Bongkar Kasus Beras Fortifikasi, Mentan Amran Ajak Mahasiswa dan Pemuda Gebuk Mafia Pangan

Bongkar Kasus Beras Fortifikasi, Mentan Amran Ajak Mahasiswa dan Pemuda Gebuk Mafia Pangan

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 2 Agustus 2026 – 17:58 WIB

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyimak pertanyaan peserta dalam dialog interaktif bersama organisasi mahasiswa dan kepemudaan di kediamannya, Jakarta, Minggu (2/8/2026). (Foto: ANTARA/Harianto).

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyimak pertanyaan peserta dalam dialog interaktif bersama organisasi mahasiswa dan kepemudaan di kediamannya, Jakarta, Minggu (2/8/2026). (Foto: ANTARA/Harianto).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak organisasi mahasiswa dan kepemudaan bersatu memerangi mafia pangan. Terkait praktik culas beras fortifikasi, demi menjaga ketahanan pangan nasional dan kepentingan rakyat.

Dalam diskusi yang dilakukan di kediaman Mentan Amran, di Jakarta, Minggu (2/8/2026), ia mengajak puluhan perwakilan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, berperan aktif dalam pemberantasan mafia beras fortifikasi.

Mentan Amran sempat bertanya apakah mereka siap mendukung langkah pemerintah menindak pelaku yang diduga merugikan masyarakat. “Jadi sudah sepakat (kasus kecurangan beras) fortifikasi kita gebuk ya?” tanya Amran yang langsung disambut jawaban serempak, “Setuju!” dari para peserta.

Mentan Amran kembali memastikan dukungan itu dengan bertanya, “Sepakat ya?” yang lagi-lagi dijawab lantang, “Setuju!”

Melihat antusiasme tersebut, Mentan Amran semakin bersemangat untuk mempercepat penindakan terhadap mafia beras fortifikasi. “Tenang saya gebuk. Tadi subuh nyaliku 10, sekarang bertambah 20. Saya percepat itu gebuk,” tegas Mentan Amran.

Dia menjelaskan, beras fortifikasi seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu untuk mencegah stunting, namun justru ditemukan dijual di supermarket dengan harga hingga mencapai Rp42.000 per kilogram.

Selanjutnya, Mentan Amran bertanya, apakah praktik tersebut dapat dibenarkan, seraya mengajak mereka bersama-sama membantu pemerintah memberantas pelaku yang diduga mengambil keuntungan besar dari kebutuhan masyarakat miskin.

Ia mengungkapkan hasil temuan sementara memperkirakan potensi kerugian konsumen mencapai sekitar Rp71 triliun dan menegaskan penanganan kasus tersebut merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto demi melindungi kepentingan rakyat.

Dugaan beras medium yang dijual sebagai beras fortifikasi dengan harga jauh lebih tinggi, kata dia, telah menghilangkan hak masyarakat memperoleh pangan bergizi dan terjangkau sesuai tujuan program pemerintah.

Ia meminta para pemuda tidak terpengaruh isu yang mengalihkan perhatian dari substansi persoalan dan mengajak mereka menjadi pelopor penegakan kebenaran dengan mendukung proses hukum terhadap para pelaku.

Mentan Amran menceritakan berbagai langkah penegakan hukum yang telah dilakukan pemerintah, termasuk penyitaan jutaan hektare kebun sawit bermasalah, sebagai bukti keberanian memberantas praktik yang merugikan negara dan masyarakat.

Ketika Mentan Amran bertanya, apakah seluruh peserta siap bersama-sama memerangi mafia beras fortifikasi dan mendukung pemidanaan pelakunya, peserta dari berbagai organisasi kepemudaan serempak menjawab setuju dengan penuh semangat.

Mentan Amran menegaskan, perjuangan tersebut bukan sekadar mengejar pelaku, melainkan memastikan program pangan bergizi benar-benar dinikmati masyarakat miskin, petani kecil, buruh, dan kelompok rentan sesuai tujuan awal pemerintah.

Selain mengajak mengawal pemberantasan mafia pangan, Mentan Amran membuka kesempatan bagi organisasi kepemudaan untuk mengembangkan sektor perkebunan dengan dukungan pemerintah berupa alat pertanian, benih, dan pendampingan teknis.

Ia berharap semangat kolaborasi yang terbangun dalam dialog itu menjadi awal keterlibatan aktif organisasi kepemudaan mengawasi tata niaga pangan, memperkuat pertanian nasional, serta menjaga kepentingan rakyat bersama pemerintah.

Adapun, Mentan Amran mengundang organisasi mahasiswa dan kepemudaan untuk berdiskusi mengenai isu di sektor pertanian, di antaranya Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Selanjutnya Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI), Forum Komunikasi dan Kerja Sama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK HIMAGRI), Korps HMI-Wati (KOHATI), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Kemudian Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Ikatan Keluarga Alumni BEM Nusantara (IKA BEM Nusantara), Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Peserta juga berasal dari PP Pemuda Hidayatullah, PP Gerakan Mahasiswa Hidayatullah, Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU), Pemuda Persatuan Islam (PERSIS), Pemuda Kosgoro, Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI).

Rembuk Pemuda, Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SEMA PTKIN), Jaga Pangan Nusantara (JAGATARA), Pelajar Islam Indonesia (PII), Duta Pancasila Paskibraka Indonesia, Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI), serta Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Selain itu, kegiatan tersebut turut dihadiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI), Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima PERSIS), serta sejumlah peserta tambahan dari IKA BEM Nusantara, PERMAHI, dan PMII yang tercatat dalam daftar kehadiran.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 2 visit(s) today