Doa yang dibaca saat cuaca panas. (Foto: Freepik)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Epidemiolog sekaligus pakar Global Health Security dari Griffith University dan Universitas YARSI, Dicky Budiman mengatakan isu kesehatan mental juga menjadi salah satu yang terdampak pada cuaca panas ekstrem yang kini juga tengah melanda Indonesia.
“Bukti terbaru menunjukkan hubungan antara paparan panas ekstrem dan peningkatan stress psikologis, gangguan tidur, depresi hingga penurunan produktivitas,” kata Dicky kepada inilah.com saat dihubungi di Jakarta, dikutip Minggu (2/8/2026).
Selain itu, penyakit menular seperti demam berdarah (DBD) menurutnya tidak mudah terjadi pada cuaca panas, karena dipengaruhi berbagai faktor seperti kombinasi suhu, kelembaban, curah hujan, perilaku manusia, sanitasi, kepadatan penduduk, juga pengendalian vektor.
Memang, lanjut dia, suhu yang semakin hangat dapat mempercepat perkembangan larva Aedes,
metabolismenya nyamuk, juga frekuensi menggigit dari nyamuk, termasuk replikasi virus dengue di tubuh nyamuk. Namun, apabila suhu menjadi terlalu tinggi kelangsungan hidup nyamuk justru bisa menurun
“Kalau dalam konteks Indonesia sering kali setelah hujan itu banyak genangan, kemudian beberapa minggu kemudian cuaca hangat. Di sinilah populasi nyamuk Aedes itu meningkat, kasus DBD meningkat. Karena itu biasanya ada time lag sekitar 2 sampai 8 minggu antara perubahan cuaca dan lonjakan kasus demam berdarah. Walaupun ini juga bervariasi antar wilayah ya,” tuturnya.
Dicky juga menjelaskan bahwa penyakit katastropik seperti ginjal dapat berisiko terjadi saat panas ekstrem, karena adanya dehidrasi atau akut kidney injury dan penyakit jantung serta stroke karena perubahan hemodinamik dan dehidrasi, atau penyakit gangguan pernapasan karena panas yang sering disertai ozon meningkat, polusi udara dan asap kendaraan yang akhirnya memperburuk asma.
“Penyakit akibat makanan juga bisa meningkat karena cuaca panas ini, terutama temperatur tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri, seperti salmonella sehingga meningkatkan risiko keracunan makanan,” ungkap Dicky.
Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa cuaca panas ekstrem tidak hanya mempengaruhi manusia tetapi juga hewan dan lingkungan. Peningkatan suhu itu, kata Dicky mampu mengubah distribusi vektor seperti Aedes dan memengaruhi ketersediaan air, kualitas pangan, juga meningkatkan risiko penyakit zoonosis dari hewan.
Menurutnya, dampak cuaca panas ekstrem melampaui sektor kesehatan yakni mencakup ketahanan pangan, keamanan air, produktivitas tenaga kerja, stabilitas ekonomi dan ketahanan sistem kesehatan.
“Karena itu respons itu tidak cukup berupa atau hanya penanganan klinis, tetapi memerlukan kebijakan lintas sektor seperti tata kota yang adaptif terhadap panas, sistem peringatan diri terkait cuaca panas juga perlindungan pekerja, pengendalian vektor baru dan mitigasi perubahan lingkungan,” tegasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












