Legenda Barcelona, Xavi Hernandez, resmi ditunjuk sebagai pelatih Timnas Belanda. Ia menggantikan Ronald Koeman yang mengundurkan diri seusai penampilan mengecewakan di Piala Dunia 2026.
Pelatih berusia 46 tahun itu menyepakati kontrak berdurasi empat tahun. Artinya, ia akan menangani Belanda pada Piala Eropa 2028 sekaligus Piala Dunia 2030.
Penunjukan ini menandai kembalinya Xavi ke dunia kepelatihan setelah dua tahun vakum, menyusul pemecatannya dari Barcelona pada 2024.
Mengaku Punya Ikatan dengan Sepak Bola Belanda
Dalam pernyataan perdananya, Xavi menyoroti hubungan historis antara filosofi sepak bola Belanda dan pendidikan sepak bola yang ia terima.
“Saya menganggapnya sebagai kehormatan luar biasa menjadi pelatih kepala tim nasional Belanda,” ujar Xavi.
Ia menjelaskan alasannya. “Sebagai seseorang yang dididik di akademi Barcelona, dengan pengaruh kuat dari Johan Cruyff dan Rinus Michels, di antara yang lain, saya merasa punya keterikatan khusus dengan sepak bola Belanda.”
Xavi bahkan menyebut dirinya bagian dari tradisi tersebut. “Anda bisa mengatakan bahwa saya sebagian adalah anak dari sepak bola Belanda.”
Ia turut menyebut dua pelatih Belanda yang membentuk kariernya. “Pelatih-pelatih hebat lain, terutama Louis van Gaal, yang di bawah asuhannya saya menjalani debut di Barcelona, dan Frank Rijkaard, juga memainkan peran penting dalam membentuk saya sebagai pemain dan pelatih.”
Menggantikan Koeman untuk Kedua Kalinya
Ada kebetulan menarik dalam perjalanan karier Xavi.
Ini bukan pertama kalinya ia mengambil alih posisi yang ditinggalkan Ronald Koeman. Pada 2021, ia juga menggantikan Koeman di kursi pelatih Barcelona.
Saat itu, ia mengambil alih tim pada periode sulit dalam sejarah klub Catalunya. Xavi berhasil membalikkan keadaan dan membawa Barcelona meraih gelar LaLiga pertama dalam empat tahun pada musim 2022/2023, ditambah Piala Super Spanyol pada 2023.
Namun ia gagal mempertahankan capaian itu. Setelah musim 2023/2024 berakhir tanpa trofi, posisinya digantikan Hansi Flick.
Belanda Butuh Perbaikan
Xavi mewarisi tim yang baru saja mengalami kekecewaan besar.
Belanda tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Maroko. Hasil itu berujung pada pengunduran diri Koeman.
Meski begitu, Xavi menilai fondasinya sudah ada.
“Belanda memiliki budaya sepak bola yang kaya dan visi yang jelas, yang juga sangat menarik bagi saya: sepak bola menyerang, berbasis penguasaan bola, dengan kreativitas, gairah, dan keyakinan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kemenangan tetap menjadi tujuan utama, tetapi cara meraihnya juga penting. “Tentu saja, tujuan terpenting adalah dan akan selalu menang, tetapi saya lebih suka melakukannya dengan cara yang mencerminkan karakteristik tersebut dan bisa dinikmati orang.”
“Potensinya ada di sana, begitu juga fondasi kuat untuk dibangun. Saya menantikan memulai tantangan ini bersama para pemain, staf, dan semua orang di dalam Federasi Belanda,” lanjutnya.
Jalan Panjang Menuju Kursi Pelatih Timnas
Sebelum menjadi pelatih, Xavi meraih hampir segalanya sebagai pemain. Bersama Spanyol, ia menjuarai Piala Dunia 2010 serta Piala Eropa 2008 dan 2012 secara beruntun.
Ia memulai karier kepelatihan di klub Qatar, Al Sadd, pada 2019, dan memenangi tujuh trofi di sana sebelum kembali ke Barcelona.
Setelah berpisah dengan Barcelona, sejumlah sumber menyebut Xavi menerima tawaran dari beberapa klub dan tim nasional. Namun ia lebih dulu memprioritaskan masa istirahat selama setahun, dan tak satu pun tawaran yang menarik minatnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia mulai menyuarakan keinginan beralih ke sepak bola internasional. Belanda kini menjadi panggung tersebut.










