Petugas mengisi bahan bakar biodiesel B50 ke bus di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (7/6/2026). (Foto: Antara/Abdan Syakura)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pemerintah resmi meluncurkan program biodesel B50 dengan pencapuran biodesel kelapa sawit sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Disisi lain, campuran biodesel dikhawatirkan akan merusak mesin.
Terkait hal tersebut, Pengamat Energi Center of Reform on Economics (CORE), Muhammad Ishak Razak menyebut hingga saat ini belum ada hasil uji jalan (road test) dari sejumlah produsen truk yang menunjukkan adanya kerusakan signifikan akibat penggunaan B50.
Namun, dia mengingatkan penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi tetap membawa konsekuensi berupa peningkatan kebutuhan perawatan, terutama bagi kendaraan logistik yang telah berusia tua.
“Untuk mesin logistik, secara umum B50 tidak serta-merta merusak mesin diesel modern, dan hasil road test dari beberapa produsen truk belum menunjukkan gejala kerusakan berarti,” ujar Ishak kepada inilah.com, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Meski demikian, industri otomotif sebelumnya sempat meminta masa transisi agar teknologi kendaraan dan infrastruktur pendukung benar-benar siap sebelum implementasi penuh. Disisi lain, dia menjelaskan, persoalan yang lebih sering muncul bukanlah kerusakan mesin secara langsung, melainkan dampak terhadap komponen pendukung.
Penggunaan B50 berpotensi membuat filter solar lebih cepat kotor akibat endapan (sludge), meningkatkan kandungan air pada bahan bakar, mempercepat keausan injektor, hingga membuat konsumsi bahan bakar sedikit lebih boros sekitar 1-3% dibandingkan penggunaan B40.
“Risikonya akan lebih besar pada pada truk tua karena seal dan selang berbahan karet konvensional bisa mengembang atau retak terkena biodiesel pekat, sehingga perlu diganti ke material sintetis,” jelas dia.
Dia pun menekankan, selama operator kendaraan disiplin melakukan perawatan berkala, penggunaan B50 belum terbukti menimbulkan kerusakan langsung pada mesin. Perawatan yang dimaksud meliputi percepatan jadwal penggantian filter dan oli, serta pemeriksaan rutin terhadap kondisi seal dan injektor.
“Kalau jadwal perawatan dipenuhi, sejauh ini belum ditemukan pengaruh langsung terhadap kerusakan mesin. Namun jika diabaikan, risikonya bukan mesin langsung rusak, melainkan meningkatnya downtime kendaraan dan biaya perawatan,” tuturnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














