan selebrasi emosional dari seluruh penggawa The Pharaohs. Namun, kegembiraan itu mendadak menguap setelah Letexier ditarik untuk meninjau layar VAR di pinggir lapangan.

Gol tersebut akhirnya dianulir. Mengutip BBC Sport, wasit melihat ada pelanggaran yang dilakukan gelandang Mesir, Marwan Attia, terhadap Lisandro Martinez. Uniknya, insiden jatuhnya Martinez itu terjadi dalam fase permainan yang terpaut waktu cukup lama sebelum gol tercipta.

Berdasarkan aturan Attacking Possession Phase (APP), VAR menilai insiden tersebut berada dalam satu rangkaian serangan balik yang berujung gol. Keputusan ini dinilai sangat merugikan Mesir yang sedang berada di atas angin untuk mengejar ketertinggalan.

Tarikan Jersey Hamdy Fathy Diabaikan

Memasuki menit-menit akhir babak kedua, tensi pertandingan semakin mendidih. Mesir berpeluang besar mendapatkan hadiah penalti ketika gelandang Hamdy Fathy terjatuh di area terlarang setelah terlihat jelas mendapat tarikan pada jerseynya oleh gelandang Argentina, Alexis Mac Allister.

Para pemain Mesir langsung mengepung wasit menuntut titik putih. Jika penalti diberikan, jalannya laga tentu akan berubah dan momentum kemenangan Argentina bisa saja buyar. Namun, setelah melakukan komunikasi dengan ruang VAR, Letexier memilih melanjutkan permainan.

Hasil pemeriksaan VAR menyatakan bahwa kontak fisik tersebut tidak memenuhi ambang batas minimum untuk dianggap sebagai pelanggaran keras. Tarikan jersey oleh Mac Allister dinilai terlalu singkat, tidak berkelanjutan, dan dianggap tidak memberikan dampak signifikan yang membuat Fathy kehilangan momentum menguasai bola.

Klaim Penalti Mohamed Salah yang Kandas

Belum reda kekecewaan atas insiden Fathy, bintang sekaligus kapten Mesir, Mohamed Salah, kembali melakukan protes keras. Salah terjatuh di kotak penalti setelah terlibat duel perebutan bola yang sangat intens dengan penyerang Argentina, Julian Alvarez.

Meskipun dalam tayangan ulang terlihat ada benturan fisik yang cukup telak, wasit bergeming dan VAR kembali memperkuat keputusan di lapangan. Dari hasil analisis video, kontak yang terjadi murni merupakan benturan kaki dengan kaki (foot-to-foot) akibat pergerakan natural kedua pemain yang sama-sama mengejar bola.

Bahkan, tim VAR menilai Salah cenderung sengaja menjatuhkan diri atau mencari kontak fisik demi mendapatkan penalti, mengingat tidak ada tindakan bertahan yang agresif atau ilegal dari Alvarez.

Kekalahan ini jelas meninggalkan luka mendalam bagi publik Mesir. Perbedaan tipis interpretasi wasit atas pelanggaran Marwan Attia yang berujung penganuliran gol, berbanding terbalik dengan dua klaim penalti Mesir yang dianggap tidak memenuhi kriteria intervensi VAR, kini menjadi bahan perdebatan panjang yang menghiasi kegagalan Mesir di Piala Dunia 2026.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 3 times, 3 visit(s) today