PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menunjukkan ketahanan bisnis yang kuat di tengah berbagai dinamika dan sorotan publik terhadap layanan perbankan. Hingga semester I-2026, Bank BUMN tersebut berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja itu menunjukkan bahwa fundamental bisnis Bank Mandiri masih berada dalam kondisi solid. Pertumbuhan terutama ditopang ekspansi bisnis inti, peningkatan penyaluran kredit, serta kenaikan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.
“Bank Mandiri mampu mempertahankan kualitas asetnya dengan baik dan ini juga sejalan dengan strategi Bank Mandiri yang fokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang prospektif dan resilient, sekaligus mendorong penguatan ekosistem bisnis dan dukungan kepada agenda strategis pemerintah sebagai agent of development,” ujar Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini dalam paparan publik secara daring, akhir Juli lalu, dikutip Rabu (26/8/2026).
Dia menjelaskan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 17,1 persen berhasil dikonversi menjadi pertumbuhan kredit sebesar 19,9 persen. Ekspansi tersebut turut mendorong pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 8 persen.
Fundamental Tetap Terjaga
Pertumbuhan bisnis tersebut berlangsung bersamaan dengan kemampuan perseroan menjaga kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 0,98 persen dengan coverage ratio mencapai 242 persen. Sementara itu, cost of credit (CoC) tetap rendah di level 0,52 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa ekspansi kredit Bank Mandiri tidak dilakukan secara agresif tanpa memperhatikan aspek risiko. Perseroan tetap menjaga kualitas penyaluran kredit di tengah upaya memperbesar skala bisnis.
Selain pendapatan bunga, sumber pendapatan nonbunga juga menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perseroan. Fee-based income Bank Mandiri tumbuh seiring meningkatnya aktivitas transaksi nasabah di berbagai ekosistem layanan digital dan bisnis. Fee dari layanan Livin’ by Mandiri tercatat tumbuh 46 persen. Sementara fee dari Kopra by Mandiri meningkat 22,8 persen.
Pendapatan berbasis komisi dari transaksi treasury juga mencatat pertumbuhan 23 persen. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin besarnya kontribusi layanan digital dan transaksi berbasis ekosistem terhadap bisnis Bank Mandiri.
Transaksi Digital Makin Berperan
Pertumbuhan fee dari Livin’ by Mandiri menjadi salah satu sinyal bahwa transformasi digital terus memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan.
Bank Mandiri dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya mengandalkan bisnis konvensional berupa penghimpunan dana dan penyaluran kredit. Perseroan juga membangun ekosistem digital yang menghubungkan kebutuhan transaksi nasabah individu maupun korporasi.
Livin’ by Mandiri menyasar nasabah ritel, sementara Kopra by Mandiri dikembangkan sebagai platform digital untuk mendukung kebutuhan transaksi dan layanan perbankan segmen korporasi serta bisnis.
Dengan model tersebut, pertumbuhan transaksi digital berpotensi menciptakan sumber pendapatan berulang yang semakin besar bagi perseroan.
Hal ini menjadi penting di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan perbankan digital untuk transaksi sehari-hari.
Tetap Fokus pada Kepercayaan Nasabah
Di tengah dinamika layanan perbankan dan munculnya sejumlah sorotan publik terkait transaksi nasabah, fundamental kinerja Bank Mandiri menunjukkan bahwa perseroan masih memiliki ruang yang kuat untuk mempertahankan kepercayaan dan pertumbuhan bisnis.
Bagi industri perbankan, kepercayaan merupakan aset utama. Karena itu, kemampuan menjaga kualitas layanan, transparansi komunikasi serta kecepatan penyelesaian persoalan nasabah menjadi sama pentingnya dengan pencapaian kinerja keuangan.
Kinerja semester I-2026 memberikan gambaran bahwa secara bisnis Bank Mandiri masih berada dalam posisi yang kuat. Pertumbuhan kredit hampir 20 persen, DPK yang meningkat dua digit, NPL di bawah 1 persen, serta pertumbuhan pendapatan berbasis komisi menjadi sejumlah indikator yang memperlihatkan daya tahan perseroan.
Novita menegaskan optimisme perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan secara berkelanjutan.
“Kami yakin dengan fundamental yang kuat, strategi bisnis yang terarah serta disiplin dalam pengelolaan risiko, Bank Mandiri optimistis dapat menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan di tahun-tahun yang akan datang,” ujarnya.
Dengan demikian, tantangan yang muncul di level layanan maupun persepsi publik perlu dilihat sebagai bagian dari dinamika yang harus dijawab melalui perbaikan komunikasi dan pelayanan. Di sisi lain, kinerja keuangan semester I-2026 menunjukkan bahwa mesin bisnis Bank Mandiri masih berjalan kuat.
Pertumbuhan laba 24,4 persen menjadi Rp30,4 triliun sekaligus mempertegas posisi Bank Mandiri sebagai salah satu motor utama industri perbankan nasional dan bagian penting dari ekosistem pembiayaan pembangunan Indonesia.









