Nepal Desak Meta dan TikTok Hapus Konten AI Palsu dan Donasi Bodong Terkait Banjir

Nepal Desak Meta dan TikTok Hapus Konten AI Palsu dan Donasi Bodong Terkait Banjir

Ikhsan Medium.jpeg

Sabtu, 29 Agustus 2026 – 17:40 WIB

Pemandangan udara pada Jumat (28/8/2026), yang memperlihatkan rumah-rumah hancur dan jalanan tertutup lumpur di sepanjang Sungai Trishuli, menyusul tanah longsor dan banjir bandang di wilayah dekat perbatasan Nepal-China, di Nuwakot, Nepal. (Foto: Anadolu Agency/Daniel Ceng)

Pemandangan udara pada Jumat (28/8/2026), yang memperlihatkan rumah-rumah hancur dan jalanan tertutup lumpur di sepanjang Sungai Trishuli, menyusul tanah longsor dan banjir bandang di wilayah dekat perbatasan Nepal-China, di Nuwakot, Nepal. (Foto: Anadolu Agency/Daniel Ceng)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Saat air bah meluap dan menghancurkan permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli, penderitaan warga Nepal rupanya belum usai. Di tengah puing bangunan, jembatan yang putus, dan genangan lumpur di perbatasan China, muncul bahaya jenis baru yang beredar di layar ponsel: banjir disinformasi, manipulasi kecerdasan buatan (AI), hingga jerat penipuan donasi.

Bencana alam yang melanda wilayah utara dan tengah Nepal pada Rabu (26/8/2026) lalu tak hanya merusak infrastruktur darat dan memutus jaringan komunikasi hingga wilayah Gyirong di Tibet. Musibah ini juga dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk menangguk untung dan memanen perhatian di ruang digital.

Jeritan di Tengah Lumpur dan Teror Konten Manipulatif

Hanya selang beberapa jam setelah air bandang menerjang, beranda platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok langsung diserbu unggahan bermasalah. Rekaman video bencana tahun-tahun lalu mendadak diunggah ulang seolah-olah terjadi hari ini. Gambar-gambar penuh keharuan buatan AI –yang sering kali dibuat berlebihan demi mengejar sensasi—diproduksi secara masif demi mendulang angka penonton.

Parahnya lagi, para penipu digital ikut bergerak cepat. Kode QR donasi bodong bertebaran, memanfaatkan empati publik yang berniat mengulurkan bantuan bagi para korban. Bagi keluarga yang tengah berduka atau warga yang cemas mencari keberadaan kerabatnya, kepungan narasi palsu ini bak menyiram garam di atas luka terbuka. Tidak hanya memperkeruh suasana, hoaks seperti ini menguras energi dan memecah fokus tim penyelamat di lapangan.

Algoritma Lambat, Penipu Bergerak Cepat

Geram dengan respons lambat raksasa teknologi, Pemerintah Nepal mengambil langkah tegas. Pihak berwenang menggelar pertemuan mendesak dengan perwakilan Meta dan TikTok yang berbasis di Nepal pada Jumat (28/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Koordinator Satuan Tugas Pemerintah untuk Regulasi Media Sosial, Bijay Kumar Roy, menegaskan bahwa platform digital tidak bisa lagi berlindung di balik alasan prosedur teknis. Selama ini, Meta dan TikTok membutuhkan waktu 24 hingga 48 jam hanya untuk menanggapi satu laporan konten bermasalah.

Dalam situasi darurat bencana, jeda waktu dua hari sangat fatal. Dalam hitungan jam, satu kode QR palsu bisa menguras kantong puluhan penderma berniat baik, dan satu video AI bisa memicu kepanikan massal di tengah warga yang sedang panik.

Desakan agar Raksasa Teknologi Pasang Badan

Pemerintah Nepal mendesak agar algoritma Meta dan TikTok dirombak agar lebih proaktif. Platform media sosial dituntut tidak sekadar menunggu laporan dari pengguna, melainkan wajib mendeteksi dan memblokir secara otomatis konten palsu, grafis mengerikan, serta manipulasi AI sejak pertama kali diunggah.

Hingga saat ini, proses evakuasi dan pencarian korban di wilayah terdampak masih terus berlangsung, baik di Nepal maupun di Pelabuhan Gyirong, Tibet. Namun, perjuangan Nepal kini berlipat ganda: memulihkan jalur darat yang lumpuh sekaligus membersihkan ruang digital dari para benalu yang memanfaatkan duka demi keuntungan pribadi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today