Jawara Akhir Pekan: Rupiah Ngacir ke Rp17.685 per Dolar AS, Cetak Rekor Terkuat 3 Bulan

Jawara Akhir Pekan: Rupiah Ngacir ke Rp17.685 per Dolar AS, Cetak Rekor Terkuat 3 Bulan

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 21 Agustus 2026 – 16:13 WIB

Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Pusat BNI, Jakarta. (Foto: Antara/Yudhi Mahatma)

Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Pusat BNI, Jakarta. (Foto: Antara/Yudhi Mahatma)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan senyum lebar. Pergerakan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengakhiri transaksi Jumat (21/8/2026) di posisi puncak, sekaligus membukukan level penutupan terkuatnya dalam hampir tiga bulan terakhir.

Merujuk data Refinitiv pada penutupan pasar sore, rupiah sukses menguat 0,31 persen ke posisi Rp17.685 per dolar AS. Kinerja mengilap ini memperpanjang tren positif mata uang lokal selama tiga hari perdagangan berturut-turut, sekaligus menjadi capaian tertinggi sejak 22 Mei 2026 lalu.

Dominasi rupiah sejatinya sudah terasa sejak bel pembukaan dibuka di level Rp17.720 per dolar AS (menguat 0,14 persen). Sepanjang hari, tekanan terhadap mata uang Paman Sam kian menebal hingga rupiah menambah perkasa 35 poin saat penutupan. Secara akumulatif mingguan, rupiah membukukan apresiasi sekitar 0,76 persen jika dibandingkan posisi akhir pekan lalu di level Rp17.820 per dolar AS.

Dolar AS Meloyot Dihantam Isu Defisit Fiskal

Kiprah manis mata uang domestik tak lepas dari meredupnya pamor dolar AS di panggung internasional. Indeks DXY yang mengukur keperkasaan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau meloyot 0,18 persen ke posisi 98,718 pada pukul 15.00 WIB.

Aksi pelepasan porsi dolar AS oleh para pelaku pasar ini tersulut usai Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana penggelembungan nilai pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah tenor 10–30 tahun. Nilai buyback tersebut dinaikkan menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi.

Langkah darurat tersebut sejatinya diniatkan untuk menenangkan gejolak di pasar obligasi AS. Namun, investor melihatnya dari sudut pandang lain. Kebijakan borong obligasi ini dinilai belum menyentuh akar masalah utama, yakni jurang defisit fiskal AS yang semakin membengkak. Kecemasan atas keberlanjutan beban anggaran Negeri Paman Sam itu akhirnya memicu aksi jual dolar, dan mendorong arus modal global mencari tempat bernaung di pasar negara berkembang (emerging markets).

Surplus Modal Asing Pangkas Defisit NPI

Dari dalam negeri, sentimen positif mengalir deras berkat kinclongnya data moneter nasional. Bank Indonesia (BI) melaporkan angka Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026 mencatatkan perbaikan dramatis, di mana defisitnya menyusut tajam menjadi tinggal US$0,9 miliar. Capaian ini membaik signifikan dibanding jurang defisit kuartal sebelumnya yang sempat menganga hingga US$9,1 miliar.

Pemulihan NPI ini utamanya disokong oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik mencetak surplus. Kondisi tersebut terwujud seiring membanjirnya aliran masuk investasi langsung (Foreign Direct Investment) serta investasi portofolio ke instrumen keuangan dalam negeri.

“Transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga,” tulis Bank Indonesia dalam laporan resminya, Jumat (21/8/2026).

Derasnya kucuran modal asing yang masuk tak hanya mempertebal pasokan valuta asing di pasar domestik, tetapi juga membuat otot rupiah kian kekar. Kestabilan ini makin solid mengingat benteng pertahanan eksternal Indonesia berada dalam kondisi yang memadai, di mana posisi cadangan devisa akhir Juni 2026 tetap terjaga tebal di angka US$145,6 miliar –setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 2 visit(s) today