Presiden FIFA, Gianni Infantino, melempar ultimatum keras kepada 211 federasi sepak bola anggotanya. Dalam sebuah langkah yang semakin memanaskan tensi global, Infantino menetapkan tenggat waktu hingga 19 September 2026 bagi seluruh anggota untuk menyetujui proposal investasi swasta kontroversialnya.
Jika federasi menyetujui proposal tersebut, Infantino menjanjikan akses pendanaan hingga USD 40 juta (sekitar Rp648 miliar) untuk masing-masing negara. Namun, jika mereka menolak, bersiaplah menghadapi pemotongan dana secara masif.
Langkah ini menyusul gelombang penolakan keras yang dipelopori oleh UEFA, yang kini tengah mempertimbangkan opsi ekstrem termasuk memboikot kompetisi Piala Dunia.
Skema Rp162 Triliun dan Keterlibatan Jaringan Trump
Dalam surat resmi yang dikirim ke berbagai federasi, Infantino memaparkan apa yang ia sebut sebagai “peluang pendanaan yang tunggal dan unik”. Ia menjelaskan bahwa jika proposal tersebut disetujui, FIFA akan mencairkan total paket pendanaan sebesar USD 10 miliar (Rp162 triliun). Namun, jika ditolak, dana yang dialokasikan akan menyusut drastis menjadi hanya USD 2,7 miliar (Rp43,7 triliun).
Adapun uang sebesar USD 40 juta per federasi itu akan dibagi dalam dua skema: USD 20 juta (Rp324 miliar) dari dana Fast Forward sekali bayar, dan USD 20 juta dari dana pengembangan FIFA Forward untuk siklus 2027-2030.
Semua dana ini akan didapat melalui pembentukan anak perusahaan baru senilai USD 20 miliar (Rp324 triliun) yang akan mengambil alih hak komersial turnamen bergengsi seperti Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub. Sebanyak 20% saham perusahaan ini akan dikuasai oleh investor swasta, yang dipimpin oleh Thrive Capital—firma investasi milik Joshua Kushner. Menariknya, Joshua adalah saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump.
“Adalah tugas dan tanggung jawab saya sebagai Presiden FIFA untuk menghadirkan peluang yang dapat mengubah permainan ini kepada Anda, para anggota kami,” tulis Infantino dalam suratnya.
“Konflik Total”: UEFA Tabuh Genderang Perang
Proposal yang dirancang tanpa konsultasi ini langsung memicu kemarahan. Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, merespons cepat dengan menggelar konferensi video darurat pada hari Rabu (29/7) bersama perwakilan lima liga top Eropa: Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, dan Prancis.
“Presiden Čeferin telah menyatakan sikapnya menentang proyek (FIFA) ini,” ungkap Presiden baru Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Giovanni Malagò, di sela-sela perkenalan Roberto Mancini. “Situasinya saat ini benar-benar konflik total.”
Ancaman terbesar UEFA saat ini adalah memboikot turnamen FIFA, sebuah taktik mematikan yang sukses mereka gunakan pada 2021 lalu untuk menjegal rencana Infantino yang ingin menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali.
Piala Dunia Wanita 2027 Terancam Jadi Tumbal Politik
Di tengah konflik elite pria, komunitas sepak bola wanita menyuarakan ketakutan mendalam. Sumber dari internal sepak bola wanita Inggris menyebut rencana FIFA ini sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” (unconscionable) karena keputusan murni didorong oleh keuntungan finansial ketimbang keselamatan pemain.
Lebih mengerikan lagi, ada kekhawatiran besar bahwa ajang Piala Dunia Wanita 2027 akan dijadikan “pion politik”. Banyak pihak khawatir turnamen wanita tersebut akan menjadi yang pertama diboikot sebagai alat negosiasi demi mencegah boikot pada Piala Dunia pria.
Kecaman Global Mengalir Deras
Kritik terhadap minimnya transparansi Infantino tidak hanya datang dari Eropa.
CONCACAF (Amerika Utara & Tengah) menyatakan “sangat prihatin dengan kurangnya proses hukum (due process).”
AFC (Asia) mengaku kecewa karena masalah sepenting ini bocor ke publik sebelum keluarga sepak bola Asia diberi kesempatan untuk membahasnya.
ECA (Asosiasi Klub Eropa) yang beranggotakan 850 klub juga terkejut karena mengetahui proposal raksasa ini murni melalui media.
Hanya CAF (Afrika) pimpinan Patrice Motsepe yang sejauh ini bersikap netral dan akan mengevaluasi proposal tersebut minggu depan.
Suara penolakan juga datang dari ranah politik. Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menegaskan bahwa sepak bola tidak boleh dikuasai pemodal.
“Sepak bola bukan milik investor,” tegas Burnham melalui Instagram. “Sekali Anda menjual sebagian dari (Piala Dunia), Anda telah menggadaikan idealisme Anda. Sepak bola adalah milik para penggemar. Selalu begitu, dan akan selalu begitu.”
Selama 11 tahun kepemimpinannya, Infantino kerap dikritik karena mengambil keputusan sepihak tanpa transparansi. Manuver privatisasi paksa ini dinilai menjadi titik didih baru yang bisa memicu perpecahan terbesar dalam sejarah sepak bola modern.












