Mehdi Taremi kritik keras AS karena dinilai sengaja menciptakan tensi politik dan merusak atmosfer olahraga di turnamen akbar Piala Dunia 2026. (Foto: Getty images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Penyerang bintang Tim Nasional Iran, Mehdi Taremi, melontarkan kritik menohok kepada Pemerintah Amerika Serikat. Striker Inter Milan tersebut menilai rentetan kebijakan diskriminatif AS—mulai dari penolakan visa staf tim, pendeportasian wasit Somalia, hingga pembatalan sepihak tiket bagi suporter Iran—telah merusak citra turnamen dan menciptakan atmosfer ketegangan yang luar biasa di Piala Dunia 2026.
Saat ini, skuad Team Melli terpaksa mengungsi dan mendirikan kamp latihan di kota perbatasan Tijuana, Meksiko, setelah rencana awal mereka berlatih di Tucson, Arizona, berantakan akibat masalah birokrasi AS.
“Saya sudah bermain di tiga edisi Piala Dunia. Biasanya, begitu Anda turun dari pesawat di negara tuan rumah, ada atmosfer unik yang ramah dan inklusif,” ujar Taremi kepada ESPN. “Sayangnya, saya tidak merasakan hal itu sama sekali sekarang. Ada ketegangan yang sangat besar di Piala Dunia kali ini akibat aksi-aksi penolakan [visa] tersebut.”
Sanksi Ekonomi AS Sasar Tiket Fans Iran
Kerumitan yang dihadapi Iran tidak berhenti pada pencekalan 14 staf vital mereka. Federasi Sepak Bola Iran mengonfirmasi bahwa FIFA telah mencabut alokasi tiket sebesar 8 persen dari kapasitas stadion yang seharusnya menjadi hak pendukung Team Melli.
Berdasarkan laporan internal, pembatalan ini terjadi karena sanksi ekonomi berlapis yang dijatuhkan AS melalui Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC). Aturan tersebut melarang entitas berbasis di AS memproses transaksi keuangan yang melibatkan penduduk di dalam wilayah Iran.
Saat ini, FIFA dilaporkan tengah memutar otak untuk menjual kembali alokasi tiket tersebut khusus bagi komunitas ekspatriat Iran yang tinggal di luar negeri agar kursi penonton tidak kosong.
Logistik Rumit dan Beban Mental akibat Perang
Fokus taktis anak asuh Amir Ghalenoei benar-benar diuji ke titik nadir. Selain urusan politik luar negeri, para pemain harus bertanding di bawah bayang-bayang kecemuk perang di tanah air mereka yang meletus sejak 28 Februari lalu, yang bahkan menghentikan total kompetisi liga domestik mereka.
“Sangat sulit bagi kami semua, saya jujur. Anda harus terus memantau kondisi keluarga dan orang-orang tercinta di rumah, dan itu jelas memengaruhi kondisi tim,” curhat penyerang Alireza Jahanbakhsh.
Akibat status visa yang sensitif, Timnas Iran juga harus menjalani jadwal logistik yang melelahkan. Mereka tidak diizinkan menetap lama di wilayah AS. Untuk laga pembuka melawan Selandia Baru, mereka dipaksa terbang ke Los Angeles pada 14 Juni, bertanding pada 15 Juni, dan harus langsung angkat kaki meninggalkan wilayah AS keesokan harinya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














