Narasi Negatif Serang Capaian Ekonomi Era Prabowo, Gerindra Beberkan Data Ini

Narasi Negatif Serang Capaian Ekonomi Era Prabowo, Gerindra Beberkan Data Ini

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 8 Agustus 2026 – 18:09 WIB

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara Jakarta, Senin (20/7/2026). (Foto: Antara/HO-YouTube Sekretariat Presiden/Aditya Ramadhan)

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara Jakarta, Senin (20/7/2026). (Foto: Antara/HO-YouTube Sekretariat Presiden/Aditya Ramadhan)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad mengaku miris dengan maraknya narasi negatif yang sengaja diembuskan kelompok tertentu untuk mendegradasi capaian dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Salah satunya, terkait kondisi ekonomi yang digambarkan buruk dan mengkhawatirkan. Padahal, sejatinya ekonomi Indonesia sangat baik-baik saja.

“Eskalasi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah mendorong banyak negara menaikkan harga energi dan pangan. Namun, Presiden Prabowo tetap mempertahankan agar harga kebutuhan tidak naik dan tetap stabil,” kata Kamrussamad di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Misalnya, kata dia, harga BBM jenis bensin yang paling banyak digunakan masyarakat. Nigeria saja sudah menaikkan harga BBM sejenis bensin sebesar 45,9 persen.

Sedangkan Amerika Serikat (AS) 44,9 persen, Laos 33,2 persen, Kamboja 19,1 persen, dan Inggris 16,8 persen. Beda dengan Indonesia yang mempertahankan harga Pertalite sebesar Rp10 ribu/liter.

Atau harga LPG rumah tangga. “Nigeria menaikkan harga sebesar 79 persen, Bangladesh 38,6 persen, Filipina 25 persen, India 10,4 persen, dan Pakistan 9,9 persen. Namun, Indonesia tetap mempertahankan harga LPG 3 kg sebesar Rp19 ribu di pangkalan resmi,” kata Kamrussamad.

Demikian pula harga listrik rumah tangga. Mesir, misalnya, mengerek naik tarif listrik 29,9 persen, Sri Lanka 26,5 persen, Turki 25 persen, Bangladesh 18,1 persen, dan Inggris 5,7 persen. Sementara tarif PLN di Indonesia tidak mengalami kenaikan.

Saat ini, harga beras di Sudan, mengalami kenaikan 40-50 persen, Sudan Selatan 30-40 persen, Iran 25-35 persen, Myanmar 18-25 persen dan Nigeria 12-20 persen. Adapun harga beras di Indonesia tetap stabil dan terjangkau semua kalangan.

Terakhir, harga daging ayam di India mengalami kenaikan 20-25 persen, Pakistan 19 persen, Turki 15 persen, dan Afrika Selatan 11 persen. Sebaliknya, harga daging ayam di Indonesia justru menurun.

Framing Lepas Kewarganegaraan

Kamrussamad juga mempertanyakan informasi 8.000 warga negara Indonesia yang melepas kewarganegaraannya diembel-embeli framing jahat. Seolah mereka kecewa dengan pemerintahan Prabowo Subianto.

“Beberapa waktu lalu, sejumlah media mainstream menulis dan memberitakan, 5 tahun terakhir, sebanyak 8.000 WNI melepaskan kewarganegaraan dengan framing, kecewa terhadap pemerintah, terutama terhadap Presiden Prabowo,” ungkap Kamrussamad.

Sejatinya, kata dia, jika dihitung secara cermat, angka 8.000 berarti setiap tahunnya rata-rata hanya 1.600 orang. Itu pun menurut Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, pelepasan status WNI disebabkan karena menikah dengan WNA.

Bila diukur statistik, sejatinya angka pelepasan status WNI masih sangat rendah bila dibandingkan negara lain. Jumlah WNI yang melepaskan kewarganegaraannya hanya 6 orang per 1 juta orang. Jauh lebih kecil ketimbang Singapura yang mencapai 265 orang per 1 juta orang. Atau India yang mencapai 142 orang per 1 juta orang.

Jika framing kekecewaan terhadap pemerintah dianggap pemicu pelepasan status kewarganegaraan, maka warga Singapura yang kecewa terhadap pemerintahannya, mencapai 44 kali lebih besar dibanding warga Indonesia. Dan, warga India mencapai 24 kali lebih besar.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today